Indonesia Sampaikan Lima Isu Utama COP17

Aksi aktivis lingkungan disela-sela pelaksanaan COP 17 di Durban. Foto: Shayne Robinson/Greenepace
Aksi aktivis lingkungan disela-sela pelaksanaan COP 17 di Durban. Foto: Shayne Robinson/Greenepace
DURBAN, BL- Ketua Delegasi Indonesia pada COP17 Rachmat Witoelar menyampaikan lima isu utama yang seharusnya menjadi perhatian para pihak konferensi perubahan iklim PBB di Durban tahun ini.

Menurut Rachmat yang mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Presiden COP15 di Bali, isu pertama dan paling utama adalah komitmen para pihak terhadap kebutuhan tahap kedua (second commitment) untuk Protokol Kyoto. Bagi negara maju yang tidak akan ambil bagian dalam komitmen baru ini, Indonesia meminta mereka menyusun NAMAs (Nationally Appropriate Mitigation and Actions) dan harus mengikutiya.

Mendapat giliran bicara pada pukul 15.00, Rabu (8/12) waktu setempat pada Pertemuan Tingkat Tinggi (High Level Segment), Rachmat menyebutkan isu terpenting berikutnya adalah transparansi dalam implementasi NAMAs dan metodologi MRV (Measurement, Reporting, and Verification), baik dari negara maju maupun berkembang.

Isu ketiga adalah komitmen negara maju untuk membantu pembiayaan program perubahan iklim melalui Green Climate Fund (GCF). Rachmat menekankan bahwa program REDD+ sangat penting bagi Indonesi, oleh karena itu, akan mencari pendanaan untuk meneruskannya, terlepas dari komitmen jangka panjang terhadap GCF.

Untuk isu keempat, ketua delegasi Indonesia itu meminta agar para pihak mengadopsi Cancun Agreement dengan tujuan mengoperasionalkan Komite Adaptasi. Sedangkan isu kelima mennurut Indonesia adalah pentingnya segera mengoperasionalkan mekanisme dalam pengembangan dan alih teknologi dalam CTCN (Climate Technology Center and Networks). Rachmat menekankan agar negara maju tidak hanya melihat isu transfer teknologi dalam kerangka pasar yang sangat terbatas.  

Selain Rachmat Witoelar, sekitar 160 kepala negara, presiden, perdana menteri, dan kepala pemerirntahan lainnya ikut memberikan sambutan masing-masing 10 menit dalam high level segment tersebut.  Setelah sambutan selesai, maka beberapa isu yang krusial akan dibahas di tingkat menteri, sebelum akhirnya diputuskan menjelang penutupan COP17 yang dijawdwalkan pada 9 Desember 2011 atau hari ini waktu Durban. (IGG Maha Adi)
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: