Shell Kembangkan Energi Lewat Inovasi Teknologi

Ilustrasi populasi manuasia yang terus bertambah, membuat tingkat kebutuhan akan energi terus meningkat. Inilah yang memicu terjadinya krisis energi. Foto : Istimewa.
Energi merupakan salah satu sektor  yang sangat dibutuhkan untuk  menunjang berbagai aktivitas manusia. Tanpa energi kita tidak mungkin bisa melakukan aktivitas apapun.  

Tak mengherankan pemakaian energi tiap tahun terus meningkat. Borosnya pemakaian energi oleh masyarakat dunia menyebabkan eksplorasi terhadap energi dari bumi sangat besar, jauh melebihi  daya energi yang diproduksi oleh bumi. 

Energi adalah hal yang vital untuk produksi makanan, bahan bakar transportasi, dan memungkinkan saluran komunikasi lintas dunia.   Ketika populasi dunia meningkat, kebutuhan akan energi juga otomatis meningkat.

Dunia saat ini diperhadapkan pada krisis energi termasuk Indonesia. Bila tak segera  dicari solusinya, dunia akan dilanda bencana, karena  tanpa pasokan energi, manusia tidak akan bisa melakukan beragam aktivitas.

Berbagai upaya pun mulai didorong berbagai pihak untuk mencari sumber-sumber energi alternative dan  terbarukan.

Salah satunya  yang dilakukan Shell, sebuah perusahaan energi yang berkantor pusat di Den Haag, Belanda, mengembangan inovasi teknologi untuk menjaga pasokan energi terbarukan masa depan “ Kami menggunakan teknologi yang maju dan menggunakan pendekatan yang inovatif untuk membantu menyediakan  energi yang lebih banyak dan bersih dan menemukan cara penggunaan energi yang lebih efisien,” tulis pihak Shell dalam laman resmi mereka.

Diperkirakan  pada tahun 2050, penduduk dunia akan mencapai 9 milyar, atau mengalami pertambahan kurang lebih 7 milyar dari penduduk dunia saat ini.  Kondisi tersebut makin diperparah oleh pertumbuhan kota-kota di Asia yang tentu akan menyerap banyak energi.

Pertumbuhan pusat-pusat kota juga akan selalu diiringi dengan perubahan gaya hidup penduduknya mengarah pada pemanfaatan teknologi informasi. Tentu ini akan memicu pemanfaaatan energi secara besar-besaran.

Diperkirakan, permintaan energi global akan meningkat dua kali lipat pada pertengahan abad ini, dari tingkat permintaan pada tahun 2000.

Warga dunia pun dituntut untuk berupaya mencari  sumber-sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi dunia saat ini dan kedepan. Diantaranya dengan memanfaatkan energi terbarukan.

Menurut Shell, pada tahun 2050 dunia membutuhkan lebih dari 30 persen campuran energi dunia berasal dari energi yang dapat diperbaharui.  Sisanya berasal dari bahan bakar fosil  dan nuklir.  “Di Shell kami menemukan cara untuk menyediakan energi dari sumber yang lebih bersih dan membentu konsumen untuk menggunakan energi secara lebih efisien,”

Lebih banyak, lebih bersih dan lebih cerdas

Shell berencana untuk mengalokasikan anggaran sebesar  $ 100 milyar dari tahun 2011-2014 untuk mendukung produksi energi baru ini.  “Kami sedang memasuki lingkungan yang lebih menantang untuk membuka sumber -sumber baru dan meningkatkan produksi di ladang-ladang minyak yang sudah ada. Pada saat yang sama, kami menggunakan teknologi baru dan pendekatan yang inovatif untuk membatasi dampak pada lingkungan dan menemukan cara yang efektif untuk melibatkan komunitas -komunitas di dekat tempat kami beroperasi,”

Shell  mengaku sedang mengembangkan sumber energi yang lebih bersih , seperti gas alam, bahan bakar fosil yang paling bersih. Dari ekstraksi bahan bakar sampai pada generasi listrik. Pembangkit listrik tenaga gas alam mengeluarkan sekitar setengah dari CO2 dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Gas alam melengkapi tenaga angin dan matahari, yang membutuhkan cadangan pasokan yang lebih fleksibel ketika angin berhenti atau matahari menurun. Pada tahun 2012, Shell  bisa memproduksi lebih banyak bahan bakar gas dari pada minyak.

“Untuk para pelanggan, kami menawarkan bahan bakar dan pelumas yang terbaik untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar, sekaligus tips -tips berkendaraan dan program-program untuk menghemat bahan bakar ,”

Shell percaya cara yang paling praktis dan layak secara komersial untuk mengurangi CO2 dari bahan bakar transportasi pada 20 tahun kedepan adalah penggunaan bio-fuel yang lebih rendah karbonnya. “Sebagau salah satu pemasok bio-fuel terbesar,  kami sudah beralih memproduksi biofuel. Lewat joint venture Raizen di Brasil, kami memproduksi bio-fuel rendah karbon yang bisa tersedia di pasar saat ini dalam bentuk dari ethanol tebu Brasil,”

Dengan inovasi teknologi, memungkinkan permukaan radiator berada pada suhu yang lebih rendah, dengan emisi CO2 yang lebih rendah, sehingga energi bisa dihemat dan kelestarian lingkungan bisa tetap terjaga. (Ad/Gusti/Marwan)


 
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment