Jelajahi Mal dengan Sepeda Gunung

Ilustrasi aksi Danny Djoko Mahaka Cycling Team di Point Square Mall Lebak Bulus. Foto : Sepeda.sportku.com
Ilustrasi aksi Danny Djoko Mahaka Cycling Team di Point Square Mall Lebak Bulus. Foto : Sepeda.sportku.com



Aktivitas masyarakat urban atau perkotaan yang padat dan cenderung tak menguras fisik berlangsung secara rutin tiap pekan. Sebagai pelampiasannya, banyak yang mencari aktivitas pemacu adrenalin. Misalnya saja, bertualang di akhir pekan atau sekadar bersepeda.

Bersepeda menjadi salah satu pilihan masyarakat urban untuk berolahraga sekaligus rekreasi. Bahkan, sekadar bersepeda di jalan raya atau pegunungan tidak cukup bagi para pencari tantangan. Bosan dengan suasana pegunungan, para penggila sepeda kini gandrung berlenggak-lenggok di atas sepeda pada jalur ekstrim. Mereka melibas tangga, eskalator, serta halang rintang buatan di sebuah mal.

Seperti aksi lebih dari seratus pesepeda pada awal Desember 2011 silam di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta. Dalam ajang memacu sepeda berjuluk Kings of The Kings Urban Downhill Nite Race 2011 itu, mereka berlaga tanpa takut. Bukan hanya jalurnya yang menantang, aksi mereka juga dilakukan pada malam hari. Alhasil, para pesepeda ini melengkapi diri dengan lampu pada helm dan sepedanya.

Rintangan yang mereka lahap mulai dari tangga eskalator mal, tangga darurat, tangga beton taman, dan sebagainya. Mereka memulainya dari lantai lima apartemen. Dan laga malam itu menjadi sebuah tontonan menarik karena aksi dramatisnya didukung sajian pesta kembang api.

Menurut Rudy “Ogel” Hartawan dari Jakarta Downhill Community (JDC), olahraga yang baru berkembang di Indonesia ini mengadaptasi dari balapan urban yang sudah lumrah di Eropa dan Amerika. Selain Indonesia, balapan sepeda dengan jalur ekstrim ini juga tengah mewabah di Brazil, Meksiko, Skotlandia, Paris, Italia, dan lainnya.

”Sebenarnya urban downhill di Eropa dan Amerika itu biasanya merupakan ajang terakhir dari musim kompetisi tiap tahunnya. Pada akhir musim kompetisi laga downhill di pegunungan, mereka memperkenalkan olahraga ekstrem ini di tengah kota,” kata panitia Kings of The Kings Urban Downhill itu.

Di Indonesia sendiri, lanjut Rudy, tren Urban Downhill ini kurang lebih baru dua tahun ini. “Pertama kali diadakan di Cihampelas, Bandung. Dari Cihampelas, kemudian ke Jakarta, Malang, dan kota-kota lainnya,” imbuhnya.

Berkembang cepatnya olahraga ekstrim ini karena menyuguhkan tantangan baru dan mudah dilakukan. “Artinya para penggila sepeda ini tak perlu pergi ke pegunungan untuk mencari tantangan, cukup di mal atau tempat lain di dalam kota,” kata Rudy. “Bahkan, walau dikatakan ekstrim, tetap diikuti oleh yang berusia 12 tahun hingga 50 tahun.”

Untuk berlaga dalam olahraga yang sangat berisiko ini kita harus menggunakan sepeda gunung dengan spesifikasi khusus downhill. Dan tentu saja pembalapnya juga harus benar-benar siap secara fisik dan mental. Selain itu, mereka harus menggunakan helm, body protector, dan pelindung kaki. Yang berbeda dengan downhill di gunung, ban sepeda yang dipakai lebih halus. Karena di jalur ini tidak akan menemui tanah, batu, dan akar pohon seperti di gunung.

Suasana downhill di kota dengan di pegunungan menurut seorang atlet sepeda downhill Sugeng Bahagia, sangat terasa bedanya. Bahkan menurutnya, ada kesulitan tersendiri melibas jalur di mal, seperti tangga darurat yang terlalu sempit. “Walau teknik dasarnya sama, tapi adrenalinnya lebih tinggi,” katanya.

Di balik aktivitas rutin warga kota, ternyata butuh juga menyaluran naluri menantang bahaya. Agar dapat terus menikmati hobi itu, tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik dan mental untuk menjalaninya. (Asep Saefullah)
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: