Cagar Alam Gunung Arfak harus dipertahankan

Bocah Papua, dengan latar Penggunungan Arfak. Foto : Buletin Kepala Burung
MANOKWARI, BL- Pemerintah Kabupaten Manokwari dan Provinsi Papua Barat harus menjamin dipertahankannya status dan fungsi cagar alam pegunungan Arfak sebagai kawasan konservasi menyusul rencana pemekaran Kabupaten Pegunungan Arfak.
Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan Masyarakat dan Konservasi Sumberdaya Alam (PERDU), Mujianto, Selasa (21/7) menyebut, jaminan ini penting sebab dikuatirkan pelebaran kota dan pembangunan infrastruktur diarahkan ke kawasan ini. “Yang paling penting adalah bagaimana mempertahankan fungsi kawasan ini. Keasliannya harus dijaga. Soal kemungkinan masuknya Investor, itu pasti ada, walau daerah ini baru,”kata Muji- sapaan akrab Mujianto kepada jurnalis situs beritalingkungan di Manokwari.

Menurut Muji, percepatan perkembangan wilayah kepala burung Pulau Papua khususnya Manokwari, menempatkan kawasan dan masyarakat yang hidup di dalamnya terjepit. Pembuatan jalan lingkar, percepatan pemekaran dan perluasan lahan kelapa sawit, menjadi contoh nyata bahwa posisi pegunungan Arfak sangat strategis bagi pengembangan sentra ekonomi daerah.

"Kawasan pegunungan Arfak adalah sumber kehidupan dan inspirasi utama bagi masyarakat suku besar Arfak. Potensi hutan dimanfaatkan secara tradisonal oleh ribuan warga yang bermukim di sekitarnya. Karenanya kelestarian harus tetap dipertahankan,"ujarnya.

Sekedar informasi, penduduk yang menghuni kawasan ini berjumlah 12. 000 jiwa, terdiri dari suku Hatam di didinding utara, Suku Moule dan Meyah di Barat dan Sough di Selatan. Tahun 1992 sebagian besar kawasan Pegunungan Arfak ditetapkan menjadi cagar alam.

Masyarakat yang bermukim pada kawasan ini memiliki nilai dan kearifan budaya Igya Ser Hanjob yang artinya berdiri menjaga batas. Secara filosofis nilai ini mengandung makna bahwa segala yang ada di alam ini (termasuk manusia) memiliki batas. Bilamana batas tersebut dilanggar maka bencana akibatnya.

Nilai ini menjadi landasan hidup masyarakat Arfak sehari – hari. Igya ser Hanjob, mengatur masalah sosial di kalangan masyarakat Arfak dan mengatu pola pengelolaan sumberdaya alam.

Dalam pengelolaan SDA mereka mengenal kawasan Bahamti yaitu wilayah hutan primer yang tak boleh diganggu sama sekali (wilayah perlindungan alam), Nimahamti yakni wilayah yang boleh diambil hasil hutannya secara terbatas, serta Susti, kawasan pemanfaatan untuk berkebun dan pemukiman.

Pegunungan Arfak memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Berbagai jenis tanaman dan hewan endemik hidup dalam kawasan ini, semisal kupu-kupu sayap burung (Ornithoptera rohchildi). Kawasan ini juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air. (Patrix. B. Tandirerung).
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: