Saatnya Kembali Menghidupkan Pengetahuan Lokal

Ilustasi petani tradisional Cina. Foto : photoblog.msnbc.
Ilustasi petani tradisional Cina. Foto : photoblog.msnbc.

Pengetahuan lokal ternyata bisa menjadi  salah satu solusi mengatasi dampak perubahan iklim disektor pertanian terutama dalam mengatasi krisis pangan ditingkat komunitas. 

Sebuah penelitian terbaru dari International Institute for Environment and Development (IIED) mengungkapkan kearifan lokal yang diajarkan turun temurun telah menuntun masyarakat tradisional yang terbelakang sekalipun mampu bertahan menghadapi perubahan iklim.

Penelitian tersebut mengambil studi kasus di Bolivia, Cina dan Kenya.  Riset tersebut mengungungkapkan pengetahuan lokal yang tradisional dalam sistem pertanian telah terbukti mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.  Banyak kearifan yang telah diterapkan secara turun temurun yang bisa harmonis dengan alam. Praktek-praktek tradisional itu disesuaikan dengan ketinggian tempat, jenih tanah, curah hujan dan sebagainnya yang kesemuanya mendukung keberlanjutan lingkungan.

Para petani telah terbiasa  menggunakan tanaman lokal untuk mengendalikan hama dengan cara memilih varietas tanaman yang mampu mentolerir kondisi ekstrim seperti kekeringan dan banjir, menanam beragam tanaman untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan. Pemuliaan varietas jenis baru secara lokal ini dilakukan berdasarkan ciri-ciri kualitas yang melindungi keanekaragaman hayati.

Varietas benih lokal yang telah dikembangkan secara lokal lebih cocok dengan kondisi lokal yang berlaku -seperti tanah dan hama- bahkan dengan perubahan iklim seperti kekeringan. Selain itu, benih lokal juga lebih murah.

"Di Guangxi, barat daya Cina, sebagian besar petani yang menggunakan varietas lokal selamat dari kekeringan musim semi di tahun 2010, sementara sebagian besar hibrida modern hilang", kata Dr Yiching Song dari Pusat Kebijakan Pertanian Cina yang juga terlibat dalam penelitian tersebut.

Hal yang sama juga  dipraktekan di Kenya. Para petani di pesisir Kenya telah kembali menggunakan varietas lokal untuk mengatasi perubahan iklim. "Pengetahuan lokal, tanaman dan praktek-praktek manajemen sumber daya merupakan elemen penting dari kemampuan adaptasi lokal," kata Doris Mutta, peneliti senior di Institut Penelitian Kehutanan Kenya.

Lebih penting lagi, dengan varietas lokal, petani dapat memilih dan menyimpan benih sendiri untuk musim panen berikutnya, Kondisi ini merupakan sistem pertanian mandiri dan berkelanjutan yang diperlukan saat adaptasi musim.

Sementara, varietas modern ketersediaannya  sangat ditentukan oleh pasar, dan sering dilindungi oleh hak kekayaan intelektual yang dapat membatasi penggunaannya.  Bibit unggul juga membutuhkan input mahal seperti pupuk dan pestisida, dimana banyak petani pribumi tidak sanggup membelinya.

"Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi penyebaran cepat hibrida dengan mengorbankan ras darat lokal bagi sebagian besar tanaman pangan di Cina. Pertanian modern, seperti benih hibrida, telah membuat para petani terpencil miskin dan rentan terhadap ketergantungan mereka pada sumber daya eksternal," papar Dr Yiching Song, dari Pusat Kebijakan Pertanian Cina.

Selain itu, pertanian modern dengan varietas barunya sering terkendala dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Sementara stres lingkungan dan variabilitas iklim berarti kelangsungan hidup petani miskin sangat tergantung pada ketersediaan varietas lokal yang lebih tangguh,  namun bagi para pengusaha multinasional ini dijadikan peluang bisnis yang menempatkan kepentingan pribadi/korporasi benih komersial diatas kepentingan umum demi mempertahankan keuntungan.

Para peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut juga mengungkapkan, kebijakan pemerintah cenderung mengabaikan pengetahuan dan gagal melindungi hak-hak petani untuk bercocok tanam secara tradisional dan mendapat manfaat dari penggunaan dan akses pasar.

"Kebijakan, subsidi, penelitian dan hak kekayaan intelektual telah mempromosikan beberapa varietas komersial modern dan pertanian intensif dengan mengorbankan tanaman tradisional," ujar Krystyna Swiderska, seorang peneliti senior IIED. Ini menyimpang karena kekuatan negara dan masyarakat sangat bergantung pada berbagai tanaman yang terancam punah sebagai bagian dari keanekaragaman hayati yang masih bertahan.

Metode pertanian yang dipraktekan oleh nenek moyang diberbagai komunitas masyarakat adat termasuk di Indonesia hanya berfokus pada apa yang diberikan alam pada mereka berupa berbagai jenis tanaman seperti kopi, kayu manis dan berbagai tumbuhan liar lainnya sudah cukup untuk kebutuhan masyarakat saat itu. Namun sekarang praktek pertanian yang dikembangkan manusia moderen yang hanya bertumpu pada aspek pertumbuhan dan keuntungan telah menimbulkan banyak masalah terhadap lingkungan dan terbukti gagal mensejahterakan manusia.

Kondisi ini diperparah oleh dampak perubahan iklim menyebabkan petani semakin kesulitan dalam menentukan waktu tanam dan panen.

"Yang terasa adalah musim tanam tak menentu. Ketika mempersiapkan bulan September-November untuk menanam padi, tapi air tidak tersedia, sementara bibit sudah harus tanam,"kata Irma Venny aktivis La Via Campesina Regional Asia Tenggara  dalam berbagai kesempatan.

Saat ini petani diperhadapkan oleh kondisi iklim yang semakin tak menentu karena musim hujan dan kemarau semakin susah diproyeksi. Selain itu, petani juga diperhadapkan ketahanan bibit tanaman, karena suhu makin tinggi akibatnya beberapa bibit sayuran seperti bayam dan lain-lain tidak tahan panas. "Ini sangat menyulitkan petani,"ujarnya.

Solusinya petani sebaiknya kembali kepada pertanian lestari serta pemerintah harus mendukung kedaulatan pangan nasional. Pengetahuan yang mendalam para petani tentang praktek-praktek pertanian tradisional telah berlangsung selama ribuan tahun terbukti mampu mengatasi ancaman iklim. Laporan riset terbaru IIED ini menegaskan, pentingnya petani kembali melestarikan pengetahuan tradisional. (Jekson Simanjuntak/Marwan Azis).
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: