WWF Terbitkan Panduan Perikanan Berkelanjutan


JAKARTA, BL-WWF menerbitkan buku serial Panduan Praktek Perikanan Berkelanjutan yang diluncurkan di kantor WWF hari ini.

Foto : Putri.
Buku  tersebut terdiri dari 9 seri diantaranya Perikanan Tuna, Panduan Pengoperasian Tuna Longline Ramah Lingkungan, Perikanan Ikan Karang (Kerapu dan Kakap), Panduan Penanganan Penyu, Budidaya Ikan Nila, Budidaya Ikan Kerapu Sistem Keramba dan Budidaya Udang Windu.

Menurut pihak WWF, buku serial Panduan Perikanan Berkelanjutan ini disusun berdasarkan pengalaman  pendampingan tim perikanan WWF di berbagai daerah seperti Tarakan, Berau , Aceh, Danau Toba, Wakatobi, Kepulauan Solor Alor, Bali dan Bitung.

Keseluruhan isi buku itu disusun mengacu pada prinsip-prinsip sertifikasi perikanan berkelanjutan. Bobot buku ini diperkuat  dengan adanya masukan dari berbagai pihak seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemda, Asosiasi Industri Perikanan, Kelompok Masyarakat, Perguruan Tinggi dan Lembaga Internasional.

Menurut Musthofa, Nasional Fisheries Program Leader WWF Indonesia, praktek perikanan berkelanjutan perlu segera diupayakan jika tidak ikan di lautan akan habis pada tahun 2048.  “Indonesia saat ini mengalami overexploitasi perikanan sebesar 55% dan status ini sudah menghawatirkan” ujarnya kepada wartawan di kantor WWF, Jakarta (26/4).

Hadirnya buku Panduan Perikanan Berkelanjutan ini disambut baik oleh berbagai stakeholder perikanan dan kelautan termasuk  perusahaan pengimpor ikan asal Belanda Anova Asia.

Tri Aristiyani, Direktorat Jendral Perikanan Tangkap dan  Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan mengapresiasi penerbitan buku serial Panduan Perikanan Berkelanjutan. “Buku ini sangat simple dan mudah dipahami” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Stephani Mangunsun  dari Anova Asia bidang Quality Control.  Menurut Stephani, buku tersebut sangat membantu terutama dalam menerapkan perikanan yang legal dan ramah lingkungan. “Kita berharap kualitas dan keberlanjutan dapat terintegrasi dengan baik” tandasnya. (Putri Jasari Dona).

Nelayan nebar jala. Foto : Istiana Sutanti/flickr.com
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: