Gempa Haiti, Terparah dalam 200 Tahun


PORT-AU-PRINCE -BERLING- Gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter mengguncang Haiti menelan korban jiwa 200 ribu tertimbun reruntuhan gedung-gedung. United States Geological Survey (USGS) menyatakan bencana itu merupakan gempa bumi terbesar di Haiti dalam 200 tahun lebih.

Selain menyebabkan ribuan korban, gempa dilaporkan merobohkan istana kepresidenan, gedung-gedung, dan perumahan di berbagai lokasi, termasuk di daerah lereng perbukitan. Gedung lima lantai milik Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) juga rata dengan tanah setelah gempa terjadi.

Titik gempa diketahui berpusat di 18,45 derajat Lintang Utara dan 72,44 Bujur Barat atau berjarak 16 km barat daya ibu kota Haiti, Port-au-Prince, yang di atasnya didiami sekitar 1 juta orang. Berdasar catatan USGS,gempa terjadi pukul 21.53 (GMT), 12 Januari 2010; atau pukul 16.53 waktu setempat, 12 Januari 2010; atau 04.53 WIB, Rabu 13 Januari 2010. Kedalaman gempa yang hanya sekitar 10 km mengakibatkan dampak sangat mengerikan.

Bukan hanya di wilayah pusat gempa, tapi juga di pusat kota Port-au-Prince yang berpenduduk empat juta orang. Kondisi kian parah karena gempa susulan yang terjadi mempunyai kekuatan cukup besar,mencapai 5,9 SR.

“Sebanyak 27 gempa susulan dengan kekuatan besar terjadi dalam tempo beberapa jam setelah gempa pertama,” demikian keterangan USGS. Saksi mata melaporkan, gempa menimbulkan kepanikan dan kekacauan luar biasa.

Warga berteriak “Tuhan,Tuhan!” sambil berlarian ke jalanan, ketika gedung-gedung, hotel-hotel, rumah-rumah, dan pertokoan roboh. Tayangan televisi Reuters dari Port-au-Prince menunjukkan kekacauan di jalanan yang dipenuhi jasad dan manusia yang menangis kalut. Banyak warga yang tampak linglung, bingung, bercampur sedih, karena sanak kerabat mereka meninggal dunia, atau masih tertimbun reruntuhan gedung dan belum dapat diselamatkan.

Korban selamat dan korban tewas berlumuran debu puingpuing gedung yang roboh di sekelilingnya. Warga yang selamat segera menuju tanah lapang untuk menghindari bencana lebih buruk. Jaringan listrik dan komunikasi putus, sehingga warga terpaksa tidur dalam keadaan gelap gulita dan kedinginan. Mereka sangat mengharapkan bantuan. Laporan tentang jumlah korban tewas, terluka, dan kerusakan gedung masih belum dapat dipastikan karena kerusakan sistem telekomunikasi di Haiti.

Yang pasti,negara miskin yang berada di wilayah Amerika Latin itu butuh bantuan secepatnya,baik itu peralatan berat untuk menyingkirkan puing-puing, personel penyelamat, juga bantuan kebutuhan pokok dan medis.

“Saya mengharap seluruh dunia, khususnya Amerika Serikat (AS), melakukan apa yang mereka lakukan pada kami saat 2008, ketika empat badai menerjang Haiti. Saat itu AS mengirimkan sebuah rumah sakit kapal di pantai Haiti. Saya harap itu akan dilakukan lagi dan membantu kami mengatasi situasi ini,” papar Duta Besar Haiti untuk AS Raymond Alcide Joseph. Joseph meminta warga Haiti di luar negeri bekerja sama mengerahkan segala upaya untuk membantu warga di tanah kelahiran mereka.

Dia juga memastikan Presiden Haiti Rene Preval berhasil selamat walaupun gedung istana kepresidenan berubah menjadi puingpuing. Atapnya roboh meratakan dinding-dinding bangunan. Meski begitu, di mana sekarang presiden berada, Alcide tidak bisa memastikan. Mantan Presiden Haiti Jean Bertrand Aristide, yang kini tinggal di pengasingan Afrika Selatan, mengirimkan pernyataan dukacita bagi warga Haiti.

Menteri Kerja Sama Prancis Alain Joyandet melaporkan Hotel Montana telah roboh dan dia mengkhawatirkan nasib warganya yang kebetulan tinggal di sana. “Ada sekitar 100 dari 300 tamu telah dievakuasi,” katanya. Itu artinya ada sekitar 200 orang tamu hotel yang masih hilang dan diduga tertimbun di reruntuhan hotel.“Kedutaan Besar Prancis di Port-au- Prince juga rusak akibat gempa,16 warga Prancis telah berkumpul di sana. Warga lainnya sedang menuju ke sana,” papar Joyandet. (AFP/Rtr/CNN/SI).
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: