Puting Beliung di Indonesia Meningkat 2.78 Persen


JAKARTA, BL_ Akhir-akhir ini fenomena bencana puting beliung semakin sering terjadi di tanah air. Dari 13 jenis bencana di Indonesia, bencana puting beliung merupakan jenis bencana yang paling drastis peningkatan kejadiannya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat dalam satu dasawarsa terakhir bencana puting beliung terjadi peningkatan sebesar 2.781 persen. Total kejadian  2002-2011 sebanyak 1.564 kejadian puting beliung atau 14% dari total kejadian bencana di Indonesia.

Bahkan selama Januari-April 2012, kejadian puting beliung mendominasi dibandingkan dengan bencana lainnya. Selama periode tersebut ada 95 kejadian puting beliung dari total 192 kejadian bencana di Indonesia. 

“Hampir 50 persennya dari semua jenis yang terjadi di Indonesia. Padahal tahun-tahun sebelumnya justru banjir yang mendominasi”, kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB kepada beritalingkungan.com

Dampak yang ditimbulkan puting beliung sejak Januari-April 2012 adalah 27 orang meninggal, 174 orang luka, 183 orang mengungsi, 1.315 rumah rusak berat, 8.264 rumah rusak sedang hingga ringan.

Sementara itu kejadian longsor terjadi 41 kali dengan 25 orang meninggal, 10 orang luka, 1.425 orang mengungsi, 175 rumah rusak berat, dan 173 rumah rusak sedang hingga berat.

Sedangkan banjir terjadi 57 kejadian dengan korban 15 orang meninggal, 7 orang luka, 41.901 orang mengungsi, 325 rumah rusak berat, dan 1.069 rumah rusak sedang hingga ringan.

Kecepatan pusaran puting beliung di Indonesia umumnya di bawah 115 kilometer per jam. Dari sisi skala, berada pada skala F0 atau terendah dari total enam skala. 
“Namun, berdasarkan dampak yang ditimbulkan, sebagai misal puting beliung di Sidrap bisa pada skala F1 (di antara 115-179 kilometer per jam)”, paparnya.

Intensitas puting beliung yang tinggi berikut dampaknya yang kian ganas diperkirakan terkait dengan pemanasan global. Efek gas rumah kaca membuat atmosfer menyimpan banyak energi karena tak leluasa terpantul ke luar angkasa.
“Energi itu diubah dalam beberapa wujud, seperti panas yang diikuti intensitas angin kencang dan hujan kian lebat”, tandasnya.*

Foto : Ist dan Naskah : Jekson Simanjutak | Jakarta  


Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: