COP17 Akan Berakhir, Uni Eropa Mengusulkan Road Map

 Ribuan pemuda Afrika Selatan membentuk manusia raksasa dan singa sebagai bentuk tekanan perlunya tindakan penyelamatan bumi dari dampak perubahan iklim. Aksi ini juga didukung artis internasional John Quigley. Foto: Shayne Robinson/Greenepace
Ribuan pemuda Afrika Selatan membentuk manusia raksasa dan singa sebagai bentuk tekanan perlunya tindakan penyelamatan bumi dari dampak perubahan iklim. Aksi ini juga didukung artis internasional John Quigley. Foto: Shayne Robinson/Greenepace


DURBAN, BL- Uni Eropa mengusulkan road map yang diklaim didukung sekitar duapertiga delegasi COP17. Mereka yakin dengan China, tapi masih "bermasalah" dengan India.

Uni Eropa menegaskan sikap, mereka tidak akan menandatangani komitmen tahap kedua Protokol Kyoto, apabila Amerika Serikat, India dan China tidak ikut didalamnya. Sikap itu dinyatakan oleh Komisioner Uni Eropa untuk Perubahan Iklim Connie Hedegaard, Jumat (9/12) di Durban, Afrika Selatan.

Afrika Selatan, Brasil, Cina, dan India yang tergabung dalam kelompok BASIC juga menyatakan niat mereka berkomitmen mendorong adanya sebuah kesepakatan yang mengikat para pihak (legally binding agreement), demikian disampaikan Connie.  “Amerika selalu menuntut negara maju lainnya masuk dalam kesepakatan mengikat, dan sekarang mereka menyatakan niatnya.”

Kamis malam sebelumnya, Utusan Khusus Amerika Serikat Todd Stern mengungkapkan bahwa negaranya mungkin akan mendukung kesepakatan dalam negosiasi perubahan iklim (climate accord) tetapi tidak mendukung adanya legally binding agreement sebagai hasil akhir proses di Durban.  Uni Eropa bersama Alliance of Small Island States dan Least-Developed Countries,  Kamis malam lalu menyatakan kesiapan mereka untuk menandatangani komitmen yang mengikat.

Dalam COP17 ini, Uni Eropa telah menyampaikan road-map mereka dan menjelang Kamis malam, EU mengklaim bahwa 120 negara dari 193 yang hadir menyatakan setuju dengan usulan itu.  Menurut skenario Uni Eropa, para emiter terbesar dunia harus menyetujui prinsip-prinsip kesepakatan yang mengikat paling lambat tahun 2015, untuk disepakati tahun 2020, dan memberikan komitmen mereka dalam pengurangan emisi di bawah Protokol Kyoto. Sebagai tanggapannya, negara-negara berkembang yang memiliki kekuatan ekonomi besar, seperti kelompok BASIC, akan menerima target tersebut.  Hedegaard menyatakan bahwa kesepakatan tersebut harus final sebelum 2020 atau dunia akan mengalami bencana.

Ia juga menyatakan bahwa tenggat untuk legally binding agreement tahun 2015 tidak adil.”Tinggal empat tahun lagi, bagaimana kita akan menyampaikan kepada warga dunia dalam empat tahun ini apa yang harus dilakukan?”Menyinggung hasil pembicaraan dengan Cina, ia mengatakan “konstruktif” sedangkan dengan India disebutnya “hard-line. Tetapi ia tak mau menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksudnya.  (Igg Maha Adi dari berbagai sumber)
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: