Membaca Kehidupan Kapuas

Arung Jeram Ulu Kapuas. Foto Martha Cs.

JAM 09.00 pagi, selepas minum kopi, kami beranjak menuju salahsatu dermaga kecil di Sungai Kapuas. Langit masih tampak seperti hari sebelumnya. Kelabu. Tak tampak warna biru. Di dermaga kecil itu sudah terparkir beberapa sampan kecil.

Warga menggunakan sampan untuk menyeberang. Sekali jalan sekitar dua hingga lima ribu rupiah. Sampan menjadi salahsatu alat transportasi warga. Di pesisir Kapuas banyak rumah berdiri di atas air sungai. Untuk masuk ke pemukiman warga, mesti menggunakan sampan. Melewati jembatan-jembatan kecil. Menyusuri gang sungai.

“Ini termasuk kampung pertama Pontianak,” kata Muhlis Suhaeri. Seorang wartawan yang bekerja di Borneo Tribune. Salahsatu koran lokal di Pontianak. Sampan melaju pelan di antara rumah warga di Tanjung Pinang, Pontianak Timur.

Kehidupan di Pontianak terikat oleh keberadaan sungai ini. Kapuas merupakan salahsatu sungai terpanjang di Indonesia. Ini seperti urat nadi Kalimantan. Geliat ekonomi, politik, sosial dan budaya tumbuh di sepanjang Kapuas. Juga sejarah yang meletakan keanggunan Kapuas. Di sungai ini, kami melihat Masjid Sultan Syarif Abdurrahman di Kampung Beting. Salahsatu bangunan pertama yang dibangun ketika kesultanan Pontianak.

Warga menggunakan sungai ini untuk mandi dan membersihkan pakaian mereka. Termasuk mencari ikan. Sayang, terlalu banyak sampah di pemukiman ini. Dan mungkin kotoran manusia. Hingga sungai ini terlihat kotor sekali. Namun, ini tidak membuat warga menjauhi sungai. Anak-anak kecil masih senang meloncat dari badan jalan ke sungai. Mandi bersama kawan-kawannya.

“Tapi tak banyak nyamuk,” kata seorang warga. Kami berhenti di sebuah warung kecil untuk membeli air kemasan.

Menurut warga, mereka tak kesulitan untuk mencari air minum bersih. Mereka masih mendapatkan air bersih yang letaknya tak jauh dari pemukiman warga. Masih di aliran sungai yang sama.

Namun, saya tak melihat satu pipa air pun di pemukiman warga ini. Saya hanya melihat tempayan yang terletak di pinggir rumah. Tempayan ini untuk menyimpan air hujan dan digunakan untuk air minum.

“Ini membuat gigi warga, banyak yang keropos akibat konsumsi air hujan,” kata Muhlis.

Rasanya tak mudah membayangkan bagaimana mereka tinggal di sini. Dan berkompromi dengan keadaan. Sungai telah memberikan kehidupan. Namun, jika tak bersahabat, manusia bisa membuatnya jadi nestapa. Sungai menjadi cermin bagaimana peradaban tumbuh di masa kini.

Pontianak, Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota besar lainnya menghadapi persoalan serius dengan kerusakan lingkungan. Selain sampah, salahsatu persoalan penting adalah air bersih.

Mendapatkan air bersih yang sehat adalah hak setiap warga. Dan ini bisa membantu untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan pelayan air bersih kepada warganya. Dan melindungi setiap mata air. Bukan menjadi milik swasta hingga membuat air menjadi barang mahal dan sulit dijangkau oleh setiap warga. Miskin maupun kaya.

Setiap akhir tahun, di sini terjadi banjir. Air Kapuas meluap akibat tekanan dari laut lepas. Sampah masuk rumah. Pendangkalan terjadi setiap tahun ketika musim kemarau tiba. Dan ini terjadi di hulu Kapuas.

Menjelang siang, sampan terus membawa kami untuk melihat secara dekat kehidupan Kapuas. Melihat lokasi pembuatan sagu, melihat perahu angkutan, dan menikmati kopi di atas sampan.

“Ini kopi khas Pontianak,” kata Usman, 61 tahun penjual kopi itu. Ia menjual kopi dengan sampan selama 30 tahun. Beberapa kue untuk kudapan, kacang hijau, apem pinang dan kue lapis. Air sungai sedikit bergelombang. Pagi itu, sejenak bisa membaca kehidupan Kapuas. (Asep Saefullah).
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: