Ritual Air Nusantara

Ritual Air Nusantara Foto: Edy Chan
TOBELO, BL- Pembukaan Kongres Nasional AMAN IV pada tanggal 19 April 2012 ditandai dengan Ritual Air Nusantara. Air dari mata air berbagai daerah, di bawa oleh para peserta kongres untuk kemudian disatukan dalam sebuah ritual. Diharapkan persatuan masyarakat adat Nusantara akan dimulai dengan menyatukan air-air mereka di Tobelo, Halmahera utara dalam ritual ini.

Air dari Tobelo sendiri diambil dari tiga sumber, yaitu mata air Sungai Molulu di Desa Wangongira (Tobelo Barat), Telaga biru (Tobelo barat) dan Telaga Lina (Kao Barat). Empat tetua adat dari desa Wangongira membawa air dari empat penjuru mata angin dan menuangkannya ke dalam kolam monumen air yang sudah dipersiapkan.

Bupati Halmahera Utara, ir. Hein Namotemo, mengatakan bahwa ide ritual ini terinspirasi dari semangat Sumpah Palapa yang pernah dikumandangkan Patih Majapahit, Gajah Mada. “Semoga semangat sumpah yang sama akan hadir dalam Ritual Air Nusantara, menjadi unsur pemersatu seluruh masyarakat adat di Indonesia”, ujarnya.

Air Kami, Hidup Kami

Desa Wangongira di Tobelo Barat memiliki keunikan tersendiri. Disini tanaman padi tumbuh di dasar sungai dekat dengan sumber air dari Sungai Molulu. Masyarakat setempat menyebutnya akere mapine, padi air jenis pulo dan siang ini menghasilkan bulir putih, merah dan hitam.

Nama molulu diambil dari bahasa lokal yang berarti terguling atau tergelincir. Alkisah seorang nenek tengan membawa saloi, tempat menampung padi yang baru dipetik, lalu tergelincir di atas bukit. Bulir-bulir yang dibawanya menyebar ke mata air. Sejak itu padi selalu tumbuh di sana.

Ritual homaniata dilakukan selepas panen, yang biasanya jatuh pada bulan Mei, untuk menghormati leluhur mereka. Dengan memakai pakaian adat, warga terjun ke air dan mengelililingi rumpun-rumpun padi sebanyak dua kali searah jarum jam dan sebaliknya. Barisan paling depan membawa perisai dan parang atau tombak, diikuti seluruh warga.

Leluhur orang-orang Tobelo diyakini berasal dari Hoana Lina. Mereka adalah orang-orang dari pesisir yang kemudian menemukan danau Telaga Lina dan memutuskan untuk menetap. Hoana Lina saat ini menjadi ladang-ladang, hampir seluruh warga telah berpindah ke desa Wangongira. Yang tertinggal hanya beberapa rumah adat yang terkadang ditempati ketika ladang harus dijaga.

Daerah hulu Sungai Molulu dikeramatkan oleh orang-orang Tobelo. Namun keberadaan padi dan sejarah mereka terancam. Sejak tahun 2009, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Propinsi Maluku Utara berencana mennyalurkan air dari Desa Wangongira ke kota Tobelo. Pembangungan bak-bak dan sistem penyaringan air telah memasuki tahap akhir.

Hal ini meresahkan warga, karena sejak awal mereka menolak rencana pembangunan ini, karena ditakutkan mereka akan kehilangan sumber air. Semua kehidupan sehari-hari mereka, seperti mengambil air mimum, mandi dan mencuci bergantung pada mata air Molulu. Air adalah hidup mereka.

Kini dalam pembukaan Kongres Nasional AMAN IV, para tetua adat Wangongira terlibat dalam ritual air Nusantara sebagai pembawa air. Air yang dibawa dari Wangongira pun sudah diritualkan sejak setahun lalu. Niat mereka ingin menyumbangkan semangat hidup, bahwa air adalah kehidupan itu sendiri. Mereka juga ingin terlibat sebagai bagian dari proses pengokohan masyarakat adat Nusantara. (Jekson Simanjuntak).
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: