Manggarai Di Terjang Puting Beliung, 584 Rumah Rusak

MANGGARAI, BL-Cuaca buruk berupa angin puting beliung masih terjadi di Indonesia. Kali ini, angin puting beliung melanda Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggaran Timur (NTT). Angin ini merusak sedikitnya 584 rumah penduduk di sembilan kecamatan pada Jumat (16/3).

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Manggarai ditemukan sebanyak 251 rumah rusak berat dan 297 rumah rusak ringan. Keterangan ini disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Minggu, (18/3). Adapun kesembilan kecamatan yang diterjang angin puting beliung tersebut, yakni Kecamatan Langke Rembong, Satar Mese, Cibal, Wae Ri'i, Ruteng, Lelak, Reok, Rahong Utara, dan Setar Mese Barat.

BPBD Kabupaten Manggarai dan Provinsi, serta instansi telah telah melakukan upaya koordinasi untuk penanganan darurat bencana. Selain itu, BPBD Kab Manggarai terus memantau dan melakukan pendataan lebih lanjut mengenai kerusakan yang terjadi di lokasi kejadian. Sampai berita ini diturunkan, tidak ditemukan adanya korban jiwa. Masyarakat telah berada di tempat yang aman. Kendati demikian, warga tetap waspada.

Sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memperkirakan potensi puting beliung dapat terjadi di Indonesia bagian tengah dan timur disertai hujan lebat. Dalam laporan tiga harian, BMKG memprediksi hal itu dapat terjadi di wilayah Indonesia bagian tengah seperti Jawa Timur bagian timur, Bali, Nusa Tenggara Barat bagian selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tengah bagian Timur. Sedangkan untuk Indonesia bagian timur, BMKG memperkirakan hujan lebat yang berpotensi angin puting beliung berada di wilayah Maluku bagian tenggara dan Papua bagian selatan.

Puting beliung yang memporak-porandakan rumah penduduk terjadi karena adanya turbolensi (perputaran) awan yang kemudian memicu awan-awan comulanimbus atau awan konfeksi. Turbolensi awan yang kuat ini kemudian melahirkan puting beliung dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam.

Turbolensi awan tersebut terjadi karena pengaruh suhu udara panas yang terjadi pada siang hari kemudian naik ke permukaan dengan membentuk awan-awan comulanimbus pada ketinggian sekitar 400 meter dari atas permukaan bumi. Embusan angin puting beliung bisa mencapai ketinggian 10 kilometer dari permukaan bumi dengan kekuatan angin lebih dari 100 km/jam, namun tidak dalam waktu lama. (Jekson Simanjuntak)
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: