JAKARTA, BL - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana mengatakan sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menurunkan tingkat kemiskinan mengingat penyumbang terbesar kemiskinan adalah faktor pangan.

"Masyarakat saat ini ternyata lebih memilih sektor industri sebagai mata pencarian karena tingginya tingkat penghasilan sesuai dengan dasar pendidikan yang dimiliki dibandingkan dengan sektor pertanian," kata Armida di Gedung Bappenas Jakarta, Senin.

Menurut dia, adanya kecenderungan masyarakat, terutama yang berpendidikan rendah tetap tinggal di desa namun tidak tertarik menggeluti sektor pertanian sebagai mata pencahariannya adalah karena persoalan penghasilan yang mereka terima.

"Padahal faktor komoditas pertanian khususnya beras memiliki andil terbesar dalam menurunkan tingkat kemiskinan," katanya.

Ia memaparkan, komoditas beras menyumbang 25,44 persen penentu kemiskinan di perkotaan dan 32,81 persen di pedesaan. Secara total faktor makanan menyumbang 74 persen penyebab kemiskinan dan 26 persen berasal dari non makanan.

"Sektor pertanian kalau dilihat, istilahnya `surplus labour`, di mana tingkat produktivitasnya juga rendah, sehingga kalau terjadi pergerakan dari sektor pertanian ke sektor industri, itu karena mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik," ujarnya.

Menurut dia, untuk menyelesaikan masalah ini, pemerintah terus berupaya melakukan pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah. Selain itu juga didorong kinerja investasi pada sektor padat pekerja.

"Pertanian sektor penting dan berpotensi untuk mengurangi kemiskinan, tapi produktivitasnya yang menjadi perhatian pemerintah untuk ditingkatkan," katanya.

Armida menambahkan, dari tahun ke tahun penduduk miskin di Indonesia angkanya semakin menurun. Namun, sebagian penduduk miskin masih di dominasi oleh sektor pertanian, terutama di pulau Jawa.

Ia mengungkapkan, Pulau Jawa menjadi peringkat pertama sebaran penduduk miskin terbanyak di Indonesia. Nusa Tenggara hanya 6,2 persen, Maluku dan Papua 4,2 persen, dan Kalimantan 3,4 persen.

"Jawa ada di nomor satu dengan 57,8 persen dari total jumlah penduduk miskin, ada juga Sumatera di urutan kedua dengan 21,0 persen, dan Sulawesi 7,5 persen. Di tingkat provinsi, kemiskinan di Jakarta hanya 3,69 persen, sedangkan di Papua sebesar 31,11 persen, termasuk Papua Barat," katanya. (Ant).