Menikmati Kesegaran Curug Pegunungan Tatar Sunda



Air terjun di tengah perjalanan ke Curug Seribu. Foto : Melodya Apriliana
Air terjun di tengah perjalanan ke Curug Seribu. Foto : Melodya Apriliana

Salah satu resolusi Melodya Apriliana yaitu menjadikan 2012 sebagai sebagai "Tahun Jelajah". Ini sebagai bentuk apresiasi dan kecintaan Melody terhadap kekayaan alam Nusantara.

Melody mengawali penjelajahan tahun ini dengan mengunjungi wisata Gunung Salak Endah, yang dikenal sebagai  salah satu areal pemijahan alami di wilayah Tatar Sunda dan memiliki sejumlah curug ini. Berikut catatan jalan-jalan cewek yang senang mengabdikan dirinya pada upaya pelestarian lingkungan hidup ini.

Awalnya, saya berencana pergi bersama dua orang kawan. Namun, hingga berangkat, saya tidak dapat kepastian dari salah satunya. Saya berangkat Selasa, 3 Januari 2012 pagi dengan KRL Ekonomi tujuan Bogor dari Stasiun Cikini, Jakarta. Walau belum pernah bertemu sama sekali, namun tidak sulit mengenali kawan saya yang menunggu di depan ATM Bank Danamon di Stasiun Bogor. Cari saja manusia berkacamata dengan wajah cupu, itulah dia Dony. Hehe..

Kira-kira pukul setengah sembilan, kami naik Mikrolet 03 jurusan Bubulak dan turun di Terminal Laladon setelah satu jam perjalanan. Dari Terminal Laladon, kami lanjut naik Mikrolet 53 jurusan Segog selama dua jam. Kami turun di pangkalan akhir angkutan umum tersebut dan naik ojek selama setengah jam menuju kawasan Wisata Gunung Salak Endah.

Kawasan Wisata Gunung Salak Endah memiliki objek wisata berupa enam air terjun atau curug (Cigamea, Seribu, Ngumpet, Cihurang, Luhur dan Nangka) serta satu kawah (Kawah Ratu). Tujuan pertama kami adalah Curug Cigamea, air terjun terdekat yang kami temui. Untuk menuju ke lokasi air terjun, kami harus berjalan turun ±350 meter. 

Karena sudah menjadi objek wisata komersil, kondisi jalan setapak menuju lokasi sudah tersusun rapi membentuk susunan anak tangga. Kami juga menemukan banyak warung makan dan tempat peristirahatan di sepanjang jalan menuju air terjun.
Curug Seribu setinggi 80 meter
Setelah menuruni ratusan anak tangga, sampailah kami di Curug Cigamea pada pukul sebelas. Curug ini terdiri dari dua air terjun utama. Air terjun pertama yang lebih dekat dari jalan masuk, memiliki tebing batu berwarna kehitaman. 

Sementara air terjun kedua yang terletak kira-kira 30 meter di sebelahnya, mengalir deras di atas tebing batu bercorak garis kemerah-merahan. 

Di bawahnya terdapat kolam limpahan air berwarna hijau keruh dimana pengunjung dapat berenang di sana. Sejenak, kami menikmati kesegaran udara Curug Cigamea sembari memotret beberapa gambar. Curug Cigamea memang sudah cukup terkenal di kawasan ini, alhasil banyak sampah berceceran di sana-sini karena banyaknya pengunjung yang datang. Sayang.

Saya menyantap semangkuk mie rebus di sebuah warung dekat air terjun ini sembari mengobrol bersama kawan saya dan menunggu redanya gerimis. Pukul duabelas, kami kembali naik keluar kawasan Curug Cigamea dan melanjutkan perjalanan ke Curug Seribu dengan berjalan kaki. 

Curug Seribu terletak 3,5 kilometer dari Curug Cigamea dan memiliki jalur yang lebih sulit. Semakin jauh kami berjalan, jalur yang kami lalui semakin sepi dan berbatu, hingga membuat kami beberapa kali hampir tersesat. Setelah sampai di pintu masuknya, kami belum mendengar suara air terjun sedikitpun.

Jalur menuju Curug Seribu

Berbeda dengan Curug Cigamea yang ramai, warung-warung di sekitar pintu masuk Curug Seribu terlihat tutup semua. Ternyata perjalanan yang harus kami tempuh masih panjang. Kali ini kami harus berjalan memasuki hutan tropis di tengah kabut tebal dan berjalan di atas bebatuan yang sempit dan licin. Kami sempat melewati camping ground kawasan ini yang terlihat seperti sebuah savana, dengan hamparan rerumputan hijau dan pepohonan yang tidak besar namun cukup teduh. Berselimutkan kabut, indah sekali. Saya ingin camping di sana suatu hari nanti.

Setelah lumayan jauh berjalan dari camping ground, kami mulai mendengar suara air terjun. Kami pun melewati sebuah curug kecil, namun bukan curug itu yang menjadi tujuan kami. Berbekal tekad, kami terus berjalan naik, turun, memutar, mengikuti samar-samar suara air terjun yang sepertinya besar.

Walau lelah, namun pemandangan yang alami dan keasrian alam kawasan ini bak cheerleader buat kami untuk terus mengejar sang curug. Akhirnya, setelah satu jam “berjuang”, sampailah kami di Curug Seribu; air terjun gagah dengan ketinggian 80 meter dan bisa membuat orang basah dalam radius 30 meter hanya dalam beberapa menit saja.

Speechless adalah kata yang pas buat saya saat sampai di air terjun ini. Saya takjub karena berhasil menempuh perjalanan yang melelahkan untuk sampai di sini, sekaligus bersyukur menjadi orang Indonesia yang memiliki kekayaan alam begitu luar biasa. Tak lama setelah sampai, hujan mulai turun sehingga kami harus berteduh di pinggir tebing, di sebuah bangku kayu beratapkan terpal yang sangat sederhana.

Curug Seribu terdiri dari tiga air terjun dengan ketinggian yang sama, namun yang paling besar terletak di sisi kiri. Dengan tebing yang curam dan bebatuan besar berwarna coklat kemerahan di bawahnya, curug ini adalah air terjun terbesar yang pernah saya kunjungi. Saat beristirahat, saya baru sadar bahwa tidak ada lagi pengunjung di sana saat itu kecuali kami berdua, dan beberapa orang pria yang sedang membangun sebuah pos di depan kami. 

Rasanya tempat ini seperti milik kami saja.

Di bawah rintik hujan dan riuh suara derasnya air terjun, kawan saya bercerita tentang empat orang pengunjung Curug Seribu yang terenggut nyawanya beberapa waktu lalu karena berenang di tengah kolam limpahan air curug ini. Kolam tempat air terjun ini bermuara memang sangat besar, apalagi ketika debit air sedang tinggi saat musim hujan seperti ini. Ombak-ombak yang terbentuk di bawah air terjun menjadi semakin dahsyat. Kawan saya bilang, kolam tersebut berkedalaman sekitar 20-30 meter dan memiliki pusaran air yang kuat. Kejadian mengenaskan tersebut lah yang mendorong didirikannya pos di depan kami ini.
Kawasan ini masih sangat asri, dan yang paling asri yang pernah saya ketahui setelah Desa Sarongge di Gunung Gede, Jawa Barat. Saya sendiri heran kenapa Curug Seribu bisa terjaga kealamiannya seperti ini. Pasti karena jalur yang sulit ditempuh, sehingga tidak banyak orang yang ingin mengunjungi tempat ini—kecuali mereka yang memiliki hasrat jelajah yang tinggi dan begitu mencintai Indonesia, seperti kami.



Satu jam lamanya kami mengobrol. Dari cerita-cerita lokal kawasan ini, hingga tempat-tempat di Indonesia yang mungkin selanjutnya bisa kami kunjungi. Pukul dua, dengan berat hati, kami meninggalkan Curug Seribu dengan segala keajaibannya yang belum terjamah tangan-tangan jahil. Perjalanan pulang kami terasa lebih sulit karena harus menempuh jalur yang meninggi. Untuk pertama kalinya saya berharap Doraemon itu benar-benar ada dan memberikan baling-baling bambu buat saya. Dan benar kata kawan saya, Gunung Salak bagai mimpi buruk buat mereka yang tak biasa mendaki gunung. Menurut saya, ini jauh lebih sulit daripada ketika saya berkeliling hutan tropis di Sarongge yang benar-benar jauh dari pemukiman.
Beberapa kali saya terpaksa berhenti saking lelahnya. Kaki saya begitu berat untuk diajak melangkah. Ditambah dengan tubuh saya yang dalam dua bulan ini naik 8 kilogram dan baju yang basah kuyup, semakin membuat tekad kian mundur. Saya tertinggal jauh di belakang kawan saya yang memang sudah biasa hiking. Akhirnya ia turun kembali, menuntun saya dan kami jalan bersama-sama sambil mengobrol. Sambil melangkah pelan, kami kembali melewati air terjun kecil dan camping ground yang indah berkabut. Tepat pukul tiga, kami sampai di pintu masuk Curug Cigamea, dimana supir ojek yang tadi mengantar kami sudah menunggu untuk membawa kami pulang.
Melody dan KabutDi perjalanan pulang, kami kembali mengobrol sambil menyantap keripik jagung bawaan kawan saya. Mulai dari orang gila, sistem pendidikan Indonesia, sekolah, hingga kenapa logo Pecinta Alam dimana-mana selalu berbentuk segitiga.

Kami tiba di Stasiun Bogor pukul setengah enam sore dan mampir di sebuah restoran Chinese food. Selesai makan, kami menunggu KRL Ekonomi tujuan Jakarta-Kota sambil berdiri kedinginan, menikmati pemandangan Gunung Salak dari peron, dan berbincang-bincang.

Kali ini tentang Adam Young, musisi favorit saya, dan teori konspirasi. Kereta datang sekitar pukul setengah tujuh. Kawan saya turun di Stasiun Depok Baru, sementara saya lanjut hingga Stasiun Tanjung Barat.
Saya adalah orang yang cenderung menyukai perjalanan yang “sulit” daripada yang “mudah”. Saya akan memilih berwisata ke gunung daripada ke Mal atau tempat-tempat sejenis yang tidak memerlukan perjuangan tertentu.

Bagi saya, walau melelahkan, alam menawarkan kepuasan tersendiri dan ilmu-ilmu kehidupan bagi manusia. Saya rasa menjadi penjelajah itu penting bagi setiap orang, karena menjelajah adalah saat dimana manusia benar-benar menjadi “manusia”; menggunakan seluruh indra dan kemampuan yang dimiliki untuk mengarungi keajaiban hasil karya Tuhan. Terlebih lagi kita yang tinggal di Indonesia; negeri yang kekayaan alam dan keanekaragaman budayanya tak pernah diragukan oleh siapapun.

Jujur, saya sangat bersyukur dilahirkan sebagai orang Indonesia. Saya tak perlu bersusah payah mengurus paspor dan visa, atau membeli tiket pesawat seharga jutaan rupiah untuk sekedar merasakan kehangatan khatulistiwa. Saya memiliki matahari setiap hari selama dua belas jam penuh, serta jutaan pantai dan gunung yang bisa saya kunjungi kapanpun saya mau.

Sore ini, saya terbangun dari indahnya tidur siang karena hujan deras yang mengguyur atap rumah. Tak lama setelah hujan berhenti dan kumulonimbus bergerak pergi, matahari kembali bersinar walau untuk berucap sampai jumpa. Saya tak melihat parasnya, namun saya sudah tertegun melihat cahayanya yang begitu jingga bersinar. Ya, senja setelah hujan memang selalu indah. Seperti hidup manusia yang kian diterpa badai, bersabarlah dan percaya bahwa badai pasti berlalu. Maka, setelah ia pergi, akan terlihat matahari yang jauh lebih indah dari yang biasanya tampak.

Saya masih ingat sekali sulitnya perjalanan pulang dari Curug Seribu kemarin. Beruntunglah saya tidak sendiri. Masih ada dia, yang rela turun kembali dan menuntun saya melangkah di atas terjalnya bebatuan sambil mengobrol, hingga perjalanan jauh tak terasa begitu menyeramkan lagi. Manusia memang selalu membutuhkan genggaman tangan sesamanya. Sekalipun ia merasa bisa melangkah sendiri, namun bersama-sama selalu lebih baik, bukan?

Mungkin orang menilai saya bodoh karena kemarin saya sengaja tidak menggunakan payung saat hujan turun, atau malas menggunakan sarung tangan di tengah dinginnya udara. Bukannya saya ingin jatuh sakit. Lagi-lagi saya hanya ingin menikmati segala pemberian Tuhan untuk bumi dan isinya. Saya sangat mencintai Tuhan, dan saya mewujudkannya lewat kecintaan saya terhadap alam ini. Senang rasanya bisa merasakan kasih sayang-Nya menyentuh tubuh saya, walau akhirnya saya kena flu begini.

Setiap perjalanan butuh perjuangan dan resiko. Namun, percayalah, tak ada yang lebih berharga selain keberanian dan pelajaran di balik tebalnya kabut ketakutan di atas jalur licin berbatu. Jatuhlah, maka kita akan tahu bagaimana cara untuk berdiri. Menggigillah, maka kita akan tahu betapa nyamannya hangat matahari. Hauslah, maka kita akan tahu segarnya rintikan air hujan. Berjuanglah, maka kita akan tahu betapa manisnya jatuh-bangun menggapai tujuan.***
Rincian biaya (satu orang, sekali jalan)

  • KRL Ekonomi Cikini – Bogor    : Rp 2.000
  • Mikrolet 03 jurusan Bubulak      : Rp 3.000
  • Mikrolet 53 jurusan Segog         : Rp 7.000
  • Ojek                                         : Rp 20.000
  • Tiket masuk Curug Cigamea      : Rp 4.000
  • Tiket masuk Curug Seribu          : Rp 5.000
  • Total                                          : Rp 41.000
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: