Harmoni Sampah

Oleh Farida Indriastuti.

Sampah bisa menghasilkan komposisi bunyi yang jernih, melalui sentuhan tangan Dodong Kodir (58) atau yang akrab disapa Mang Dodong, pemusik otodidak asal Bandung. Sampah di daur ulang menjadi alat musik berjenis; ilustrasi (membranophones), petik dan gesek (Chordophones), tepuk dan pukul (Idiophones) dan tiup (Aerophones).

Bentuknya unik, tak seperti alat musik umumnya. Suaranya khas, tak monoton. Selama lebih 30 tahun, Dodong bereksperimen menghasilkan bunyi-bunyian. “Saya tak peduli suaranya fals sekalipun, “ujarnya.

Di luar nada diatonis dan pentatonis, Dodong juga menciptakan instrumen bunyi membrane atau selaput, berupa suara petir, gemuruh angin tornado, suara lalat, suara berisik kereta api, deburan ombak laut dan segala bentuk suara yang bersumber dari alam.

Terkadang peristiwa menjadi momen terpenting dalam mencipta instrumen musikal. Semisal, saat tragedi tsunami memporakporandakan Aceh pada 26 Desember 2004 lalu, dia mencipta alat musik bernama Sagara. Bila Sagara dimainkan dengan cara diayun, suara yang ditimbulkan seperti; gemuruh ombak laut. Ada pula, alat musik tabuh bernama Chicken Drum– yang terinspirasi dari wabah flu burung. Bahkan Singkardong, alat musik tiupnya disimpan di Museum Kilkis, Yunani.

Dodong mengaku memilih jalur kontemporer, karena ada ‘kebebasan’ dalam menciptakan elemen bunyi. “Saya ingin melengkapi nada gamelan, yang tidak ada. Hasilnya luar biasa unik!” ujar Dodong. Pendapat berbeda diungkapkan Etnomusikolog, Asep Nata, “Kebaruan Dodong, karena membuat instrumen baru.

Dia melanjutkan musik tradisi yakni tradisi sampah. Walau musiknya tidak baru, yang penting nuansanya!” Tentu, Dodong tak membayangkan, instrumen musiknya melompat hingga kearas global. Musik sampahnya kerap bersanding dengan pertunjukan wayang, orkestra klasik, musikalisasi puisi, tari, monolog dan teater, baik di dalam negeri dan luar negeri.

Baginya, bermusik merupakan spirit jiwa. Dia tak fanatik pada genre musik tertentu, jenis musik apapun disukainya. Dulu sebelum pensiun, Dodong bekerja sebagai pengrawit di Studio Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung. Karena pergaulan yang liat dengan para dosen dan mahasiswa, dia banyak memetik pengetahuan bermusik (khususnya organologi), mampu berinovasi mendaur-ulang sampah dan menghasilkan komposisi musikal.

Alhasil, dialah pemusik sampah yang unik dan satu-satunya ditatar Sunda. Terhitung seratus lebih, alat musik yang diciptakan dengan beragam elemen bunyi. “Seharusnya Dodong layak digelari Profesor, karena loyalitasnya menciptakan instrumen musikal lebih 30 tahun, “ujar Asep Nata.

Musik sampah Dodong merupakan korpus ilmu pengetahuan yang unik dan etnik. Dodong yang otodidak telah menghasilkan karya-karya artistik yang luar biasa. Instrumen musiknya, seakan menyeruak hingga menggugah rasa ingin tahu para peneliti akademik, pengamat seni, serta etnomusikolog dari dalam negeri dan luar negeri, terutama dari sisi artistik kesenimanannya.

Bahkan, tanpa sadar telah membuka ruang dialog antar wilayah, negara, budaya dan lapisan sosial dalam wacana berkesenian di Indonesia. Tak pelak lagi, penelitian merupakan metode yang tepat untuk menyingkap ”tabir” dibalik keunikan instrumen musiknya. Sayang, tak melibatkan kerjasama antara pihak akademik, seniman dan birokrasi, guna menghasilkan proyek seni budaya. “Waktu pentas di Yunani, seorang teman terpaksa menjual sekotak wayang untuk membeli tiket pesawat. Saya sendiri tak punya uang, tak ada dukungan dana dari pemerintah, apalagi kampus. Padahal membawa nama Indonesia! “keluh Dodong.

Sikap institusi pendidikan tinggi yang cenderung mendua, begitu meresahkan seniman berwatak seperti Dodong. Lihat saja, ketika berada diranah Akademik, eksistensinya tak diakui. Sebaliknya, saat berkibar diluar Akademik, dielu-elukan. “Di Indonesia (sedikit) Ahli Pedagogi yang memahami situasi ini. Seniman otodidak yang memiliki kemampuan luar biasa seperti Dodong, tersingkir dari wilayah Akademik, karena tak memiliki gelar. Yang dipertahankan, justru Dosen Seni bermental birokrat, yang penting bergelar Master atau Doktor. Padahal kualitasnya biasa saja! “ujar Asep Nata, Dosen Luar Biasa STSI Bandung.

Kesederhanaan Hidup

Bak menelusuri labirin, hingga bersua sebuah gang sempit yang dibelah sungai kecil di daerah Cisitu Lama, Bandung, Dodong bergiat mendaur-ulang sampah menjadi alat musik di rumah mungilnya, berlantai dua. Ada sampah dari patahan kayu, plastik, besi mesin cuci, pipa ledeng, tusuk sate, gagang sapu dan segala pernik sampah. “Dulu istri saya mencak-mencak. Katanya, buat apa ngumpulin sampah? Ngotorin rumah saja!” cerita Dodong. Tak lantas putus asa, Dodong berdoa agar sampah ditangannya bermanfaat. Kerja kerasnya tak sia-sia, berbuah legit; setiap sampah selalu menghasilkan alat musik dengan instrumen musikal yang unik.

Bapak dari tiga anak ini seperti mendapat energi baru, ketika sampahnya berubah menjadi alat musik. Adrenalinenya menderu saat berhasil memainkan alat musik sampah menjadi harmoni nada. “Saya tak menyangka, selalu ada kejutan! Sampah bisa menghasilkan nada yang berbeda, “ungkapnya.

Sesungguhnya, alamlah yang misterius tanpa sadar telah menciptakan keselarasan bunyi, seperti suara gaduh serangga, rintik hujan, desiran angin dan gemuruh petir. Semua harmoni alam dirangkai menjadi instrumen bunyi yang begitu apik oleh Dodong. “Saya pernah bermain musik ditengah derasnya hujan, “ujar Dodong.

Tak mudah memilih setia pada sampah, dan menapakkan jejak pada musik tradisi sebagai akar hidupnya. Dodong mengaku, akan terus menghidupkan sampah menjadi harmoni nada. “Tak tahu sampai kapan? Yang paling sulit, kalau banyak ide tapi tak ada barang dan uang, “ujarnya.

Sampah yang cuma barang usang menjadi bernilai melalui sentuhan tangan Dodong. Begitulah, dia memaknai hidup dan bersyukur pada alam semesta.

Dari sampah pula, pergaulannya meluas. Tak hanya tukang loak yang diakrabi, tapi juga komposer kelas dunia. Dodong terlahir ditengah keluarga seniman tradisi yang kental, yang diwariskan oleh sang ibu. “Beliau guru pertama Saya, yang mengenalkan gamelan berlaras salendro, “ungkapnya. Dodong kecil menyukai panggung pertunjukan wayang, piawai bermain alat musik degung, suling dan calung. Suasana Bandung yang sejuk kala itu, memang selaras dengan harmoni gamelan. “Bapak yang mengajarkan keharmonisan alam dan gamelan, “kata Dodong

Tak ada filosofi hidup yang dikisahkan, “Semua mengalir saja!” Di sela-sela kesibukannya bereksperimen dengan sampah, Dodong kerap pentas keliling dengan grup musik “Lungsuran Daur” (berarti: “Daur Ulang”) yang dipimpinnya. Dia mencipta banyak komposisi musik antara lain; Padodong, Seribu Pulau dan masih banyak lagi. Sengaja dia berkolaborasi dengan anak-anak muda. “Agar tak ada kesenjangan antar generasi, “ujarnya.

Komposisi musiknya pun beragam, ada sentuhan tradisi, melayu, blues, flamenco, country, latino dan jazz. Berawal dari kesederhanaan, Dodong justru melahirkan karya yang inspiratif, seperti pada lagu “Kuntul Flamenco”. Dia berkisah tentang persahabatannya dengan seorang Spanyol bernama Vidal Paz. Tak ayal, Dodong pun bergaul dengan banyak pemusik dunia seperti, Mohammed Haddad (pemain alat petik oud, Bahrain), Kamil Tchalawep (pemain kontrabas, Ukraina), Yuan Chun (pemain pipa, China) dan Sebastian Obrecht (penyanyi tenor, Perancis).

“Dengan Sulangsong saya berkolaborasi dengan Orkestra memainkan komposisi Mozart, “ungkap pria asal Tasikmalaya ini. Sulangsong (end-blown flute) adalah seruling bambu yang ukurannya tak lazim. “Tak setiap orang bisa memainkan Sulangsong. Nafasnya harus kuat! ”kata Dodong. Pengalaman berharga itu tak dilupakannya. Sebagai pemusik otodidak yang tak tamat Sekolah Tehnik (setingkat SMP), bisa mengiringi Orkestra berkelas dunia di acara bertajuk “La Flute Enchantee” yang diselenggarakan UNESCO di Perancis pada 2006 lalu, begitu membanggakannya. Selain di Perancis, dia juga di undang ke berbagai festival internasional seperti; Copenhagen Cultural, International Puppet & Mime Festival di Yunani dan Cyprus dan festival internasional lainnya di berbagai negara Eropa, Amerika dan Asia Pasifik.

Kini, Dodong resah melihat minusnya perhatian anak muda terhadap seni tradisi. Tak ayal, bila seni tradisi terancam punah, tergeser kesenian berbasis teknologi. Dengan sampah, Dodong ingin membuktikan bisa berkolaborasi dengan musisi dunia. Dia tak pelit berbagi ilmu dengan siswa-siswi di Bandung, dalam workshop musik sampah.

“Sekarang lagi ngetren istilah Global Warming! Anak-anak senang mendengar suara Tornadong,” ujarnya. Tornadong, alat musik (membranophones) yang terbuat dari buah waluh kering dan fiber, dimainkan dengan cara mengguncang (per) spiralnya, suaranya nyaring menyerupai gemuruh angin tornado. Menurut Dodong, agar anak-anak memiliki kesadaran untuk mencintai alam dan menjaga lingkungan. Sampah bagi Dodong, tak mengotori bila dimanfaatkan dengan baik. “Kuncinya harus kreatif! ”ujarnya menutup perbincangan.
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: