Istanbul Aku Datang!

Istanbul. Foto : hajingfai.blogspot.com
Istanbul, yang dulunya Konstantinopel, adalah sebuah kota peradaban yang sangat tua. Di kota inilah dinasti terakhir Khilafah Islamiah Dinasiti Usmani (Ottoman Empire) berakhir dan meninggalkan peradaban yang masih mengesankan hingga kini. Berikut catatan perjalanan Fachruddin M.Mangunjaya saat mengujungi tempat bersejarah itu bertepatan dengan penyelenggaraan konferensi Islam and Environment 6-7 Juli 2009 lalu.

Saya dan teman teman dari NU, Muhammadiyah, Departemen Kehutanan dan Kementerian Lingkungan hidup diundang untuk menghadiri Konferensi Islam and Environment sekaligus deklarasi Muslim 7 Year Action Plan for Climate Change (M7YAP). 
 
Ini merupakan kegiatan lanjutan sejak setelah drafnya dibuat di Kuwait bulan Oktober 2008, dan sekarang adalah deklarasi. Ada sekitar 80 scholar, praktisi, perwakilan pemerintah dan akademisi serta para mufti dari berbagai negara Islam yang hadir ditempat ini. Seperti: India, Emirat, Qatar, Maroko, Kuwai, Saudi Arabia, Senegal, Palestina, Turki, Malaysia, Indonesia, Mesir dll.

Tiba di Istanbul jam tiga sore (5/7) kami menginap di Hotel Kalyon yang sudah disiapkan oleh panitia. Rasanya tidak sabar untuk melihat Ayasofia dan Blue Mosque yang terkenal itu. Ternyata hotel ini tidak terlalu jauh tempat tempat bersejarah itu. Kalyon terletak di pinggir pantai dan jalan besar dengan dua jalur umum serta berdekatan dengan garis pantai selat Basforus yang menyambung sampai ke Laut Hitam.

Lautan didepan hotel dipenuh dengan kapal kapal dagang dan perahu hilir mudik. Kontur kota Istanbul yang berbukit dan masih asri dengan pemandangan yang terpelihara sangat menyenangkan untuk dilihat. Angin sepoi-sepoi terasa menerpa kulit. Saya keluar kamar dan menggunakan sisa waktu dan berkenalan dengan teman Prof Najib Abdul Wahab Alfili, seorang Guru Besar Syariah dari Uni Emirat Arab yang rupanya satu pesawat dengan saya.

Keluar dari Kalyon Hotel, yang langsung berhadapan dengan Laut Marmara, saya berjalan hingga menuju tikungan dan berada di ujung jalan dan belok kekiri. Tidak berapa lama berjalan, saya diterperangah dengan bangunan agung berwarna krem kemerahan dangan kubah dan dua menara tepat berada didepan saya. Inilah rupanya Ayasofia yang terkenal itu! Tidak jauh ketika saya menoleh kekiri jalan, saya juga terpana oleh bangunan megah yang lain, dengan kubah berwarna biru. Inilah rupaya masjid besar Blue Mosque yang dibangun oleh Sultan Ahmed.

Ayasofia (Hagia Sophia) yang artinya kearifan yang suci yang semula merupakan Gereja Basilika yang didirikan oleh Konstantinus-- Putra Konstantin yang Agung--- kemudian direbut oleh oleh tentara Islam, dan kemudian dijadikan masjid dengan tidak merubah arsitekturnya dan hanya mengganti dan menambah kelengkapan di masjid, misalnya termpat berwudlu, mihrab yang menhadap ke timur dan mimbar untuk khatib berkhutbah.

Menurut sejarah, sejak tahun 1453, sultan menjadikan gereja ini masjid dengan mengganti ornament yang ada tersebut tanpa merusaknya. Syahdan dalam sejarah tercatat, bahwa Sultan Mehmed II, pada suatu hari perebutan dan Konstantinopel jatuh ditangan kaum muslim, beliau turun dari atas kudanya lalu dan sujud syukur.

Peradaban berganti ganti di Istanbul yang nama sebelumnya Konstantinopel, lalu diganti namanya menjadi Istanbul. Istanbul kemudian menjadi pusat perkembangan Kekhalifahan terakhir Islam dengan Dinasti Ottoman yang menjadi negara super power saat itu.

Karena hari Minggu, ternyata Ayasofia pun tutup, saya melangkahkan kaki menuju Masjid Biru yang dibangun berseberangan dengan Ayasofia. Karena sendiri saya mencoba berkenalan dengan para wisatawan yang ada di kiri kanan saya untuk memberikan kamera dan sesekali mengabadikan diri. “Indonesia…” saya tahu anda pasti dari Indonesia, kata Ahmet yang mengajark keluarganya untuk menyaksikan masjid bersejarah itu. “check..check...” “foto..foto”, lalu berikan kamera pada mereka. Ahmet bersama keluarganya terlihat surprise ketika saya kenalkan bahwa saya seorang muslim. “Ah..muslim, good. Ini Mustafa..” katanya memperkenalkan pada saudara disebelahnya sambil mengoceh dalam bahasa Turki yang tidak saya mengerti.

Rupanya bulan Juli ini, adalah musim panas di Turki, sehingga hari menjadi panjang. Saya menyaksikan orang sangat menikmati hari panjang ini dengan duduk-duduk di taman Masjid Biru dan bercengkrama dengan sanak keluarga. Di depan Masjid Biru selain terdapat taman yang luas dan indah, juga disediakan tempat duduk berjajar jajar. Seperti halnya di taman-taman publik di Indonesia, disini juga ada pedagang kaki lima. 
Foto : Iku.edu.tr
Ada yang berjualan buah segar yang langsung dikupas digerobaknya. Ada yang berjual jagung bakar dan kue kue khas Turki, minuman turkusu –merah seperti sirop dan terlihat manis—tapi rasanya asam seperti acar!

Anak anak riang bermain ditaman. Apalagi ini hari minggu dan libur. Beberapa wisatawan tentunya banyak yang berasal dari Eropa Timur, termasuk dari Yunani, Spanyol hingga Rusia.

Turki memang unik. Dua benua bertemu disini dan hanya dibelah oleh Selat Balforus. Jadi sebagian wilayan mertropolitan Turki berada di Asia dan Sebagian lagi di benua Eropa. Istanbul menjadi salah satu kota terpadat di Eropa dengan penduduk 15 juta jiwa, lebih padat dari Jakarta, tetapi secara sepintas saya menyaksikan kawasan kota tua ini memang tertata dengan baik sehingga kegiatan wisata maupun kegiatan public yang lain menyebar di beberapa tempat.

Kota Istanbul kini menjadi tujuan wisata yang sangat diminati. Pada musim liburan seperti ini, ada jutaan pengunjung kawasan ini. Saya menyaksikan mobil mobil tour penuh mengantri.

Saya terus melangkah melihat sekeliling Masjid Biru, sebuah masjid dengan dua kubah bertingkat lima—menggambarkan rukun Islam serta jumlah waktu shalat, dan enam menara yang menggambarkan rukun iman dangan jumlah tingkat menara yang berjumlah 16 menggambarkan masjid ini dibangun oleh Sultan ke enam belas dari Dinasti Usmani. Rupanya masjid ini memang dibuka untuk umum dan masih berfungsi dengan baik.

Karena perjalanan sudah sore, saya berminat untuk langsung saja shalat maghrib di masjid ini sebagai awal pengalaman. Saya mencoba bertanya pada salah seorang pengunjung taman, jam berapa biasanya shalat magrib? Dia tersenyum saja. Dan menoleh kepada istrinya, rupanya walaupun muslim, pemuda paruh baya ini juga jarang shalat. “Tanya pada istri saya, jujur saja saya juga jarang shalat,” katanya sambil tertawa mesam. Rupanya shalat maghrib jam 8.30 karena memang matahari sangat panjang bersinar.

Memasuki masjid, saya sangat kagum dengan arsitektur yang begitu agung dan kuat. Pintu pintu masjid ini terbuat dari perunggu, sedangkan hampir seluruh bangunan terbuat dari granit dan batu pualam yang terkadang hampir seluruhnya terlihat utuh tanpa sambungan. Empat tiang penyangga yang menjadi sokoguru masjid ini luar biasa besarnya, sehingga disebut kaki gajah (elephant foot) garis tengahnya kurang lebih tiga meter, murni batu pualam, membuat orang awam seperti saya bingung membayangkan bagaimana cara mendirikan dan membawa batu yang bulat penuh ini ke tempat yang agung ini.

Menuru Wikipedia, masjid ini dibangun antara tahun 1609dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia dimakamkan di halaman masjid. Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Biru karena warna karena dome atau kubahnya yang berwarna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid, maka cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini tidak terlihat berwarna biru.

Arsitek Masjid Sultan Ahmed, Sedefhar Mehmet Aga, diberi mandat untuk tidak perlu berhemat biaya dalam penciptaan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini. Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter.
Sambil menunggu shalat magrib, saya berkenalah dengan Maksum (53 tahun) yang mengaku pernah menjadi imam di Masjid Venicia, Italia dan kini pensiun dan menjadi pemandu wisata khususnya masjid biru ini.

Dari lelaki berpenampilan parlente ini, saya mendapatkan keterangan cukup banyak tentang masjid biru. Dia mengajak saya berkeliling. Dari beranda depan, bagian utara Masjid dimana pintu masjid berhadapan dengan taman, air mancur dan pintu gerbang masijid. Dari tempat ini masih bisa dilihat kubah Ayasofia yang tidak jauh letaknya.

Maksum menjelaskan bahwa masjid ini, didirikan sebagai pusat kegiatan umat, selain masjid sebagai tempat beribadah, juga ada madrasah, rumah sakit, pasar tidak jauh dari masjid dan disediakan juga dapur tempat memberikan makan bagi mereka yang kelaparan (fakir miskin) sebagai jaminan sosial pemerintah Islam.

Sultan apabila tiba untuk shalat berjamaah, datang dari pintu utara, dimana ada rantai dibentangkan yang menjadi perlambang, siapa saja yang masuk masjid, mereka adalah sama, dan harus tunduk. Tidak ada yang membusungkan dada. “Sultan, rakyat adalah sama dihadapan Allah swt,” kata Maksum menjelaskan. “rantai ini usianya 600 tahun dan masih ada disini.

Dia menunjukkan saya pada balkon disamping taman masjid yang letaknya di lantai dua. “Itu tempat sultan melambaikan tangannya pada umat,” katanya. Sayang sekali, Sultanahmet, sang pendiri masjid terkenal dengan bangunan 21 ribu keramik biru ini, meninggal dalam usia sangat muda. Ketika mendirikan masjid ini berusia 20 tahun, membina pembangunan masjid selama 7 tahun, dan meninggal dunia pada usia ke 27.

Usai shalat magrib, saya masih bisa menikmati malam dengan bulan purnama tersembunyi dibalik kubah masjid biru. Menikmati keindahan dan keagungan kejayaan peradaban Islam yang sangat mengesankan. Turki Usmani dengan khalifah Islam memerintah kawasan ini dengan kekuasaannya yang luas hingga mencapai Iran dan Rusia selama 777 tahun. Sebuah masjid yang mengagumkan!
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: