AS Harus Belajar Dari Kasus Heli di Pariaman

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif. Foto : Beritalingkungan.com/Marwan Azis.

PADANG, BL- Kasus pendaratan helikopter Amerika Serikat (AS) yang tak jadi mendarat namun menjadi malapetaka, dimana sebagian besar bangunan semi-permanen di lapangan yang rencanakan dijadikan tempat pendaratan di Pariaman akibat Angin kencang yang ditimbulkan dari baling-baling.

Kejadian itu disesalkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif. Menurutnya, hal itu seharusnya tak perlu terjadi, seandainya ada komunikasi dan koordinasi yang bagus antara pihak yang menerbangkan helikopter itu dengan orang yang ada di lapangan.”Secara teknis helikopter memerlukan tempat khusus untuk pendaratan. Saya yakin secara teknis mereka tahu..Biarlah Amerika belajar dari pengalaman itu,”kata Syamsul saat usai melepas 150 tim relawan siaga bencana Departemen ESDM di Media Centre BNPB.

Helipet itu lanjut Syamsul, kelihatan mudah tapi tak semuda yang dibayangkan. Heli itu kalau dimatikan butuh waktu 30 menit untuk nyala lagi. “Heli kita nggak ada masalah, sementara heli mereka besar sekali, bisa mengangkat beban seberat 4 ton. Rencananya itu untuk mengangkat alat berat, tapi ini kan sudah tanggal berapa. Kita waktu itu mikirnya di Malalak, tapi kok ditaruh disitu tempatnya sangat sempit,”ujarnya dengan nada tanya.

Malapetaka helikopter AS yang terjadi pada tanggal 9 Oktober 2009 itu menyebabkan 8 unit rumah yang sedang dikerjakannya kini juga turut rusak. Sejumlah mobil serta motor yang kebetulan diparkir di lapangan tersebut mengalami hal serupa.

Selain itu, 4 orang menjadi korban. Bahkan salah seorang diantara 4 orang itu harus mendapat perawatan intensif akibatnya kepalanya terbentur benda keras. Bahkan perwakilan AS di Indonesia yang juga sedang menunggu datangnya heli tersebut tidak luput menjadi korban.

Tak berapa lama pihak AS langsung meminta maaf. Mereka juga berjanji akan mengganti seluruh kerusakan yang ditimbulkan heli tersebut. (Marwan Azis).
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: