Kotoran Sapi pun bisa jadi Energi

Ilustrasi pemanfaatan energi biogas.  Foto Antara/ Arief Priyono

JAKARTA, BL- Kotoran sapi tak hanya bermanfaat bagi pertanian, tapi juga bisa dimanfaatkan menjadi energi biogas atau energi alternative.

"Semua kotoran sapi berguna, baik yang tidak dipakai untuk biogas maupun yang terpakai. Tidak ada yang dibuang," kata Yaya Sudrajat Sumama, wakil peneliti utama dalam proyek bioelektrik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  beberapa waktu lalu.

Dalam penelitian tersebut, LIPI berhasil mengonversi energi biogas berbasis kotoran sapi menjadi bioelektrik, yakni energi listrik yang bersumber dari bahan organik. "Limbahnya itulah yang kita manfaatkan untuk dibuat kompos,"ungkapnya.

Menurut Yaya, limbah biogas bisa langsung digunakan karena mengandung banyak unsur NPK, yakni nitrogen, fosfor, dan kalium. "Ini bagus. Ciri lainnya kalau sudah siap dipakai adalah warnanya hitam pekat dan tidak berbau," ungkapnya.

Indonesia sebenarnya berpotensi dalam mengembangkan sumber biogas, karena jumlah populasi hewan ternak mencapai 13 juta ekor. Jika dikalkulasi dari 13 juta ekor ternak, itu berarti kotoran ternak yang dihasilkan per hari mencapat 130 ribu ton sama dengan 130 liter gas. Lumayan membantu kan! sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Jika dimanfaatkan biogas yang dihasilkan dapat dialirkan melalui pipa menuju ruang dapur untuk dipergunakan sebagai bahan bakar, untuk memasak dan menyalakan generator listrik.
 
Untuk mempercepat pemanfaatan limbah kotoran sapi yang menghasilkan energi yang diharapkan bisa mendukung tercapainya visi kebijakan energi Indonesia tahun 2025, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendorong  penerapan teknologi biogas di beberapa sentra ternak sapi di 2 kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Kabupaten Kulongprogo dan Kabupaten Bantul yang biayanya bersumber dari APBN.

Menurut informasi pihak KLH, upaya penerapan teknologi biogas dengan memanfaatkan kotoran sapi telah dilakukan sejak sepanjang tahun 2010. 

Berdasarkan Data Kementerian Pertanian 2009, jumlah gabungan sapi perah dan sapi potong di DIY adalah 281.882 ekor. Apabila limbah kotoran sapi tersebut diolah dengan biodigester, maka  potensi biogas dari ternak sapi perah dan potong di DIY diperkirakan mencapai sekitar 49,4 juta m3 pertahun, setara dengan LPG (Liquefied Petroleum Gas) 22,7 juta kg/thn yang bernilai 113,6 milyar rupiah, jumlah keluarga yang mendapat manfaat sekitar 67.652 ribu.
 
Sementara itu jumlah penurunan beban pencemar 8.086,9 ton pertahun, reduksi Gas Rumah Kaca (GRK) 280,7 ribu ton pertahun setara CO2.

Kotoran sapi yang tak terpakai dalam proses biogas, juga diolah menjadi pupuk kompos. Namun, kotoran sapi itu mesti dicampur dengan sampah organik dan difregmentasi dengan katalek.

Perbandingannya, 1 kilogram katalek untuk 1 ton kotoran sapi. Sementara perbandingan kotoran sapi dengan sampah organik, 1:3.  Katalek adalah hasil pengembangan teknologi LIPI yang mengandung 16 jenis jamur pengurai bahan organic.

Sehingga bisa menjadi sumber pendapatan bagi warga dari penjualan kompos serta membantu pengurangan penggunaan kayu bakar yang berdampak pada penurunan pencemaran udara dan kesehatan masyarakat.

Pemanfaatan limbah yang menghasilkan energi akan membantu tercapainya visi kebijakan energi Indonesia Tahun 2025 yaitu pemanfaatan energi baru dan terbarukan sebesar 25% dari keseluruhan sumber energi yang tersedia,” kata Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof DR Balthasar Kambuaya, MBA saat menyerahkan secara simbolis bantuan hibah berupa Biodigester yang menghasilkan Biogas di Kabupaten Kulonprogo, Jogyakarta.

Kambuaya  mengaku, apabila dilihat dari sisi persentase biogas yang dihasilkan dan manfaat yang diperoleh dari bantuan KLH tersebut masih relatif kecil yaitu 130,2 m3/tahun atau sekitar 0,26% dibandingkan potensi biogas dari seluruh ternak sapi yang terdapat di DIY.” Diharapkan bantuan tersebut dapat menjadi percontohan untuk kemudian direplikasi oleh seluruh stakeholder yang terkait dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, pengembangan Usaha Mikro dan Kecil, serta pengembangan energi baru terbarukan,”ujarnya. (Marwan Azis)
Share on Google Plus

About Editor Cois

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: