Indonesia di Tepi Pasifik


Catatan : Ahmad Yunus *

Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai pulau Rote adalah serpihan jingle kampanye saat pemilihan presiden Indonesia 2009 lalu. Lagu gubahan iklan mie ini milik Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kemudian mengantarkan SBY menjadi presiden Indonesia untuk kedua kalinya.

SBY pun memberikan janji pada pulau-pulau terluar Indonesia itu. Di pulau Miangas, ia akan membangun sebuah bandara. Pemerintahan di Jakarta juga menyetujui pembangunan sejumlah infrastruktur. Mulai dari gedung logistik, puskesmas, sarana komunikasi, sampai tangki bahan bakar minyak.

“Kami selalu dengan kalian di sana. Karena itu, teguhlah dalam menjaga kedaulatan NKRI,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui telephone satelit dari Kendari, Sulawesi Tenggara, Oktober 2005. Ia berjanji akan mengunjungi dan berbicara dengan masyarakat di Miangas. Termasuk di Marore, pulau lain di Talaud.

“Apalagi yang harus dikerjakan agar masyarakat bisa bebas dari keterpencilan dan keterisolasian yang selama ini membelenggunya,” katanya.

Lima tahun kemudian, Pulau Miangas punya gedung logistik, puskesmas, hingga tangki bahan bakar minyak. Namun, SBY tak mengunjungi pulau terluar ini. Ia juga tidak tahu persis kondisi kehidupan masyarakat di sana.

Pulau Miangas terletak di paling Utara Indonesia. Berbatasan dengan Filipina. Luas pulau ini 3,15 kilometer persegi. Masuk di gugusan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Perlu waktu tiga hari dari Manado. Ini salahsatu perjalanan panjang dari ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Sekaligus menutup perjalanan selama di Sulawesi.

Kami ingin melihat Miangas. Pulau yang sangat dekat dengan Tanjung Saint Agustin, Mindanao, Filipina. Jarak dari Miangas ke Filipina hanya 50, 4 mil laut. Sedangkan jarak dari Manado ke Miangas sekitar 324 mil laut.

Namun bagaimana potret kehidupan di Miangas dan kepulauan lainnya di Talaud? bagaimana kondisi selama perjalanan dari Manado ke Miangas? Mengapa Miangas termasuk pulau yang terisolir? Apa pentingnya, pernyataan SBY tentang Miangas? Bagamana sejarah Miangas dan apa pentingnya untuk Indonesia?

Dari Manado menuju Talaud

Dari Manado, kami naik kapal motor Queen Mary. Bermalam di kapal. Tidur di kursi papan geladak kapal. Tujuan kapal motor ini ke Talaud. Pagi hari, kami tiba di Melonguane, ibukota Kepulauan Talaud. Melonguane terletak di Pulau Karakelang. Pasirnya putih. Lautnya biru tosca.

Dari Melonguane kami harus menunggu kapal perintis untuk menuju Miangas. Kapal perintis adalah kapal yang disubsidi oleh pemerintah. Kapal ini mengakses pulau-pulau yang terisolir. Selain mengangkut penumpang, kapal ini juga mengangkut barang-barang. Seperti beras, semen, pipa, hingga hasil bumi. Mulai dari kopra, pala, jeruk hingga cengkeh.

Ada dua kapal perintis yang melayani Sangir-Talaud. Daraki Nusa dan Meliku Nusa. Kedua kapal ini singgah dari satu dermaga ke dermaga lainnya.

Di Melonguane, saya dan Farid Gaban tinggal di rumah Juliana Tabaru. Seorang ibu yang tinggal bersama cucunya, Margaretha Olati, duduk di kelas empat sekolah dasar. Juliana sering memasak ikan segar untuk kami. Membuatkan teh, kopi dan pisang goreng. Masakannya enak sekali.

Juliana Tabaru tinggal di rumah sederhana. Beratap seng, dindingnya dari tripleks dan kayu papan. Lantainya baru lapis semen. Beberapa kucing ikut tinggal di rumah ini. Ia memiliki satu televisi. Namun saluran televisi mengikuti selera tetangga. Ia tak memiliki antenna parabola untuk menangkap siaran televisi. Ketika menginap, listrik mati pada siang hari. Dan hanya menyala pada malam hari. Mulai pukul enam sore hingga pukul dua dini hari.

Kami mengenal Juliana dari Mamad Masrif. Seorang mahasiswa Biologi dari Universitas Syam Ratulangi di Manado. Ia tertarik dengan foto dan cerita dari perjalanan Zamrud Khatulistiwa. Ia mengajak kami untuk tinggal di rumah Juliana.

Di Melong, saya menyempatkan diri berenang dan snorkeling di Sara besar dan kecil. Pulau kecil yang berada di depan dermaga Melong. Pulau pasir putih dan tak berpenghuni. Hutan masih terlihat lebat. Airnya jernih. Namun kecantikan kedua pulau ini tak sebanding dengan kecantikan pada bawah lautnya. Terumbu karang banyak yang terjungkal. Banyak karang yang sudah mati. Rata dengan pasir putihnya. Pemandangan bawah lautnya cepat keruh jika air laut mulai pasang.

Kondisi serupa juga terlihat di bibir pantai Melonguane. Terumbu karang nyaris rata. Sisa bongkahan karang terlihat acak. Apa yang menyebabkan kondisi terumbu karang di Talaud berantakan? Mengapa pulau ini jauh kalah dibandingkan dengan Bunaken?

“Karang digunakan untuk keperluan bangunan,” kata Claudio. Ia aktif di organisasi pemuda gereja. Suasana Paskah terasa setiba di Talaud. Talaud tak memiliki gunung. Sehingga sulit mencari bahan-bahan bangunan berupa batu maupun pasir. Karang dan pasir putih jadi bahan utama untuk keperluan bangunan.

Tak mudah mencari informasi yang akurat soal jadwal kapal. Kami mendapatkan informasi kapal perintis akan berlabuh di pelabuhan Lirung di Pulau Salibabu. Pulau yang persis berhadapan dengan Pulau Karakelang. Sekitar jam dua siang, meluncur naik speedboat. Ombaknya terasa kuat. Setiba di pelabuhan ternyata kami mendapatkan informasi yang salah.

Kami segera bergegas kembali ke Melonguane. Menggunakan speedboat 40 PK Yamaha, dua mesin. Melelahkan karena kami membawa ransel cukup berat. Dan khawatir ketinggalan kapal. Setiba di Melonguane, beruntung kapal perintis Meliku Nusa masih menurunkan barang.

Namun ketika hendak masuk kapal, kami dicegat oleh intel. Ada sekitar lima orang dengan wajah garang. Mereka menanyakan kami datang darimana dan mau kemana. Mereka minta kartu identitas.

“Kami dari Jakarta. Ini KTPnya,” kata saya.

Saya enggan mengeluarkan kartu wartawan. Dan menyalahgunakan kartu ini untuk mendapatkan pelayanan khusus. Namun, intel yang tak menunjukkan identitas mereka, tetap ngotot. Mereka mengambil foto dan memotret identitas kami. Keterangan saya hendak ke Miangas tak cukup. Termasuk identitas pribadi.

Farid Gaban tidak suka dengan cara mereka memeriksa. Dan seolah kami adalah penjahat dan orang ilegal yang masuk ke republik ini. Mereka minta surat tugas. Namun, terpaksa, kami menunjukkan kartu pers. Dan akhirnya mereka membiarkan kami naik kapal.

Saat di Miangas, kami melapor ke Polsek, Koramil, dan kepala desa. Salahsatu petugas kepolisian di sana menggertak saya. Bau alkohol dimulutnya menyengat. Ketika singgah di Melonguane dan kembali ke Manado, dua intel berbadan besar juga memeriksa kembali identitas kami. Mereka memfotokopi identitas dan kartu wartawan.

Alasan pemeriksaan seperti ini karena terorisme. Mungkin mereka curiga dengan kumis dan janggut saya yang makin panjang dan liar. Apalagi kami membawa ransel dan mengambil foto maupun video. Terorisme menjadi alasan aparat kepolisian untuk bebas melakukan pemeriksaan tanpa menghormati hak sipil.

Saya dan Farid Gaban tidak suka dengan perilaku aparat seperti itu. Mereka menggunakan alasan terorisme untuk memeriksa identitas kami. Kami juga tidak suka dengan cara mereka melakukan proses pemeriksaan. Kami juga tidak ingin menyalahgunakan kartu wartawan.

“KTP saya ditahan. Belum berani jualan,” kata Hasan Ramdani, 40 tahun, dari Bandung. Ia penjual sepatu dan sandal. Polisi memeriksa semua identitas sampai isi pesan pendek di telephone selulernya. Ia berdagang dari satu pulau ke pulau lainnya. Dari Sorong hingga Talaud.

Hasan tak bisa protes dengan perilaku aparat kepolisian seperti itu. Seperti aparat yang memalak kapal-kapal sayur di Selat Malaka, September 2009 silam. Ketika kami ikut bersama kapal-kapal sayur itu. Namun, siapa yang menyuarakan suara seperti Hasan Ramdani penjual sepatu dari Ciroyom, Bandung itu? Siapa yang melindungi dan menghormati hak sipil mereka sebagai warga negara republik ini?

Perjalanan Menuju Miangas

Perjalanan panjang menuju Miangas. Perlu dua malam dalam perjalanan. Kapal perintis Meliku Nusa singgah dari satu pulau ke pulau lainnya. Selama dalam kapal, untuk pertama kalinya kami memilih menyewa ruang tidur kapten kapal. Ruang ber-AC, tempat tidur busa, kamar mandi sendiri, dan dapat jatah satu kali makan.

Badan tidak terlalu lelah. Seperti ketika kami memilih kelas ekonomi. Dan tidur sembarang di geladak kapal. Mandi dan berak di kamar mandi dan toilet bersama penumpang lainnya.
Menyewa kamar kapten menjadi kemewahan. Dan di ruang ini ada televisi dan dvd. Satu hari sewa kamarnya sebesar Rp 200 ribu. Sedangkan untuk biaya tiket perjalanan sebesar Rp 50 ribu untuk dua orang. Kami perlu menyewa ruang ini karena kondisi fisik dan emosi sudah mulai terasa kelelahan. Kami perlu istirahat agar segera memulihkan kondisi badan.

Saya memanfaatkan untuk menulis catatan perjalanan. Membaca artikel tentang Miangas dan kepulauan Talaud. Sekalian untuk mengisi battere kamera, laptop dan handphone. Menulis di kapal dan di ruang kapten punya sensasi tersendiri. Saya merasa menjadi seorang kapten kapal. Dan menulis jurnal harian untuk mengabarkan tentang kegiatan selama di kapal. Dulu, kapten-kapten menulis dengan pena dari bulu ayam dan tinta. Sekarang menulisnya menggunakan laptop.

Ketika menulis, saya kaget tiba-tiba jidat Farid Gaban terluka. Dan sedikit mengeluarkan darah.

“Saya kena kayu ketika naik kapal,” katanya dengan wajah memerah terkena sengatan matahari. Saya periksa lukanya. Robekan tidak dalam dan cukup diperban kecil. Farid Gaban tampak kelelahan. Sehabis makan siang dengan ikan goreng, ia langsung merebahkan badan di karpet. Tidur. Dengan luka perban di jidat. Dan tangan kiri yang baru saja perbannya diganti saat di puskesmas di Melonguane.

“Masih terasa pegal. Gatal,” katanya.

Kapal Meliku Nusa tiba di Pulau Miangas pada pagi hari sekitar pukul 06.00. Laut sedikit bergelombang. Kapal perintis tak bisa bersandar di dermaga. Kapal terpaksa menjauh dan speedboat milik warga menjemput penumpang dan mengangkut barang bawaan.

Meliku Nusa membawa beras miskin (raskin) untuk warga Miangas. Pemerintah menjual beras murah. Di Miangas harga lima kilogram beras ini sebesar Rp 17 ribu. Warga juga menurunkan belanjaanya. Mie berkardus-kardus. Sayuran hingga babi.

“Nama Miangas hanya dijual saja. Dijadikan proyek,” kata Epsan Pitaratu, tokoh masyarakat Miangas. Kami tinggal di rumahnya. Dan seekor anjing kecil berseliweran di dalam rumah. Ia merasa semua pembangunan di Miangas tak berguna untuk masyarakat.

Setelah SBY memberikan pernyataan, sejumlah bangunan berdiri di Miangas. Dari gedung logistik beras, tangki bahan bakar minyak, puskesmas hingga rencana bandara. Namun bangunan ini terlantar. Atapnya sudah retak. Kaca-kaca jendela pecah. Dan ruangan diisi dengan jemuran dan coretan-coretan. Beberapa botol minuman keras tergeletak. Rumput tumbuh liar di halaman. Tak ada petugas yang bekerja di bangunan itu.

“Kami bungkus minyak dengan kardus. Kalau ketahuan disita oleh petugas polisi dan kapal. Ya, sembunyilah,” kata Epsan. Tak ada kapal tangker Pertamina yang mengisi tank minyak di Miangas. Kapal perintis pun melarang penumpang membawa bahan bakar minyak dan minuman beralkohol. Satu liter minyak tanah sekitar tujuh ribu rupiah. Sedangkan harga bahan bakar minyak sekitar Rp 15 ribu perliter!

Gedung logistik Bulog juga kosong. Tak ada persediaan beras. Begitu juga dengan puskesmas. Tak ada peralatan medis. Kaca pecah. Kantor imigrasi Indonesia juga sepi. Pendopo kosong dan tak terawat. Termasuk bangunan karantina milik Departemen Perhubungan. Sinyal telephone hanya ada di Pos Angkatan Laut dekat Tugu Pancasila. Dan terbatas hanya untuk kirim pesan pendek.

“Kalau cuaca buruk dan perintis tak bisa merapat. Kami makan laluga,” kata Epsan Pitaratu. Laluga sejenis talas. Dan tumbuh di rawa Pulau Miangas.

Warga di Miangas masih menunggu pembangunan bandara di Miangas. Masyarakat bersedia membebaskan lahannya untuk bandara. Ada kesepakatan mengenai harga lahan sebesar 100 ribu rupiah permeter. Namun tak ada kabar lagi mengenai rencana pembangunan bandara itu. Di lahan itu tumbuh ratusan kelapa yang menjadi penopang ekonomi warga Miangas. Masyarakat mengolah kopra dengan harga pasar sekitar Rp. 2.500 perkilogram.

“Warga bingung mau tanam bibit kelapa di lahannya. Pohon kelapa sudah terlalu tua,” katanya.

Kami bertemu dengan Rebustianus Papea. Ia ketua adat yang memimpin proses Manami. Manami adalah ritual adat tahunan. Ritual ini mengatur tentang larangan mencari ikan dalam waktu dan lokasi tertentu. Tradisi ini berlangsung sejak abad ke-16. Di Kakorotan, ritual ini dikenal dengan Mane’e. Di Miangas, proses ini akan berlangsung Mei nanti. Masyarakat turun ke laut ketika surut. Dan mengambil ratusan ikan yang terperangkap di karang.

“Miangas ini dilupakan. Kalau tidak diperhatikan bisa ke Filipina. NKRI hanya janji-janji saja. Bicara dengan presiden tidak ada realisasinya,” kata Rebustianus Papea. Ada kesan nada marah.

Warga di Miangas semakin sulit ketika muncul isu terorisme di Indonesia. Miangas dan Kepulauan Talaud dianggap jalur masuknya teroris dari Filipina. Isu ini membuat lumpuh perdagangan antara warga Miangas dan Filipina. Sejak 2004 hingga sekarang perdagangan mati. Pedagang Filipina tidak lagi membeli ikan hasil tangkapan nelayan Miangas. Orang Miangas kesulitan mendapatkan barang kelontongan.

“Sekarang tidak ada lagi penghasilan tambahan. Cari ikan untuk dimakan saja,” katanya.

Saya teringat pada perjalanan sebelumnya. Di Pulau Midai, Kepulauan Riau. Pulau kecil ini penghasil kopra. Perdagangan tumbuh pada abad ke-18. Warga menjual dan berdagang dengan Malaysia dan Singapura. Namun, Soekarno melakukan propaganda “Ganyang Malaysia”. Isu ini membuat perekonomian di Midai mati. Isu terorisme mengancam nadi kehidupan macam Miangas. Dan bukan mustahil, nasibnya akan seperti Pulau Midai.

Kami berkeliling Miangas. Jalan kaki masuk kebun kelapa. Banyak pemuda, orangtua, aparat polisi, dan tentara yang mabuk. Minuman alkohol cap Tikus menjadi pelarian untuk mengatasi kebosanan di Miangas. Sedih melihat kehidupan di Miangas. Beberapa kali saya menolak halus ajakan untuk menengak minuman keras itu.

Kami diajak untuk melihat empat buah meriam. Meriam ini terletak di atas bukit. Sebuah papan kecil tertulis “Meriam Keramat”. Konon, orang yang punya niat buruk akan mengalami nasib yang sial. Setelah melihat keberadaan meriam ini. Tak ada informasi yang jelas mengenai sejarah meriam ini. Apakah milik Portugis, Spanyol atau Belanda. Meriam ini sudah berkarat.
Spanyol pernah menguasai Filipina. Pulau ini dikenal dengan Poilaten atau lihat pulau di sana. Di sini banyak tumbuh pohon Palm dan kemudian dikenal dengan sebutan Las Palmas. Namun kemudian Amerika mengalahkan Spanyol. Dan jajahannya, Filipina jatuh ke tangan Amerika pada tahun 1898.

Amerika kemudian bersengketa dengan Hindia Belanda. Kasus ini kemudian masuk ke Mahkamah Internasional. Dan putusannya, pada 1928, mengatakan Hindia Belanda menjadi pemenang dan pemilik sah dari pulau ini. Amerika Serikat menerima keputusan itu.

Soekarno Hatta membacakan teks proklamasi pada tahun 1945. Dan kemudian beberapa kali melakukan pertemuan dengan Belanda hingga tahun 1949. Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatannya kepada republik ini. Namun, warga di Miangas belum tahu apakah akan ikut pada republik ini atau tidak. Warga Miangas masih melakukan perdagangan dengan warga Filipina. Mereka menguasai bahasa Tagalog. Dan tak sedikit diantara mereka sudah melakukan perkawinan. Tak ada kerumitan.

Pada tahun 1976 pemerintahan Indonesia dan Filipina membuat perjanjian ekstradisi yang mengakui bahwa Pulau Miangas adalah milik Indonesia. Salahsatu isi protokol perjanjian tersebut dimuat dalam sebuah tugu protokol 12 di Miangas. Ditandatangani oleh Muchtar Kusuma Atmaja sebagai perwakilan Indonesia dan Vicente Abad Santos dari Filipina.

Pemerintahan Indonesia menumbuhkan nasionalisme di masyarakat Miangas dengan mendirikan banyak tugu. Ada tujuh tugu. Salahsatu ditandatangai oleh LB.Moerdani. “Nasionalisme masyarakat disini sudah teruji,” kata seorang tentara koramil yang menjaga pulau ini kepada saya. Namun nasionalisme macam apa yang diinginkan oleh republik ini? Apa yang dimaksud menjaga kedaulatan NKRI yang disampaikan oleh SBY dalam pidato jarak jauhnya?

Di ujung pulau, dekat sebuah lapangan sepakbola, ada sebuah sekolah dasar. Ratusan anak sekolah tanpa alas kaki berjejer rapi. Membentuk barisan hendak upacara. Satu guru memimpin barisan itu. Bendera merah putih berkibar di tiang bendera. Pagi itu, mereka menyanyikan lagu karangan L. Manik.

Satu nusa satu bangsa
Satu bahasa kita

Tanah air pasti jaya
Untuk selama-lamanya

Indonesia pusaka
Indonesia tercinta

Nusa bangsa dan bahasa
Kita bela bersama

Saya sudah lama tak mendengar lagu ini. Semenjak sekolah dasar akhir tahun 80?an. Saya tertegun mendengar lagu ini. Membayangkan bahwa satu bangsa, satu bahasa dan satu nusa adalah pilihan akhir. Sebuah mantra yang hendak menumbuhkan rasa patriotik. Seperti tugu-tugu yang memancang di Pulau Miangas.

Namun, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain. Seperti sayup-sayup dan kemudian senyap ditelan angin dari tepi Samudera Pasifik yang bergemuruh.*
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: