Ironi Negeri Penghasil Aspal

Ilustrasi : Kondisi jalan Kulisusu dari Kota Baubau harus melintasi lumpur, inilah potret ironis daerah yang dikenal sebagai salah satu penghasil aspal alam terbesar di Indonesia. Foto : musafirtimur.wordpress. 

Akses menuju Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara tidaklah senyaman kita berjalan di daerah lain di provinsi Sulawesi Tenggara. Sepanjang dua jam perjalanan menuju Pasarwajo (Ibukota Kabupaten Buton) kita akan disuguhi jalan rusak dan berdebu. Kondisi ini berlangsung hampir 10 tahun belakangan. Tak ada upaya perbaikan dari pihak pemerintah. 

Pemerintah kabupaten menyerahkan tanggung jawab tersebut pada pemerintah provinsi, sebab status pemeliharaan jalan tersebut berada dalam wewenang provinsi. "Perbaikan dan pemeliharaan jalan Itu tanggung jawab pemerintah provinsi,"kata Drs Lutfi Hasmar Kepala Badan Informasi Komunikasi Kabupaten Buton. 

Sejauh 58 KM dari Kota Baubau menuju daerah Pasarwajo yang terlihat hanya kondisi jalan rusak. Ada sebagian badan jalan yang beraspal, tapi telah ditambal sulam. "Orang di sini menyebut aspal sinetron, artinya sedikit bagusnya, lebih banyak rusaknya,"kata Isman, warga Kota Baubau mengomentari jalan rusak di Buton. Kerusakan jalan terparah berada di kilometer 10 dari Kota Baubau hingga 40 KM menuju Kabupaten Buton di Pasarwajo.

Meski tudingan miring diarahkan ke pemerintah provinsi, namun yang jelas kondisi jalan yang rusak parah tersebut sungguh kontras dengan julukan Buton sebagai penghasil aspal. Ya, dalam perut bumi Buton mengandung beribu-ribu ton aspal mentah. Berpuluh tahun predikat ini disadang Pulau Buton sebagai penghasil aspal alam. Bahkan dalam mata pelajaran sekolah, siswa akan dengan mudah mengingat nama Buton sebagai daerah penghasil aspal. "Sejak semasa sekolah dasar dulu, saya sudah mendengar naman Buton sebagai penghasil aspal, tapi faktanya tak seperti itu,"kata Tamrin, salah satu jurnalis lokal di Kendari mengeluhkan kondisi jalan di Buton.

Saat menginjakkan kaki di Pasar wajo, sebuah tambang aspal yang dikelola PT Sarana Karya berdiri kokoh dan hanya berjarak 5 KM dari pusat ibukota Buton. Nasib tambang aspal buton sejak 2000 lalu hingga kini terus terkatung-katung akibat menipisnya modal investor PT Sarana Karya. Perusahaan Badan Usaha Milik Negara ini dikabarkan tengah sekarat. Kondisi keuangan perusahaan yang kembang kempis kian menambah beban perusahaan. 

Ratusan tenaga kerja terpaksa menganggur sejak perusahaan ini mulai mengalami bangkrut pada tahun 1997 lalu. Krisis moneter telah menyeret PT Sarana Karya diambang pailit.

Untuk mengembalikan citra Buton sebagai penghasil aspal pemerintah setempat nampaknya tak patah arang. Pada medio Mei 2006 lalu Pemda telah melakukan penandatangan MoU dengan sejumlah investor diantaranya PT Karya Megah Buton. Bahkan Bupati Buton Drs Sjafei Kahar, Sabtu pekan lalu, telah meletakkan batu pertama tanda dimulainya pembangunan pabrik pengolahan aspal modifier PT Karya Megah Buton di Desa Suandala, Kecamatan Lasalimu, Buton. Rencananya tahun 2007 pabrik tersebut sudah bisa berproduksi.

"Alhamdulillah setelah PT Karya Megah Buton melakukan penelitian di Kabungka, mereka menemukan tambang baru aspal dan akan dibangun pabrik yang lebih besar di sana,"katanya. Tentang tambahan PAD, Sjafei belum memastikan berapa nilainya. "Itu tergantung dari berapa besar produksi yang dipasarkan dan pemerintah menarik retribusi sekitar enam persen dan setiap ton yang dipasarkan,"kata Sjafei seperti ditulis dalam artikel majalah milik Pemda Buton.

Sekitar 17 tahun sejak 1986-2003, pemerintah tidak pernah memperoleh pendapatan dari aspal. Sjafei mengatakan, potensi aspal buton begitu besar dan dikenal di dunia. Tapi apa yang terjadi selama puluhan tahun PT Sarana Karya selaku investor tunggal hanya memasarkan aspal alam, tanpa memperbaiki mutu pengolahan, akibatnya nama aspal buton semakin merosot di mata dunia. "Ini merupakan perjuangan panjang agar mutu aspal bisa diterima di pasaran dalam dan luar negeri,"katanya.

"Tahun 2005 lalu, mulai ada pemasukan kurang lebih 400 juta dari aspal yang dipasarkan termasuk PT Buton Aspal Indonesia dan PT Sarana Karya. Dan saya optimis tahun 2006 ini akan lebih banyak lagi melalui investasi PT PT Karya Megah Buton,"tambahnya.

Sementara itu, Dirut PT KMB Robin Setiono dalam wawancara dengan wartawan koran lokal Kendari, bahwa tahap pertama melalui aspal modifier pihaknya akan mengurangi kadar air aspal buton melalui proses pemanasan dan penghalusan. dan kta pastikan kualitasnya sama, homogen. sekarang yang sering jadi masalah aspal buton dikirim mentah-mentah, tanpa orang itu tahu, kan sifat aspal buton berbeda,"katanya.

Bila diubah menjadi aspal modifier robin mengaku harga jual aspal buton sekitar 100 dolar per ton dengan kandungan 20 persen kadar aspal. berart otomatis dari kandungan aspalnya 500 dolar per ton, lebih mahal dibanding harga jual aspal alam.

Investasi tahap pertama sekitar 20 miliar rupiah, tahap ke dua pembangunan pabrik pemurnian aspal lebih besar lagi dan dibutuhkan dana sebesar 200 miliar rupiah. Tahap pertama pengolahan relatif lebih sederhana, dan telah berhasil diuji di kabungka. "Aspal buton ini unik, di dunia hanya satu. Kita coba teknologi dari kanada ternyata aspalnya beda,"katanya. (Yos Hasrul)




Artikel Terkait:




Kirim Komentar Anda:
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
.
Your donation allows us to continue to make environmental information dissemination activities in Indonesia and the world. thank you