ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Ini Kawasan Konservasi di Sultra Jadi Sasaran Perambah

Suaka Margasatwa air terjun Tirta Rimba. Foto : Dok Sinar Harapan.
KENDARI, BL - Aktivitas perambahan kawasan hutan konservasi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sudah berada pada tingkat memprihatinkan.

Humas BKSDA Sultra La Mada di Kendari, mengatakan, sasaran perambahan kawasan hutan tersebut terdapat pada empat kabupaten dan kota di Sultra. "Tim BKSDA bersama institusi terkait terus mengidentifikasi adanya oknum yang menyerobot kawasan konservasi. Sangat mungkin perambahan terjadi di luar empat daerah tersebut," kata La Mada (2/10).

Empat daerah kabupaten/kota yang menjadi sasaran perambahan kawasan konservasi itu antara laian Kota Bau Bau, Kabupaten Konawe Selatan, Buton Utara dan Kolaka.

Suaka Margasatwa air terjun Tirta Rimba di Kota Bau Bau dirambah sekitar 200 kepala keluarga dengan mendirikan rumah dan sebagian menanam tanaman jangka panjang. Selain Suaka Margasatwa Butur Utara di Desa Labuan Peropa, Kecamatan Wakorumba Utara, Kabupaten Buton Utara juga telah dirambah untuk lahan pertanian seluas 19 hektare.

Sementara Suaka Margasatwa Mangolo di Desa Ulunggolaka, Kecamatan Latambaga, Kabupaten Kolaka dirambah untuk pemanfaatan lahan perkebunan sekitar 23 hektare. Selain itu Suaka Margasatwa Tanjung Batikolo di Desa Kalokalo, Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan tidak luput dari perambahan seluas 100 hektare.

"Umumnya perambah kawasan konservasi ini memperoleh lahan dengan cara membeli dari orang tidak bertanggungjawab dan berspekulasi membuka lahan untuk perkebunan," kata La Mada.  BKSDA, kata dia, sudah melakukan langkah-langkah persuasif dengan perambah agar meninggalkan kawasan tersebut atas kesadaran sendiri. (Ant)

Kalteng Membara, Ada 1.041 Hospot

Ilustrasi kebakaran hutan. Foto : Ist.
PALANGKARAYA, BL- Hotspot di Kalimantan makin meningkat. Berdasarkan pantauan satelit Modis pada Kamis (25-9-2014) pukul 15.45 Wib hotspot di Kalteng 1.041, Kalsel 261, Kaltim 189, dan Kalbar 40. Saat bersamaan, wilayah Sumatera tidak terlintasi oleh satelit sehingga tidak terpantau hotspotnya. 

Namun berdasarkan pantauan pada Kamis pagi pukul 07.00 Wib, terdeteksi hotspot di Sumsel 223, Lampung 26, Jambi 5, dan Riau 2. Kondisi cuaca kian kering sehingga makin mudah terbakar.
 
Sesuai pola hotspot tahun 2006-2014, pola hotspot di Sumatera dominan terjadi pada pertengahan Juni – Oktober (5 bulan), sedangkan di Kalimantan  (3 bulan) pada Agustus – Oktober. Artinya hingga akhir Oktober 2014, hotspot masih tetap tinggi.
 
Menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), berbagai upaya terus dilakukan untuk memadamkan titik api, baik oleh satgas darat, udara, penegakan hukum, dan pelayanan kesehatan masyarakat. Total luas lahan terbakar 11.801 ha sedangkan luas yang berhasil dipadamkan oleh tim Manggala Agni 4.051 ha. 

BNPB telah mengerahkan 2.200 personil TNI, dan 1.050 personil Polri untuk membantu BPBD, Manggala Agni, dan lainnya dalam pemadaman di darat. Satgas udara, BNPB bersama BPBD saat ini masih melakukan water bombing dari udara dan modifikasi cuaca di Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, dan Kalteng. 

 Di Riau ada Helicopter Bolco (1 unit), Kamov (1 unit), di Sumsel dengan Helicopter Bolco (1 unit) , MI-8 (1 unit), Sikorsky (1 unit), di Kalbar dengan Helicopter Bolco (1 unit), di Kalteng dengan Helicopter Bolco (1 unit), MI-8 (2 unit),dan  Air Tractor (1 unit dari Kemenhut). GMG (Ground Mist  Generator) dipasang di bandara Pekanbaru ( 6 unit), Palembang (6 unit), Pontianak (4 unit), dan Palangkaraya (6 unit) untuk menangkap partikel asap agar jarak pandang di bandara tetap jauh sehingga penerbangan tetap berjalan. Sedangkan untuk modifikasi cuaca dengan pesawat Hercules TNI-AU di Sumsel.
 

Presiden SBY Pimpin Pleno KTT Iklim



Presiden SBY dan sekjen PBB Ban Ki-moon saat berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. Foto : dok fb SBY.

NEW YORK, BL- NEW YORK, TERKINI.CO- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  (SBY) dipercaya memimpin sidang pleno KTT Iklim PBB (UN Climate Summit) 2014 di New York hari ini.

Selain itu SBY juga dijadwalkan menghadiri Open Government Partnership High Level Event (OGP-HLE). Indonesia saat ini adalah ketua bersama OGP dengan Meksiko, beserta dua organisasi masyarakat madani, yakni Twaweze dan Revenue Watch Institute. Menurut laman resmi presidenri.go.id, Presiden SBY juga diundang untuk menyampaikan pidato di hadapan Taruna Akademi Militer AS di Westpoint, serta dalam forum Global Green Growth Institute.

Laman Kantor Penerangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIC) di Jakarta, unic-jakarta.org dan indonesiacop19.com menjelaskan,  ide KTT Iklim digagas oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon sebagai rangkaian acara Sidang Umum PBB pada 23 September di New York, Amerika Serikat. Konferensi tersebut bertujuan untuk mendorong terciptanya kesepakatan perubahan iklim pasca 2015.

Sekjen PBB menginginkan memobilisasi komitmen politik pada tingkat kepala negara dan pemerintahan, melihat lambatnya kemajuan konferensi perubahan iklim UNFCCC yang setiap tahun diselenggarakan.

Padahal perubahan iklim sedang terjadi sekarang ini dan memiliki konsekuensi sangat nyata bagi kehidupan masyarakat. Hal tersebut mengganggu ekonomi nasional, membebani dengan sangat merugikan kita saat ini, dan bahkan lebih besar lagi di waktu yang akan datang.

KTT Iklim 2014 ini diharapkan dapat memberikan solusi , dimana negara-negara diharapkan untuk mengumumkan aksi kongkrit dan berani terhadap upaya yang akan mereka lakukan, untuk  mencegah agar suhu bumi tidak meningkat lebih dari 2 derajat celcius.

Sekjen PBB menghimbau para pemimpin dunia, mulai dari pemerintah, penyandang dana, kelompok bisnis, dan masyarakat sipil untuk diundang ke KTT tersebut, memberikan pernyataan yang berani dan aksi yang tegas untuk mengurangi emisi, memperkuat ketahanan iklim, dan memobilisasi kemauan politik untuk kesepakatan global yang bermakna bagi perbaikan iklim dunia pada 2015 (UNFCCC).

KTT Iklim ini diselenggarakan setahun sebelum kesepakatan iklim global melalui UNFCCC akan terbentuk pada tahun 2015.  Dengan mengkatalisasi tindakan sebelum konferensi PBB  Perubahan Iklim yang akan diselenggarakan pada 2015 di Paris, Sekjen PBB bermaksud membangun landasan yang kokoh, agar terbentuknya hasil negosiasi yang sukses yang dapat menjamin kemajuan bagi upaya pengurangan emisi dan memperkuat strategi adaptasi. (Wan).

Pawai Iklim Massal

Kampanye penyelamatan bumi dari kerusakan akibat perubahan iklim,  aksi ini di lakukan di depan kapal legendaris lingkungan The Rainbow Warrior yang sementara berlabuh di Turki.#PeoplesClimate.  Foto : Greenpeace.
   
Aksi aktivis lingkungan yang tergabung dalam #PeopleClimate di berbagai belahan dunia seperti di Australia, Kiribati, India dan Indonesia.
Pada tanggal 23 September 2014, kepala negara dari seluruh dunia kembali mengadakan pertemuan di New York, Amerika Serikat, untuk membahas perubahan iklim, pertemuan itu dinamakan KTT Iklim. 

Sehari sebelum pertemuan,
para aktivis lingkungan melakukan aksi serentak pawai iklim #PeopleClimat di hampir 150 negara di dunia termasuk di Jakarta, Indonesia.  "Aksi ini dilakukan serentak di hampir 150 negara di dunia. Ini peringatan internasional," kata koordinator aksi #PeopleClimat di Jakarta, Suratno Kurniawan.

Mereka mendesak agar para pemimpin dunia segera melakukan aksi penyelamatan bumi dari kerusakan akibat perubahan iklim. "Tuntutan kami adalah untuk Aksi, Bukan Kata-kata: mengambil tindakan yang diperlukan untuk menciptakan dunia dengan perekonomian yang bekerja untuk manusia dan planet ini - sekarang. Singkatnya, kita ingin dunia yang aman dari kerusakan akibat perubahan iklim.," Itulah tuntutan mereka para aktivis lingkungan yang dishare melalui situs peoplesclimate.org

Seluruh foto aksi pawai iklim massal diberbagai belahan dunia bisa disaksikan di laman  peoplesclimate.org

Cagar Alam Bukit Tangkiling Terbakar

 Cagar Alam Bukit Tangkiling tak luput dari kobaran api. Foto : Kalteng Pos.

PALANGKA RAYA, BL – Kebakaran lahan dan hutan terjadi diberbagai daerah di Indonesia, bahkan sudah merampah ke wilayah konservasi. Laporan terbaru mengungkapkan Cagar Alam Bukit Tangkiling, Palangka Raya, Kalimantan Tengah semalam terbakar.

Karena kondisi medan yang berada di perbukitan dan jauh dari sumber air, tim Manggala Agni  seperti dikutip laman kaltengpos.web.id, mengaku kesulitan untuk melakukan pemadaman. Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng terpaksa hanya mengandalkan pemadaman melalui udara dengan menggunakan pesawat water booming Air Tractor yang baru didatangkan.

“Luas lahan yang terbakar sementara belum bisa kita perkirakan. Karena medannya sulit, terpaksa upaya pemadaman memaksimalkan pesawat water booming saja,” kata Andreas Dody, petugas Bidang Data Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan BKSD Kalteng, tadi malam.

Hingga berita ini ditulis, belum diketahui penyebab kebakaran areal konservasi yang menjadi kebangaan masyarakat Palangka Raya itu. (Nto/KP).

Laju Sedimentasi Rusak Kelestarian Teluk Kendari


Teluk kendari yang terekam dalam foto udara. Foto: Yoshasrul
KENDARI, BL-Kondisi Teluk Kendari dalam fase mengkhawatirkan karena itu butuh perhatian serius semua pihak untuk menyelamatkan aset terbesar ekologi di Kota Kendari tersebut.  Pakar ekologi dari Universitas Haluoleo Kendari, DR Ir La Ode Alwi MSc mengatakan, besarnya sedimentasi di dasar Teluk Kendari telah merusak kelestarian lingkungan ekosistem tersebut.

"Jika laju sedimentasi di dalam dasar Teluk Kendari tidak segera dihentikan, maka bisa berubah menjadi daratan luas yang membahayakan kelangsungan ekosistem di sana," kata DR La Ode Alwi nya pada diskusi publik pengelolaan sumber daya alam  yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari,di salah satu hotel di Kendari, Sabtu (20/9) seperti dilkutip Sultranews.com (Situs Jejaring Sindikasi Beritalingkungan.com).

Alwi mengungkapkan bahwa timbunan sedimentasi di Teluk Kendari sudah mencapai kurang lebih 90 juta ton. Dan penyumbang terbesar dari sedimen tersebut, terdiri dari tiga sumber utama, yakni luapan lumpur dari 16 sungai, aktifitas pengolahan di Gunung Nipa-nipa dan Nangananga, serta aktivitas masyarakat Kota Kendari terutama dalam memanfaatkan kawasan di sekitar Teluk Kendari sebagai lokasi membangun rumah dan sejumlah gedung. Selain itu sumbangsiuh kerusakan dari daerah tetangga seperti Konawe dan Konawe Selatan turut menyumbang laju sedimentasi teluk kendari.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Sultra atau pemerintah di tiga wilayah kabupaten/kota masing-masing Kota Kendari, Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan perlu membuat peraturan daerah (perda) bersama untuk menjaga dan menyelamatkan Teluk Kendari dari ancaman pendangkalan.

"Peraturan daerah bersama tiga daerah otonom tersebut sangat diperlukan karena Daerah Aliran Sungai Wanggu sebagai penyumbang sedimentasi terbesar di dalam Teluk Kendari meliputi wilayah ketiga daerah otonom itu,"kata La Ode Alwi. (Aji/Yos)

Itu Jalan atau Kali?



Savina, korban banjir di Manokwari. Foto Aditya.
Oleh: Patrix Barumbun Tandirerung

HERMAN Toding Rante, Warga Kelurahan Wosi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Jumat (19/9) lalu menampilkan foto kasurnya yang basah melalui akun media sosial Facebook.  

Herman adalah satu dari sekian banyak Warga Kelurahan Wosi yang menerima dampak banjir pada hari itu setelah hujan memaku kota Manokwari selama kurang lebih 5 jam.

Selain kasurnya, pemuda berdarah Toraja ini menampilkan sejumlah foto ruas Jalan Trikora Wosi yang terlihat seperti kali. Ruas jalan protokol ini tergenang air kecokelatan yang meluap dari saluran drainase yang buntu. Volume air terus bertambah hingga setinggi betis orang dewasa karena hujan tak jeda memaku kota.

“Itu jalan kah, kali? (itu jalan atau kali?,red)” komentar salah satu pengguna facebooker soal foto ini dalam dialek Melayu-Papua. Komentator yang lain menimpali dengan jenaka, “Wah, ini bisa panggayu (mengayuh perahu,red) hehehe... ”. Lebih kocak lagi komentar ini, “Tunggu sudah kapal putih (kapal penumpang milik PT Pelni,red) sandar!”

Selain paparan hujan, Kelurahan Wosi mendapat volume air kiriman yang cukup besar dari arah Kampung Suaven, sebuah kawasan pemukiman yang letaknya bersebelahan dan lebih tinggi dibanding Wosi.

Di tempat berbeda, tepatnya di Kampung Jawa, warga berjibaku. Baik saat hujan mulai mengguyur maupun sesudah terpapar banjir. Seperti Savina. Tahu bahwa kawasan tempat tinggalnya rentan banjir saat hujan deras tiba, ia memilih menyingkirkan perabotan rumah tangga ke tempat yang lebih tinggi.

Savina adalah penduduk yang sudah lama bermukim di Kampung Jawa. Apa yang dipikirkan Savina menemui kenyataan. Hujan yang tak henti sejak siang hingga sore hari memicu banjir hingga air setinggi lutut orang dewasa.
Banjir di Manokwari, Papua Barat. Foto :  Herman Toding Rante.

Luapan dan genangan air di Jalan Trikora maupun di Kampung Jawa, Manokwari Barat, sebenarnya diperparah oleh malfungsi sistem drainase. Ada juga karena pembangunan yang serampangan dan perilaku warga. Misalnya di persimpangan Haji Bauw. Air meluap ke ruas jalan sebab material trotoar yang dibangun menyumbat drainase. Di tempat lain, aliran terhalang timbunan sampah.

Sementara itu ratusan warga di Kampung Tanimbar dan Lembah Hijau  yang berjarak sekitar 1 Km dari Kampung Jawa juga panik saat hujan belum jeda menjelang magrib. Pasalnya, volume air sungai yang mengalir di sekitar kawasan ini semakin besar dan terlihat keruh.

Mereka punya pengalaman buruk. Beberapa bulan lalu, ratusan warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam. Beruntung sebab peristiwa serupa tak terulang.

Distrik Manokwari Barat adalah ibukota Kabupaten Manokwari. Sementara Kabupaten Manokwari adalah ibukota provinsi Papua Barat. Warganya beragam, dari berbagai etnis dan suku bangsa. Pembangunan terus digenjot sejak Manokwari menjadi ibukota Papua Barat.

Tingginya kebutuhan lahan terutama untuk pemukiman juga membuat kawasan konservasi yang terletak di pinggiran kota semisal Hutan Lindung Wosi – Rendani dan Gunung Meja diterabas.  Hutan lindung wosi-rendani yang dulunya seluas  300 hektar lebih misalnya, kini susut menjadi 125 hektar.

Banjir yang merendam Kampung Tanimbar juga diduga terjadi karena maraknya aktivitas pembangunan di sempadan sungai yang mengalir di sela  kawasan hutan lindung. Sementara volume sampah rumah tangga yang semakin tinggi belum diimbangi oleh daya dukung armada kebersihan milik pemerintah.

Kajian yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah bersama Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manokwari menunjukkan bahwa setiap hari  volume sampah di dalam dan sekitar kota Manokwari sebanyak 177 m3 hingga 200 M3. Pemerintah hanya mampu mengangkut 155 M3 diantaranya ke tempat pembuangan akhir.  Artinya setiap hari terdapat tumpukan 22 m3 hingga 45M3 sampah di wilayah perkotaan. 

Wilayah lain di luar Kota Manokwari semisal dataran Warmare dan Masni yang berjarak puluhan kilometer dari kota Manokwari juga kerap terpapar banjir. Senin 18 Agustus  lalu misalnya air merendam sejumlah kampung distrik Masni setelah kawasan ini terpapar hujan deras sekitar 4 jam.    

Kampung Bowi Subur mendapat dampak paling parah. Banjir merendam jalan raya setinggi 1 meter. Pada sawah yang sedang masuk masa panen juga terendam. Akan halnya puluhan hektar kolam ikan yang membuat isinya hanyut.  Masni sangat rentan terpapar bencana banjir sebab dikepung sungai besar seperti sungai Modan Kenyum, Modan Masni dan sejumlah kali kecil lainnya.

Sebelum itu, sedikitnya 350 warga dari 95 kepala keluarga di Kampung Mansaburi dan 86 warga dari 23 KK di kampung Wariori, Satuan pemukiman VIII Distrik Masni terpaksa mengungsi dan berdesak-desakan di balai kampung. Mereka menyelematkan diri setelah meluapnya sungai Wariori. 95 rumah rusak, 1 ekor sapi hilang dan 2 rumah ibadah tergenang.

Meski sering didera banjir dan masih berkutat dengan masalah sampah, Manokwari mendapat piala Adipura pada tahun ini. Penghargaan itu menyusul prestasi lainnya yakni penghargaan ‘Langit Biru’ dari kementerian lingkungan hidup. Manokwari lewat penghargaan ini dinilai sebagai kota dengan udara terbersih pada tahun 2012. 
Bupati Manokwari, Bastian Salabai menerima trophi adipura kategori kota kecil pada peringatan hari lingkungan hidup se-dunia, 5 Juni 2014 langsung dari tangan wakil presiden RI Boediono. Penyerahannya di istana Wapres, Jakarta. Tiba di Manokwari, trophi ini diarak. Dalam beberapa kesempatan bupati mengatakan berkomitmen mendorong agenda pembangunan yang lebih berperspektif kebencanaan.

Salabai sadar bahwa Manokwari yang terletak di wilayah kepala burung Tanah Papua ini merupakan salah satu daerah dengan kerentanan bencana yang tinggi di Papua Barat. Ancaman utamanya memang gempa bumi dan tsunami. Tapi seiring perkembangan daerah, banjir dan longsor serta kebakaran menjadi bencana  lain yang sangat potensial terjadi.

Sebuah draft Raperda mengenai penanggulangan resiko bencana sudah digodok oleh kelompok masyarakat sipil bersama pemerintah lokal. Sayangnya pembahasan raperda ini menjadi perda terhambat karena konsentrasi anggota DPRD Manokwari periode 2009-2014 disedot oleh agenda Pemilu legislatif. Raperda ini diharapkan dibahas oleh anggota DPRD Manokwari periode 2014-2019 yang baru dilantik.

Desain rencana tata ruang yang kurang memperhatikan aspek ekologi lingkungan juga dilihat sebagai salah satu hal yang menambah resiko daerah dari paparan bencana.  Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat, Derek Ampnir mengatakan penataan ruang yang salah akan memicu terjadinya bencana.  

“Di satu sisi, rencana tataruang wilayah juga harus berbasis dan mengarusutamakan pengurangan resiko bencana,” katanya.

Kini hujan mulai mengguyur Papua Barat.  Derek lewat media massa beberapa waktu lalu meminta masyarakat agar waspada. Pasalnya musim hujan bisa memicu banjir.  Kabupaten yang paling dikhawatirkan terpapar  bencana hidrolometrologi ini adalah Manokwari, Teluk Wondama, Kabupaten Sorong, Teluk Bintuni, Kota Sorong.

BPBD akan mendorong terus agar daerah dapat mengurangi resiko bencana.  "Setiap tahun kami selalu mengeluarkan imbauan siaga bencana. Kami harap kabupaten/kota selalu berkoordinasi dan menginformasikan kondisi alam di daerah masing -masing," ucapnya. (*)

Status Sumsel Ditetapkan Siaga Darurat Bencana Asap

Ilustrasi kebakaran hutan di Riau. Foto : Ist.
PALEMBANG, BL- Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan kini masih berlangsung, bahkan Gubernur Sumsel, Alex Nurdin telah menetapkan status siaga darurat bencana.

Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi pengendalian asap akibat kebakaran hutan dan lahan digelar di Palembang pada Jumat (19/9/2014). Rapat dipimpin Sekda Prov Sumsel yang dihadiri Kepala BNPB, K/L, TNI, Polri, Pemda dan lainnya. Siaga darurat bencana asap telah ditetapkan oleh Gubernur Sumsel.

Diperkirakan kemarau di Sumsel hingga awal Oktober 2014. Pola puncak hotspot sesuai historisnya di Sumsel berlangsung hingga akhir September sehingga dikhawatirkan bencana asap dapat meluas jika tidak diantisipasi dengan sungguh-sungguh. Apalagi akan diselenggarakan MTQ Internasional yang diikuti 50 negara di Palembang pada 23-27 September 2014 dapat terganggu oleh asap.

Pemda Sumsel telah meminta bantuan kepada BNPB untuk menambah kekuatan helicopter pemboman air dan operasi hujan buatan. Saat ini sudah ada 1 heli Bolco dan 1 heli MI-8 sejak Juli lalu. 

Kepala BNPB, Syamsul Maarif, telah memutuskan bahwa hujan buatan akan dimulai Senin  (22/9/2014) dengan menggunakan pesawat Hercules TNI AU. BPPT akan melakukan operasi hujan buatan hingga Oktober nanti sesuai kebutuhan. Operasi udara dengan pemboman air juga akan diperkuat dengan mendatangkan 2 helicopter Kamov dari Johor Baru yang akan tiba di Palembang 29-9-2014. Dua unit pesawat aphibi "Air Tractor" dari Australia yang diperkirakan akan tiba di Palembang 30-9-2014. Satu unit heli Kamov dari Riau akan dipindahkan ke Palembang jika diperlukan. Ground Mist Generator juga ditambah 6 unit di Palembang. Pemda Sumsel tetap sebagai pemegang komando.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam keterangan tertulisnya yang diterima Beritalingkungan.com menghimbau,  TNI dan Polri agar meningkatkan patroli dan penegakan hukum.

Ditambahkan, saat ini ada 2 perusahaan yang sedang diproses hukum. Pencegahan lebih efektif daripada pemadaman. Jika sudah terbakar sulit dipadamkan karena lahan gambut. BNPB telah memberikan bantuan Rp 12,2 milyar kepada BPBD Sumsel untuk penangana karlahut, dan menyiapkan 16 milyar tambahan sesuai kebutuhan yang ada.

BNPB Galakkan Operasi Hujan Buatan Untuk Padamkan Titik Api

Operasi hujan buatan untuk memadamkan titik api (hospot)
JAKARTA, BL- Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) gelar operasi pemadaman titik api di Sumatera dan Kalimantan

Operasi tersebut telah mengurangi jumlah hotspot (titik api) dibandingkan dengan sebelumnya.  Berdasarkan pantauan satelit NOAA-18 pada Kamis (18-9-2014) pukul 19.00 Wib sebaran hotspot terdapat di Sultra 43, Sulteng 19, Kaltim 17, Kalteng 15, Sulsel 11, Sumsel 8, Sulut 7, Kalbar 7, Gorontalo 6, Kaltara 5, Sumut 3, Jambi 2,  Lampung 2, Kalsel 2, dan Riau 1.

Sedangkan pantauan dengan satelit Modis yang memiliki resolusi lebih detil pada Jumat (19-9-2014) pukul 11.45 Wib, hotspot tersebar di Kalbar 30, Kalsel 35, Kalteng 194, dan Kaltim 170. Hotspot di Sumatera tidak ada data karena tidak terlintasi oleh satelit Modis. Sebaran asap juga berkurang dibandingkan dengan seminggu terakhir.

Untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan maka BNPB dan BPPT melakukan hujan buatan (modifikasi cuaca) dengan satu pesawat Hercules TNI AU di Kalimantan Tengah sejak Kamis (18-9-2014).

Kepala BNPB, Syamsul Maarif, telah meminta jajaran BNPB untuk menambah pesawat untuk hujan buatan dan pemboman air. Apalagi ancaman bencana asap akan makin meningkat hingga Oktober nanti. Semua potensi nasional diharapkan bisa berkolaborasi membantu pemda mengatasi kebakaran hutan lahan di Sumatera dan Kalimantan. TNI, Polri, Manggala Agni, Brigade Kebakaran Lahan dan Kebun Kementan, Kemenkes dan lainnya meningkatkan perannya mengatasi karlahut.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menambahkan, pihaknya akan menambah armada pemboman air yaitu 1 unit helicopter Kamov, 2 unit Sikorsky, 1 unit MI-18, dan pesawat bomber. Saat ini 9 helicopter telah disebar ke Riau, Sumsel, Kalbar, dan Kalteng. Bahkan di Riau operasi hujan buatan dan pemboman air dilakukan sejak April hingga saat ini.

Tips Menjadi Konsumen Organik

Sayur organik. Foto : Bisnis.com.
  • Read Label First. Perhatikan kandungan, tanggal kadaluarsa, perizinan, sertifikasi atau penjamin yang dapat dipercaya.
  • Tentukan dan kenali petani/penjamin yang dapat dipercaya
  •  Pilih produk yang sedang musim saja
  •  Cuci bersih (gunakan cuka masak)
  •  Belilah produk organik lokal
  •  Produk organik lebih tahan lama dibanding produk non-organik
  •  Jika produk organik yang dibeli tampak layu, segera siram/rendam dalam air dingin beberapa saat, agar tampak segar kembali.
  • Simpan sayur/buah organik dengan menggunakan kertas kue atau di dalam kemasan alumunium bekasChiki, misalnya.
  • Pengolahan produk organik sebaiknya tidak dimasak dengan menggunakan air PAM karena mengandung klorin. Gunakan air dengan water purifier atau air kemasan.
  • Jika tidak bisa 100% menjadi organik, paling tidak bisa dimulai dari konsumsi beras organik. Karena masih sulit menemukan masakan organik siap saji di luar rumah.
  • Bisa mencoba melakukan penanaman sayur/ buah organik sendiri di halaman rumah

Sumber : greenlifestyle.or.id

Kekeringan Landa Konawe Selatan

Ilustrasi kekeringan. Foto : kanalsatu.com
PALANGGA SELATAN, BL-Sejumlah kawasan di Konawe Selatan dilanda kekeringan. Sebagian besar lahan pertanian tampak kerontang tidak dapat diolah. Di beberapa titik, kekeringan tersebut berdampak pada buruknya tanaman warga dan mengeringnya air sumur pada beberapa tempat.

Berdasarkan pantauan ,  kekeringan terjadi di sebagian Kecamatan Palangga dan Kecamatan Palangga selatan. Di sini, tanaman pertanian warga tampak menguning akibat tidak ada pasokan air.

Sebanyak tiga desa di Konawe Selatan (Konsel), yakni× Palangga yang meliputi desa Watumerembe, Eewa, dan× Onembute kesulitan mendapatkan air bersih.

"Sudah lama pak, kami kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan memasak, mandi dan lain-lain," ujar salah× Usman, warga Onembute (18/9).

Dijelaskan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih terkadang warga desa menampung air hujan dan mengambil air di sungai yang jaraknya sangat jauh.

"Kalau musim hujan, kami bersyukur karena bisa menampung air tapi kalau saat ini musim kemarau terpaksa kami harus mengangkut air dari sungai× Asole yang jaraknya sekitar 6 kilometer dari perkampungan," katanya seperti dilansir Konselnews.com (Situs Sindikasi Beritalingkungan.com).

Ditambahkan, warga desa sudah seringkali membuat sumur di beberapa titik namun tidak pernah menemukan sumber mata air. "Mungkin karena lokasi desa kami berada pada dataran tinggi sehingga sulit menemukan mata air padahal sudah beberapa kali kami mengali sumur tetap saja nihil," tambahnya.

Warga desa berharap Pemerintah Kabupaten Konsel bisa menganggarkan pengadaan air bersih di tiga desa tersebut.

"Sebenarnya kali Asole itu bisa di jadikan sumber air bagi kami, namun jaraknya jauh, kita berharap Pemkab Konsel dapat menganggarkan pengadaan air bersih dengan memanfaatkan sungai tersebut,"ujar Usman.

“Di sini rata-rata petani memanfaatkan air hujan untuk mengairi sawah. Namun beberapa bulan belakangan, curah hujan sangat rendah sehingga lahan menjadi kering,” katanya..

Menurutnya, untung saja, di sini warga tidak terlalu banyak yang melakukan cocok tanam sehingga terhindar dari ancaman kemarau ini. Namun sebagian kecil warga yang melakukan tanam padi terpaksa menerima dampak buruk dari kemarau. Misalnya tanaman mati dan meranggas.

Kekeringan lahan juga tampak terjadi di× Laeya dan Lainea. Menurut Arhadi, tokoh masyarakat setempat, penyebab kekeringan lahan di kawasannya itu karena belum berfungsinya irigasi dengan baik.

Kawasan lain yang juga mengalami kekeringan Andoolo, Landono dan× Moramo. Di tiga kecamatan tersebut, kekeringan lahan tidak hanya mengakibatkan terganggunya usaha pertanian akan tetapi juga mengakibatkan keringnya sumur warga.

Di kawasan Andoolo, sejumlah sumur warga terpantau telah kering semenjak tiga minggu terakhir. Warga yang sumurnya mengalami kekeringan terpaksa menumpang di sumur tetangga lainnya yang masih ada air.

Di Landono, warga yang sumurnya kering kembali memanfaatkan air sungai untuk berbagai keperluan rumah tangga, meskipun air sungai sudah menyusut dari biasanya. Untuk mensiasati agar air sungai tidak terlalu kumuh, warga turun ke sungai setalah subuh atau malam hari.

Terkait kekeringan lahan di Landono, dinas terkait belum dapaat memberikan keterangan. (Yos Hasrul)

Top