Angin Pesimistis dari Durban

Suasana COP 17 di Durban, Afrika Selatan. Foto : cop17-cmp7durban.com
Suasana COP 17 di Durban, Afrika Selatan. Foto : cop17-cmp7durban.com
JAKARTA, BL- Tak banyak yang diharapkan dari konferensi perubahan iklim di Durban, Afrika Selatan. Indonesia, betatapun pesimistisnya, masih dapat berharap hasil positif.    

Direktur Program Energi dan Iklim WWF Indonesia Nyoman Iswarayoga menyatakan, para pihak yang hadir dalam konferensi perubahan iklim PBB di Durban, Afrika Selatan tak akan berharap banyak. Harapan yang terlalu tinggi, seperti lahirnya keputusan yang mengikat (legally binding agreement) sangat sulit direalisasikan. 

"Apalagi berharap adanya treaty baru yang menggantikan Protokol Kyoto," ujarnya dalam acara diskusi Pra-Durban bersama SIEJ di Jakarta, Selasa 22 November.

Nyoman menjelaskan kondisi perekonomian yang memburuk di Eropa, dan keengganan Amerika untuk berkomitmen merupakan penyebab utama tiadanya harapan yang terlalu muluk di COP17 di Durban ini. 

 "Komitmen Presiden Obama di awal pemerintahannya ternyata terbukti gagal diimplementasikan karena pengaruh politik di dalam negeri,"ungkapnya,"ditambah lagi kemungkinan berkurangnya komitmen Uni Eropa terhadap penurunan emisi, karena memburuknya perekonomian mereka."  Kedua kondisi ini bertambah para karena Jepang, sebagai tuan rumah Protokol Kyoto, bersama dengan Rusia,sejak COP16 di Cancun, Meksiko pada tahun lalu, sudah menyatakan tidak akan ada komitmen baru pasca 2012. 

Sikap penolakan Jepang  terhadpa protokol baru pascara Kyoto, telah memunculkan pesimisme yang menguat di kalangan para pihak dalam UNFCCC, bahwa konferensi tahun ini akan bernasib kurang lebih sama dengan yang terdahulu. 

Tetapi, Nyoman menegaskan bahwa Indonesia masih dapat berharap  hasil yang positif beberapa negosiasi, antara lain tentang REDD Plus, termasuk didalamnya mekanisme pembiayaan dalam kerangka green climate fund, yang akan diimplementasikan pada 2013.  

Saat ini negara-negara maju sudah berkomitmen untuk menyediakan dana sebesar 100 miliar dolar Amerika, dalam kerangka pembiayaan perubahan iklim. Namun, komitmen ini masih menimbulkan perdebatan, antara lain karena negara-negara maju ini memasukkan dana hibah yang telah mereka berikan sebelum komitmen ini diluncurkan di Copenhagen pada 2009 lalu.  Indonesia dapat memanfaatkan mekanisme fast track climate financing, yang sampai saat ini, menurut Oxfam, jumlahnya sudah mencapai lebih dari 31 miliar Dolar. 

Senin 28 November, konferensi kerangka kerja perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau konferensi para pihak ke-17 (COP17) dibuka di Durban, Afrika Selatan. Konferensi ini akan berlangsung sampai tanggal 9 Desember 2011.(IGG Maha Adi) 
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: