Mahitala Unpar Menapak Tujuh Puncak Bumi

Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala, Unpar (ISSEMU) yang terdiri dari Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Broery Andrew Sihombing dan Janatan Ginting berhasil mencapai puncak Gunung Denali di Amerika Utara pada 7 Juli 2011/foto.Mahitala, Unpar.

Tanggal 7, bulan 7 di tahun 2011 menjadi hari istimewa bagi keluarga besar Mahasiswa Pecinta Alam (Mahitala) Universitas Parahyangan (Unpar)  Bandung. Lantaran, di hari itulah lewat empat pendakinya yakni Sofyan Arief Fesa (28), Xaverius Frans (24), Broery Andrew Sihombing (22), dan Janatan Ginting (22) berhasil menapaki puncak tertinggi di Benua Amerika Utara yaitu Denali (6.194 meter di atas permukaan laut).

Dan perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai atap-atap tinggi di dunia akhirnya membuahkan hasil yang amat membanggakan. Dari mereka berempatlah gelar The Seven Summiters dipersembahkan untuk pertama kalinya bagi Indonesia oleh tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU).

Pendakian menuju Puncak Denali bukanlah perkara yang mudah. Menurut Sofyan, Denali memiliki cuaca yang tidak bisa diprediksi karena sangat cepat untuk berubah. “Ketiadaan tenaga angkut atau porter membuat tim harus mengangkut perbekalannya sendiri-sendiri. Dengan sistem Himalayan Tactic atau sistem turun naik dari camp ke camp,” kata Sofyan.

Perjalanan menuju Puncak Denali dimulai dari Base Camp Denali di ketinggian 2.225 mdpl atau lebih di kenal dengan nama South East Fork (SE Fork). Tim Mahitala mencapai SE Fork pada 24 Juni 2011 yang terletak di padang salju Kahiltna dengan menggunakan pesawat tipe Fokker yang diberangkatkan dari Talkeetna.

Disambut Cuaca Buruk

Setelah sampai di SE Fork, sambutan yang tak diharapkan datang. Karena cuaca buruk yang tiba-tiba melanda, pada 27 Juni 2011, semua pendakian di Denali dihentikan.

Baru keesokan harinya, Tim Mahitala mulai bergerak dari Camp 1 menuju Camp 2 pada ketunggian 3.048 mdpl untuk melaksanakan pengangkutan logistik tahap pertama. Dan melalui keputusan singkat yang dibuat oleh Matthew Emnt, seorang pemandu dari Alpine Ascents International (AAI), jumlah camp pendakian yang semula direncanakan 5 buah akhirnya harus dipotong menjadi 4 buah camp saja. “Akibatnya untuk menuju puncak dengan jarak antar camp yang semakin jauh dibanding perencanaan semula,” imbuh Sofyan.

Dengan pergerakan yang perlahan-lahan namun pasti, tim bergerak dari camp ke camp untuk terus menambah ketinggian di tengah hujan salju, kabut tebal, dan angin kencang. Kondisi sangat berat dialami tim, lanjut Sifyan, setelah melewati Camp 3. Perjalanan dari Camp 3 menuju Camp 4 sangatlah curam. “Kami harus melalui medan dengan kemiringan antara 44-50 derajat dan medan yang bervariasi antara es dan salju ditambah dengan cuaca yang buruk,” katanya.

Dengan suksesnya pendakian Denali ini, maka Mahitala Unpar memposisikan Indonesia menjadi negara ke-53 yang berhasil menuntaskan seven summits. Dan menjadikan para pendakinya menjadi seven summiters bersama 275 pendaki dari seluruh dunia yang berhasil memiliki gelar yang prestisius tersebut.

Pendakian mereka dimulai dari tanah air dengan menaklukan puncak Cartensz Pyramid ( 4.884 m) di Papua pada tanggal 26 Januari 2009. Kemudian mereka menuju Afrika untuk menaklukan puncak Kalimanjaro (5.895 m) di Tanzania pada 10 Agustus 2010. Dilanjutkan ke Rusia menaklukan puncak Elbrus (5.642 m) gunung tertinggi di Eropa pada tanggal 24 Agustus 2010,  lalu menuju Antartika menaklukan puncak Vinson Massif (4.897 m) pada tanggal  13 Desember 2010.

Setelah mencapai emapat puncak dunia itu, kemudian mereka menuju benua Amerika untuk mencapai puncak Aconcagua (6.962 m) di Argentina yang berhasil mereka capai pada tanggal  Januari 2011. Dan mereka juga berhasil menjadi yang kedua dari Indonesia yang berhasil menaklukan puncak tertinggi di dunia setelah tim Kopasus pada 27 April 1997 yaitu Masirin dan Asmujiono, yaitu puncak Everest (8.848 m) di Nepal pada tanggal 20 Mei 2011. Dan satu lagi yang terakhir dicapai puncak Denali (6.194 m) di Alaska.

Usaha Dua Kali di Everst

Selain itu, kado istimewa bagi Bangsa Indonesia juga dipersembahkan oleh Mahitala ini pada 20 Mei 2011. Pada hari kebangkitan nasional itu, mereka mencapai Puncak Everest dengan ketinggian 8.848 mdpl. Dan mereka juga menjadi tim mahasiswa Indonesia pertama yang mencapai puncak Sagarmatha (sebutan masyarakat Nepal untuk Everest yang artinya Dewi Langit).

Manajer tim Julius Mario mengatakan, pendakian menuju puncak Everest merupakan upaya kedua setelah yang pertama gagal karena tim dihadang cuaca buruk di Camp III (7.400 mdpl). Pada pendakian itu, Broery, mencapai puncak pada pukul 05.22 waktu setempat. “Broery termasuk lima pendaki yang tercepat mencapai puncak dari 120 pendaki yang malam itu menyerbu puncak,” kata Mario.

Sekitar 49 menit kemudian, Janatan menyusul menggapai puncak yang ditandai dengan tripod alumunium itu ditemani sherpa Gelgen Dorji. Setelah mengambil dokumentasi, Broery dan Janatan segera turun. “Tidak bisa berlama-lama di puncak karena suhu sangat dingin mencapai minus 30 derajat Celcius dan banyak pendaki yang menuju puncak,” kata Broery.

Selanjutnya, Sofyan dan Frans mencapai puncak sekitar dua jam kemudian ditemani dua sherpa. Mereka terpisah jauh dengan dua rekannya karena antrean memanjat Hillary Step, undakan terakhir sekitar 200 meter menjelang puncak.

Mahitala Unpar adalah kelompok mahasiswa pencinta alam yang berdiri pada 8 April 1974. Nama Mahitala diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti bumi. Hingga kini jumlah anggota Mahitala tercatat lebih dari 700 orang.

Berbagai kegiatan yang digelar antara lain Ekspedisi Terpadu Maoke 1984, Ekspedisi Sungai Bahau Kayan 1990, Ekspedisi Terpadu Celebes 1993, Ekspedisi Sungai Lariang 2000, Ekspedisi Pegunungan Sudirman 2009.

Di Indonesia, upaya pendakian The Seven Summits telah dirintis sejumlah kelompok  pencinta alam seperti Mapala UI dan Wanadri sejak tahun 1990-an. Namun setelah musibah yang menimpa ekspedisi Mapala UI di Aconcagua tahun 1992 yang menelan korban jiwa anggotanya, Norman Edwin dan Didiek Samsu, upaya tersebut seolah surut dan baru digiatkan kembali pada tahun 2009. (Asep Saefullah).
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: