Saatnya Petani Deteksi Cuaca Sendiri - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad

Saatnya Petani Deteksi Cuaca Sendiri

Saatnya Petani Deteksi Cuaca Sendiri

Share This
Tanaman cabe rusak lantaran petani tak memperdiksi cuaca dengan tepat. Foto : Bhekti Suryani.
Tanaman cabe rusak lantaran petani tak memperdiksi cuaca dengan tepat. Foto : Bhekti Suryani.
Oleh: Bhekti Suryani *

Kesulitan memanfaatkan info cuaca sebagai pedoman bercocok tanam, dinilai salah satu penyebab gagal panen di Bantul. Sekolah Lapang Iklim (SLI) diharapkan mampu membantu petani memanfaatkan info BMKG serta memiliki skill mendeteksi cuaca sendiri, guna mengurangi risiko bencana.

Penggagas SLI, dari IPB, Rizaldi Boer, beberapa waktu lalu, menyatakan, ketidakmampuan petani memanfaatkan info cuacaBMKG sebagai penyebab kesalahan petani menentukan jenis dan masa tanam. Pasalnya, kata dia, info BMKG  bersifat ilmiah, sulit dipahami orang awam. 

Alhasil petani berpedoman pada kepecayaan turun temurun dalam menentukan jenis dan masa tanam. Karenanya petani harus mampu menyerap informasi cuaca. Pengetahuan “Misalnya di Indramayu, petani tak percaya soal perkiraan, sebenarnya kalau mereka mampu memanfaatkan dengan baik informasi cuaca itu bisa membantu,” katanya.

Fasilitator SLI dari Dinas Pertanian, Mujiman, mengaku, sulit memberi pemahaman ke petani. Padahal, petani tak bisa terus menerus mengandalkan pranata mangsa. Karena perubahan iklim membuat pranata mangsa tidak akurat. Sementara, pengetahuan membaca info serta keahlian mendeteksi cuaca dibutuhkan.

Ketua Gapoktan Desa Parangtritis, Kretek, Kadiso, Sabtu (23/10), menyatakan, petani harus beradaptasi menghadapi perubahan iklim. Kemampuan deteksi diperlukan. Misalnya mengukur curah hujan serta arah angin untuk mengantisipasi banjir, seperti membenahi saluran dan meninggikan galangan. Demikian halnya Sarjono, petani kacang kedelai di Niten, Bantul, berharap bisa mengakses info cuaca. “Kalau bisa, sebenarnya ingin sekali memahami info BMKG, selama ini saya nggak pernah tahu,” tuturnya.

Rizaldi Boer, menyatakan, SLI pertama dimulai di Indramayu pada 2002, bertujuan membantu petani memanfaatkan info cuaca kemampuan deteksi cuaca yang berlangsung pendek. SLI bahkan telah menjadi program nasional Kementerian Pertanian. Sayangnya program itu terganjal, lantaran belum maksimal diterapkan. 

Meski telah diprogramkan secara nasional, SLI belum berdampak luas. Rizaldi mengakui, tak bisa menyimpulkan SLI efektif menekan resiko gagal panen, kecuali dilihat dari kelompok kecil macam di Indramayu yang telah menjalankannya. Terpisah, Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gatot Irianto, menyatakan, pemerintah sebenarnya telah berupaya mencegah resiko kegagalan panen dengan berbagai cara. Diantaranya mengubah pola tanam palawija menjadi padi bila ternyata hujan terus mengguyur. 

“Kalau hujan terus ya jangan tanam palawija seperti kedelai, ya rusak total, diganti padi, itu namanya beradaptasi,” ujarnya.

Terkait SLI, ia mengklaim cukup efektif mengurangi resiko gagal panen. Namun ia tak menyebut daerah mana saja yang berhasil menerapkanya, serta daerah mana saja yang belum tercover termasuk Bantul yang kerap gagal panen lantaran petani kebingungan mendeteksi cuaca. 

“Sudah itu sudah diterapkan (SLI), ya cukup efektif, misalnya mengukur curah hujan, tapi kan itu tidak seperti sekolah formal, memberi informasinya juga tidak tiap hari,” katanya.

Gatot menambahkan, pemerintah juga berencana menerapkan asuransi pertanian untuk mengganti kerugian petani yang disebabkan perubahan cuaca. Namun ia tak bisa menargetkan kapan kebijakan itu diterapkan. Lembaganya masih harus mencari perbankan yang akan menangani penyerahan premi serta besaran premi yang akan diberikan. Pelaksanaan kebijakan diperkirakan memakan waktu lama lantaran masih harus dibahas di DPR untuk disetujui. ***

* Penulis adalah peserta fellowship SIEJ.

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad