Berwisata di Pulau Tidung Sembari Mulung Sampah


Ilustrasi, Komunitas Kakigatel.com melakukan aksi bersih-bersih sampah dalam acara Gabung Mulung Tidung di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Foto: Fikri Hidayat/Kompas.
Layak dicontoh, inilah dua kata yang pas dilabelkan kepada komunitas travelling Kakigatel. Komunitas petualang ini tak hanya berwisata dan menikmati keindahan Pulau Tidung, Kepulauan Seribu,  namun mereka melakukan gerakan bersih-bersih pantai atau mulung sampah.

Sebelumnya, Mei lalu Kakigatel.com bersama Komunitas travelling Couchsurfing.org juga berhasil menggelar aksi serupa.  Kali ini Kakigatel menggandeng kelompok pembela lingkungan, Greenpeace Indonesia melakukan aksi bersama membersihkan Pulau Tidung dan mendorong pemanfaatan energi terbarukan. Aksi tersebut diikuti lebih dari seribu masyarakat Jakarta,

Selama dua hari mereka  berkumpul di Pulau Tidung untuk melakukan aksi bersama membersihkan Pulau Tidung. Bersama Greenpeace, mereka juga mengkampanyekan pemanfaatan energi terbarukan guna mewujudkan Pulau Tidung sebagai salah satu daerah tujuan wisata kepulauan yang bervisi lingkungan yang berkelanjutan, aksi tersebut berlangsung dari tanggal 17 - 18 September 2011.

Pulau Tidung, yang merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang kini tengah popular di kalangan masyarakat Jakarta, sekitar empat sampai enam ribu orang mengunjungi  pulau ini setiap pekannya.

Pemandangan yang indah, pasir pantainya yang putih serta panorama bawah laut yang cukup mempesona menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk datang kemari,  waktu tempuh yang cukup singkat  dan akses yang mudah dari Jakarta, menjadi nilai tambah bagi Pulau Tidung . Sayangnya, potensi pariwisata yang ditunjang oleh keindahan alam ini terancam oleh pencemaran sampah dan limbah serta rusaknya ekosistem terumbu karang . “Ini aksi nyata. Gabung Mulung Tidung bukan harga sebuah kekomersilan, karena kegiatan ini diprakarsai oleh solidaritas tangggung jawab anak-anak bangsa untuk menciptakan edukasi yang luas tentang lingkungan, pendidikan, juga pariwisata. Edukasi tidak mengenal waktu, dengan kata lain edukasi perlu sebuah konsistensi yang tinggi dan berkelanjutan untuk mencapai tujuan nyata. Bangkitlah menjadi manusia yang penuh edukasi dan kepedulian” kata Bartasan Wauran Koordinator Komunitas Kakigatel kepada Beritalingkungan.com (20/9).

"Sedikirnya ada 13 titik di pulau Tidung Besar yang menjadi lokasi mulung sampah. Dari mulung itu kami menemukan berbagai sampah seperti sampah botol akua, boneka, tas, plastik dan lain-lain,"ungkapnya.

Selain memulung sampah,  mereka juga melakukan penanaman mangrove, peremajaan taman baca dan pembagian ribuan buku kepada pengelola taman baca. Kegiatan lainnya adalah penanaman batu kubus., jangkar tersebut dapat merusak karang-karang di lautan. Batu kubus menjadi sarana pengganti pengait jangkar nelayan setempat. 

Selain lingkungan yang terancam oleh sampah dan pencemaran, akses  listrik yang terbatas juga merupakan masalah yang harus dihadapi oleh penduduk Pulau Tidung. Meskipun merupakan bagian dari wilayah Ibu Kota Negara Indonesia,  kebutuhan listrik Pulau Tidung masih sangat tergantung  pada generator listrik yang bahan bakarnya dari solar.

Penggunaaan listrik pun dibatasi pada waktu-waktu tertentu saja, padahal dengan karakteristik kepulauan, potensi energi terbarukan yang terdapat di Pulau Tidung, khususnya energi surya, dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik Pulau Tidung secara mandiri dengan sumber-sumber energi bersih dan terbarukan. 

“Sebagai negeri yang dikaruniai potensi energi terbarukan yang luar biasa melimpah, seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakatnya khususnya di pulau-pulau kecil seperti Tidung ini, oleh karena penting bagi masyarakat di pulau ini untuk menyadari bahwa mereka memiliki energi alternatif yang bersih, murah, dan berlimpah “Kata Didit Wicaksono, Koordinator Solar Generation Greenpeace Indonesia.  “Kita harus segera menghentikan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan pemerintah harus menjamin hak masyarakat untuk mengembangkan sumber-sumber energi terbarukan yang berbasiskan masyarakat”, tambahnya.

Pada kesempatan ini Greenpeace bersama Komunitas Kakigatel juga melakukan pemasangan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya skala sederhana yang menghasilkan listrik untuk penerangan perpustakaan rakyat yang ada di Pulau Tidung."Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus diupayakan ditahun-tahun mendatang. Kalau bisa 4 atau 6 bulan sekali, karena kondisi Pulau Tidung saat ini sangat memprihatinkan. Kami berharap dengan adanya aksi mulung dan edukasi ini, masyarakat memiliki kesadaran dan mau berkontribusi melestarikan Pulau Tidung,"tandas Bartasan.  (Marwan Azis).
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: