Lumba-lumba itu membawa berkah bagi nelayan

Ilustrasi. Foto : Antara
Pagi hari di bumi Khatulistiwa cuaca sangat cerah. Beranjak siang cuaca pun  begitu panas menyengat kulit. Sejumlah warga di Dusun Karya Raja itu tampak sibuk bekerja sebagai nelayan sungai.

Disaat kesibukannya warga mencari ikan di sungai itu ternyata menyimpan cerita lain. Di wilayah ini sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai nelayan sungai. Mereka sangat menggantung hidupnya dari hasil pencarian ikan di sungai dekat hutan Mangrove itu.

Warga setempat tidak tahu bahwa ikan jenis lumba-lumba ini sangat langka di dunia. Pasalnya, lumba-lumba ini hanya ada disebagian beberapa negara saja. Keberadaan lumba-lumba ini justru muncul diperairan payau di Kabupaten Kubu Raya. Warga setempat mempercayai bahwa lumba-lumba ini muncul berarti banyak ikan didaerah ini. Bahkan warga setempat mempercayai  lumba-lumba ini  membawa berkah bagi nelayan sungai.

Sejak lama sudah  ikan jenis lumba-lumba ini berada di perairan Kalimantan Barat. Munculnya mamalia laut cerdas itu jika air pasang.  Biasanya  ikan lumba-lumba ini muncul tiba-tiba. Salah satu warga Dusun Karya Raja Desa Kubu Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya,  Abdulah Sood (65), menceritakan  ketika menaiki sampan (perahu) yang ditumpanginya  itu didekati lumba-lumba dengan jumlah sekitar 40 ekor ikan jenis lumba-lumba.

Foto : Farid Gaban.
“Lumba-lumba  ini malah mendekati sampan yang saya tumpangi. Warnanya putih abu-abu. Mereka semakin mendekat. Pada malam hari bulan terang mereka ini malah datang semakin banyak.  Pada  1986 pernah liat 40 ekor ikan lumba-lumba muncul  diperairan Simpang Sapar Desa Kubu Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu raya,”ungkapnya,  suatu pagi hari di Kubu Raya.

Menurut  Abdulah, ketika hutan Mangrove kalau masih utuh belum ada penebangan lumba-lumba ini banyak muncul diperairan sungai ini. Namun, sekarang yang muncul sangat sedikit,hanya beberapa ekor saja. “Tapi masih ada yang muncul lumba-lumba ini. Dari dulu sampai sekarang pun belum ada peneletian dari pemerintah setempat”. 

Selain lumba-lumba, kata Abdulah, bahkan ditempatnya itu  banyak sekali  Monyet. “Sangat banyak Monyet disini dulu.  Kalau kami bilang sih Monyet  ini namanya Bentangan (Monyet jenis Bekantan).  Tapi sekarang malah monyet ini pada hilang. Karena hutan Mangrove nya ditebang oleh salah satu perusahaan bahan baku industri kertas. Hutan kami disini dibabat habis rata oleh perusahaan,  ”kata Kakek yang memiliki 9 Cucu ini.

Sempat penasaran, cerita Abdulah, iapun menembaki ikan lumba-lumba ini. Maka ia pun menembak ikan ini pakai senapan angin.  Tiba-tiba saja lumba-lumba  malah datang dengan jumlah banyak . Lalu, setelah itu iapun   lari ketakutan. Dan akhirnya ia pun meminta maaf pada ikan ini pakai telur ayam. ”Perbuatan saya salah, sebagai bukti maaf,saya pun melemparkan telur itu ke sungai dan 15 menit itu langsung hilang,”kenang Kakek yang memiliki 5 lima anak ini.

Waktu itu ada seorang nelayan  Sulawesi (Daeng Benu), cerita Abdulah lagi, terdampar kapal nelayan  dilautan lepas.  Dari semalaman ia terombang ambing dilautan. Lalu setelah itu, dia dapat bantuan dari lumba-lumba besar  ini dua ekor dikelilingi. Lalu dibawa oleh lumba-lumba  ini. setelah itu, keesokan harinya dia  didorong oleh ikan ini dan tidur bersama ikan ini selama 4 hari dilautan lepas. Dia sampai mimpi bersama ikan ini. langsung keesokan harinya ada yang bawa menyelamatkan pakai kapal Singapura.

"Makanya kami disini sangat melestarikan lumba-lumba ini. Kami tetap menjaga keberadaannya hingga kini pun. Ya walaupun keberadaraan nya hanya sedikit yang muncul sekarang, tapi masih ada kok yang muncul pernah saya liat dengan kepala saya sendiri. Lumba-lumba ini pun sebagai tanda berkah ikan yang lain semakin banyak".

Sementara, menurut  Albertus Tjiu, ahli konservasi satwa dari WWF-Indonesia yang terlibat secara aktif dalam survei itu, keberadaan pesut (saya sebut pesut saja karena WWF saat ini fokus  pada "pesut") mengindikasikan kesehatan lingkungan perairan. Artinya dengan adanya lumba-lumba bisa dikatakan kawasan tersebut masih aman dari pencemaran perairan, terutama dari limbah industri (seperti minyak, sampah plastik, bahan kimia).

Mengenai jumlah, kata Albertus,  saat ini kajian WWF belum sejauh itu. Masih diperlukan seri survey untuk memperkirakan keberadaan populasi pesut di Kabupaten  Kubu Raya dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Dari sisi ancaman, menurut Albertus, saat ini belum ada laporan penangkapan pesut, namun beberapa ancaman lain seperti alat tangkap ikan berupa jaring/pukat plastik.  Hal ini juga, ucap dia, membahayakan hidup pesut karena pesut tidak bisa mendeteksi jaring plastik, kasus baling-baling  kapal yang berakibat tewasnya pesut / lumba-lumba. 

Kejadian ini, jelas Albertus,   juga pernah dijumpai pencemaran perairan, sedimentasi, alih fungsi lahan mangrove.  Yang  terakhir namun juga sangat penting adalah komitmen/dukungan kebijakan lingkungan pemerintah daerah setempat  yang berpihak terhadap penyelamatan populasi dan habitat pesut / lumba-lumba,”ungkap Albertus Tjiu. (Aceng Mukaram).

Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: