Menunggu Danau Laut Tawar Mengering

Debit air Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, terus menyusut. Maraknya penebangan hutan ditenggarai menjadi penyebabnya. Takengon kini tak sedingin dulu lagi.  Foto : Ist.


Berkunjung ke Kabupaten Aceh Tengah, sepertinya belum lengkap kalau tidak bertamasya ke Danau Laut Tawar. Selain pemandangan yang indah, danau ini juga punya banyak legenda rakyat. Danau ini terbentuk akibat letusan gunung berapi purba. Terletak di sebelah timur Kota Takengon, di dataran tinggi Gayo, 1.250 meter di atas permukaan laut. Danau terluas di Aceh.

Sangat memprihatinkan danau yang indah ini di ambang kehancuran. Airnya terancam kering. Tiap tahun terjadi penyusutan volume airnya. Dalam masa lima tahun terakhir, airnya sudah surut dua meter. Kepedulian warga sekitarnya juga kurang. Danau kebanggaan orang Gayo ini, kini seperti seorang gadis cantik yang dirundung duka, ditinggalkan kekasihnya. Kekeringan danau tinggal menunggu waktu.

Debit air Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, terus menyusut. Penyebabnya; hutan gundul dan pemanasan global. Inilah yang membuat alam Takengon tak sedingin dulu lagi.


Secara fisik, dari hasil penelitian Ir. M. Saleh M.si yang terangkum dalam buku ekosistim danau Laut Tawar tahun 2000, danau ini mempunyai luas 5,472 hektar, panjangnya 17 kilometer. Sedangkan lebarnya 3,219 kilometer. Diperkirakan volume airnya berjumlah 2,5 triliun liter.

Di sekitar danau saat ini dilengkapi prasarana jalan, yang merupakan jalan provinsi, panjang jalan utara 18 km, panjang jalan selatan 24 km. Jumlah aliran air yang masuk ke danau ini sebanyak 25 sumber aliran, terdiri dari sungai, alur, aliran dengan debit total 10.043, liter/detik.

Sementara air yang keluar, hanya satu melalui sungai Krueng Peusangan dengan debit 5.664 liter/detik. Jumlah aliran air tersebut sebenarnya sudah berkurang sejak tahun terakhir. Kalau pun masih ada yang tersisa, airnya sudah sedikit. Danau ini punya kedalaman rata-rata untuk jarak 35 meter dan 8,9 meter untuk 100 meter. Dari pinggir kedalamannya rata-rata 19,27 meter, untuk jarak dari pinggir 1.620 meter danau ini memiliki kedalaman 51,13 meter. Untuk suhu danau, 21 hingga 70 derajat celcius, mulai tempat paling dangkal hingga tempat paling dalam.

“Dulu ketika saya masih berumur 15 tahun, sering mandi di jembatan, saya dan kawan-kawan sering melompat dari jembatan ke sungai, saat itu airnya masih dalam,” ujar Isranudin Harun, salah seorang pekerja LSM Tajuk, sebuah LSM Lingkungan di Takengon. Jembatan yang dimaksud adalah jembatan di Kampong Bale, Kecamatan Laut Tawar. Sebuah desa di pinggiran Kota Takengon, persis di pinggir danau. Jembatan penyeberangan yang melintasi sungai Peusangan.

Saat ini di sepanjang sisi sungai, dipenuhi dengan keramba penduduk setempat. Kebanyakan tidak beraturan. Saling berdesakan. Hanya menyisakan sedikit ruangan di tengahnya. Keramba-keramba ini juga berdesakan dengan WC umum, tempat cuci pakaian dan tempat mandi. Di tambah lagi tempat pembuangan limbah pasar daging dan ikan.

“Sekarang, kalau kita bisa melewati sungai tidak perlu takut tenggalam, bahkan di sisi sungai sering digunakan untuk tempat main volley pantai,” ujar Harun. Harun adalah anak danau, ia kelahiran Desa Toweren, Kecamatan Laut Tawar. Sebuah desa yang persis berada di pinggir laut tawar. Dia mengaku punya ikatan batin dengan danau yang penuh dengan cerita rakyat ini. Bersama teman-temannya, ia membentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan, Maret 2008 lalu. Keadaan fisik Harun tidak sempurna, ia cacat, kaki kirinya kecil sebelah. Sejak lahir, kalau berjalan ia tertatih. Bersama teman-temannya, dia mengembangkan sebuah spesies bunga langka bernama Bunga Jenyung Bukit, bunga aneh yang mirip bunga Sakura yang dalam masa hidupnya punya empat musim.

“Kami masih baru, tapi walaupun baru, kami telah membuat tiga kali program penghijauan di sekitar laut tawar,” tambahnya. Menariknya, dua program mereka, dananya merupakan dana sendiri, tidak ada founding (penyumbang), dari pihak manapun.

“Setahu saya, LSM lingkungan di Aceh Tengah, sangat kurang,” ujarnya. Meski ia mengaku LSM-nya bukanlah satu-satunya. Ada empat LSM lingkungan di Aceh Tengah, tapi eksistensi programnya tidak terdengar. Anehnya, setahu saya mereka sering ikut pelatihan,” ujar Harun.

Bagi Harun, Laut Tawar meski dijaga, karena danau ini bukan saja kebutuhan Kabupaten Aceh Tengah tapi kabupaten lain seperti Bireuen, Aceh Utara dan Bener Meriah. Maklum, kabupaten tetangga Aceh Tengah ini, keadaan topografi tanahnya lebih rendah dari Aceh Tengah.

Selama ini, rembesen air danau Laut Tawar telah membantu kesebururan tanah Bener Meriah. Begitu juga dengan Kabupaten Bireuen, Lhokseumawe dan Aceh Utara. Air sungai Peusangan mengalir kedua kabupaten tersebut.“Sumber air bersih kedua kabupaten itu juga berasal dari air danau laut tawar, persawahan di sepanjang jalur sungai Peusangan di tiga kecamatan irigasinya juga bergantung pada air danau ini,” ungkap Harun.

Potensi lain dari Danau Laut Tawar adalah, hadirnya ikan Depik, ikan khas Aceh Tengah. Konon ikan ini hanya ada di Danau Laut Tawar. Ikan ini mirip ikan teri. Ikan ini punya musim. Biasanya ikan ini muncul antara bulan April sampai Agustus. Disebut Depik karena pada bulan tersebut terjadi angin kencang. Musim angin ini disebut musim angin Depik. Sebelum musim tiba, gerombolan Depik bersembunyi di selatan danau, di kaki Gunung Bur Kelieten. Gunung tertinggi di sekitar Laut Tawar. Cara menangkap ikan ini juga cukup unik, dibuat semacam bendungan dari batu dilengkapi dengan alat khas bernama bubu. Ikan ini dijual dalam takaran bambu, bukan kilo.

Selain ikan basah, ikan ini dijual juga kering, harganya lebih mahal. Satu bambu harganya bisa puluhan ribu. Ikan depik ukurannya sebesar jari telunjuk, nama lainnya tidak diketahui, soalnya depik cuma ada di Danau Laut tawar. Ikan Depik ini adalah sejenis ikan wader atau cere yang rasanya sangat gurih dan agak pahit dibagian kepala. Ikan ini juga punya cerita. Konon, dari kisah yang berkembang di masyarakat, ikan ini berasal dari butiran nasi yang di buang ke danau, kemudian menjelma menjadi ikan. Selain ikan Depik danau ini juga punya ikan khas, yang dalam bahasa setempat disebut ikan Denung. Bentuknya seperti ular, giginya tajam, ekor sangat berbahaya. Kalau ekornya sudah lengket kemana saja susah dilepas, biasanya kalau kena pancing ekornya langsung dipotong.

Ikan Depik jarang dapat ditemui. ”Ikan Depik kini mulai berkurang, musimnya juga tidak tentu lagi, ini disebabkan karena air danau sudah tidak bagus lagi,” ujar Salmiah pedagang ikan di Pasar Takengon. Pedagang ikan ini kebanyakan perempuan. Masalah lainnya adalah saat air danau sudah tercemar, berasal dari aktifitas ekonomi masyarakat seperti pemupukan dan limbah rumah tangga. Ini membuat berkurangnya ikan di danau ini.

Di Danau Laut Tawar terdapat 22 jenis ikan yang terdiri dari 15 jenis ikan setempat (ikan Natif) dan 7 jenis diintroduksi dari daerah lain. Di sekitar danau juga hidup beragam fauna, serangga yang dijumpai di sekitar danau berjumlah 49 jenis dengan tingkat kepadatan antara 1-200 individu/meter.

Jumlah ikan di dananu juga mulai berkurang. ”Menangkap ikan di danau sekarang tidak seperti dulu, kalau dulu banyak dapat ikan, tapi sekarang susah dapatnya, harus benar-benar sabar,” papar Udin, nelayan asal kampung Bale, Kecamatan Laut Tawar.

Dinas Petenakan dan Perikanan Aceh Tengah mengaku, telah melakukan restocking, yaitu penyebaran benih sekitar 60.000 dari berbagai jenis ikan. Selain itu, melakukan sosialisasi alat tangkap. ”Tapi hasilnya masih saja ada nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan alat-alat tangkap yang terlarang,” ujar Ir. Zulkifli, Kepala Bidang Perikanan Aceh Tengah.

Di sekitar danau, kini banyak hutan yang gundul. Banyak terjadi perambahan yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk membuat perkebunan. Penebangan liar juga terus terjadi. Meski tidak sebanyak ketika konflik dulu. Jika kita berkeliling, akan dijumpai gunung yang tandus di sepanjang gugusan Bukit Barisan. Sebagian besar tampak bekas-bekas kebun yang ditinggalkan. Kayu, yang tumbang juga banyak. Sebagian tempat, terlihat bekas-bekas kebakaran hutan. Yang tersisa hanya pemandangan bebatuan terjal dan batang-batang pohon yang hangus.

Menurut data Dinas Kehutanan, luas lahan kritis di kawasan itu 8.842 hektar, terdiri dari 6.450 hektar dalam kawasan hutan, dan 4.400 hektar di luar kawasan hutan. Menurut para ahli, untuk menjaga kelestarian danau Laut Tawar, idealnya dibutuhkan 25 ribu hektar luas hutan sebagai daerah kawasan tangkapan air.

Di sekitar danau saat ini hanya terdapat 74,57 pohon per hektar, idealnya 201 pohon perhektar. ”Kita telah siagakan 30 petugas polisi hutan, di tempat kecamatan di sekitar danau. Kita juga siagakan 24 penjaga api,” ujar Ir. Sahrial, Kepala Dinas Kehutanan Aceh Tengah. Untuk penghijauan di sekitar danau telah diprogramkan tahun 2007 dan 2008. Dananya delapan miliar yang berasal dari dana pusat. Pohon yang ditanam adalah pinus, mahoni, alpukat dan kayu manis.

Dinas Kehutanan Aceh Tengah, telah melakukan sosialisasi untuk penjagaan hutan di sekitar danau kepada masyarakat setempat, agar tidak merambah dan membakar kawasan hutan, melalui berbagai cara termasuk melalui radio. ”Tapi hasilnya belum maksimal,” kata Sahrial.

Di sekitar danau, terdapat 20 kampung, di empat wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Bintang, Kebayakan, Bebesan dan Kecamatan Laut Tawar. Warga setempat mayoritas petani dan nelayan.

”Lahan untuk perkebunan sekarang sudah sempit, setelah Aceh damai, tanah makin mahal. Kami tidak sanggup membelinya,“ ujar Fahrizal, warga Kampung Nosar, Kecamatan Bintang. Dia membuka lahan dekat danau. Masih kata Fahrial. Kalau tidak bertani, dia tidak tahu mau berusaha apa lagi.

Dulu, sebelum konflik berkecamuk, Fahrizal punya kebun kopi di Jamur Atu, Kecamatan Syiah Utama di Bener Meriah, tiga hektar. Kopinya sudah berbuah ratusan kilo sekali panen.“Karena konflik, kebun itu terlantar, kini jadi hutan, saya kapok berkebun jauh-jauh, lebih baik yang dekat rumah saja,“ papar lelaki dua anak ini. Fahrizal tahu, kalau membuka kebun di sekitar danau dapat mengganggu sumber mata air untuk pasokan air danau. “Tapi, bagaimana lagi, saya enggak tahu usaha lain. Saya enggak punya keahlian," kata lelaki tamatan SMP ini. Dia juga mengaku tidak mendapat bibit tanaman penghijauan yang diprogramkan Dinas Kehutanan Aceh Tengah.

“Penyusutan air memang terjadi, tapi itu adalah hal yang wajar saya kira. Dan hal itu tidak bisa dihindari,“ ujar Ir, Nugersyah, Kepala Kantor Lingkungan Aceh Tengah. Ia mengatakan, dari hasil penelitian Kantor Lingkungan Hidup, air danau Laut Tawar masih layak di minum. Kadar logamnya masih di ambang batas. Masih bisa dikonsumsi. Nugersyah membantah, kalau kondisi danau makin hari makin rusak. Ia berdalih itu adalah tuntutan jaman yang tidak bisa dihindari. Meski ia mengaku tidak mempunyai data yang akurat.

Masalah lain adalah eceng gondok yang hidup mengapung di atas permukaan air danau. Makin lama, eceng gondok terus berkembang di danau. Tumbuh dengan cara menghisap air dan menguapkannya kembali melalui bagian tanaman yang kerkena sinar matahari melalui proses evaporasi. Hal itu juga ikut andil dalam proses menyusutnya air danau. Dalam perkembangannya, eceng gondok mempunyai kemampuan besar untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan keadaan lingkungan. Sebatang eceng gondok dalam waktu 52 hari mampu menghasilkan tanaman baru seluas 1 meter kubik.

“Sekarang masalahnya, belum ada sebuah lembaga yang fokus mengelola danau,“ Nuger beralasan. Kata dia. “Kita sudah mewacanakan ke arah itu, tapi kita belum mulai,“ ujar Ir. Nasaruddin MM, Bupati Aceh Tengah. Salah satunya, kata Nasaruddin adalah Pemda Aceh Tengah akan membuat kerja sama dengan pihak pembangun mega proyek PLTA Peusangan. Mega proyek yang sempat terhenti karena konflik dan akan diteruskan pembangunan itu, sumber tenaganya adalah arus sungai Peusangan yang airnya berasal dari Danau Laut Tawar. Proyek ini terletak di Angkup, Kecamatan Silih Nara.

”Saat ini, penelitian tentang danau, belum ada yang lengkap dan detil. Padahal keberadaan danau ini sangat penting di Aceh,” ujar Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin. Dia mengatakan, kerusakan danau ini akan membawa pengaruh ke daerah kabupaten di sekeliling Aceh Tengah. Hal itu karena Aceh Tengah adalah daerah dataran tinggi.

Selain punya potensi wisata, ternyata, danau ini juga punya potensi pertambangan. Potensi pertambangan yang belum dieksplorasi adalah Lempung (12,87 juta ton), Batu Gamping (60 juta ton), Marmer (7.800 juta ton), fosfat dan lain-lain.

”Sudah ada investor yang berminat,” ujar Nasaruddin. Dia optimis kalau masuknya investor tidak akan merusak lingkungan di sekitar danau. ”Kita akan memberikan penekanan pada mereka untuk menjaga lingkungan di sekitar danau,” tambahnya yakin. Entah bagaimana kenyataannya nantinya. (Arsadi Laksamana).
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: