Indonesia Tak Miliki Data Keanekaragaman Hayati

JAKARTA, BL- Indonesia, perhitungan kuantitatif mengenai hilangnya keanekaragaman hayati dinyatakan belum ada. Terutama disebabkan oleh tidak adanya data awal dari keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia sendiri.

Hal tersebut diungkapkan oleh Peneliti Senior di Bidang Entomologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rosichon Ubaidillah akhir pekan kemarin. Sementara itu seperlima dari tanaman yang ada di dunia kini tengah beresiko mengalami kepunahan. Analisis ini dikeluarkan oleh Royal Botanic Gardens at Kew, the Natural History Museum dan International Union for the Conservation of Nature (IUCN), akhir minggu pertama Oktober 2010 ini.

“Meskipun begitu, untuk beberapa kelompok mamalia memang sudah ada perhitungan kuantitatif mengenai berkurangnya spesies tersebut dari waktu ke waktu,” sambung Rosichon, yang dikenal juga sebagai Ketua Perencana, Evaluasi, dan Monitoring Bidang Ilmu Hayati LIPI.

Lebih jauh, lanjutnya, justru yang mengkhawatirkan saat ini adalah soal keberadaan Invasive Alien Species yang mengganggu keberadaan tanaman asli Indonesia. Invasive Alien Species ini merupakan spesies tanaman yang berasal dari luar Indonesia dan keberadaannya dinilai mendesak spesies tanaman asli Indonesia. 
Contohnya adalah keberadaan tanaman Akasia di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, yang diindikasikan mengganggu grassland (ladang rumput) di sana.

Dalam laporan yang dikeluarkan IUCN, disebutkan bahwa para peneliti telah melakukan studi terhadap hampir 4.000 spesies, dan meyimpulkan bahwa 22 persen diantaranya dapat diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah. Tingkat kekhawatiran ini pun serupa dengan tingkat kekhawatiran terhadap kepunahan mamalia. Terlebih lagi 33 persen dari spesies yang terancam punah tersebut masih sulit untuk dipahami dan dinilai dari sudut pandang ilmu pengetahuan.

Diperkirakan sejumlah 380.000 spesies tanaman ada di muka bumi, dan kebanyakan telah kehilangan habitatnya. Hal ini terutama akibat pembukaan hutan untuk lahan-lahan pertanian. Dari semuanya, spesies-spesies yang berada di hutan hujan tropis ternyata memiliki resiko paling besar terhadap ancaman kepunahan.

Penelitian mengenai ancaman kepunahan spesies tanaman tersebut dikenal sebagai “Sampled Red List Index for Plants”, yang merupakan sebuah upaya penelitian untuk memberikan penilaian paling akurat terhadap studi yang dilakukan. Penelitian serupa sebelumnya juga telah dilakukan, terutama difokuskan kepada tanaman-tanaman yang paling terancam punah atau difokuskan pada wilayah-wilayah tertentu saja.

Para peneliti yang terlibat dalam studi tersebut menyebutkan bahwa hasil-hasil yang didapat dari studi yang mereka lakukan itu dapat dikatakan lebih kredibel. Hal ini karena mereka mencoba untuk meneliti beberapa sampel atau contoh spesies dari lima kelompok utama tanaman yang ada di dunia.

Salah seorang peneliti yang terlibat, Profesor Stephen Hopper, berujar bahwa penelitian tersebut akan menghasilkan semacam baseline atau dasar ukuran untuk mengetahui mengenai seberapa jauh kerugian yang mungkin muncul di masa depan terkait dengan kepunahan beberapa spesies tanaman tersebut.

“Kita tidak bisa hanya duduk terdiam dan menyaksikan bagaimana spesies tanaman tersebut mengalami kepunahan. Tanaman merupakan hal dasar bagi semua kehidupan yang ada di bumi, di mana tanaman itu menyediakan udara yang bersih, air, makanan, dan bahan bakar,” ucapnya, Rabu (29/9/10).

Penelitian tersebut ternyata juga melibatkan beberapa jenis tanaman, termasuk lumut, paku-pakuan, anggrek, serta beberapa jenis kacang-kacangan, seperti kacang polong dan buncis. Dan yang mengejutkan, ketakutan yang muncul di kalangan peneliti botani adalah bahwa spesies-spesies yang ada akan mengalami kepunahan sebelum sempat mereka teliti terlebih dahulu, terutama adalah tanaman-tanaman yang memiliki potensi sebagai obat bagi penyakit tertentu dan berada di daerah hutan hujan tropis. (Prihandoko/siej)
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: