Greenpeace Ungkap Merek Fashion Berbahaya

Foto : printerest.com/greenpeace/zara.





JAKARTA, BL-Greenpeace kembali merilis sebuah laporan investigasi terbaru, kali ini mengungkap lebih jauh mengenai bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam 20 merek fashion ternama.

Diantaranya adalah ritel fashion Zara yang memproduksi pakaian yang bahan bakunya menggunakan bahan kimia berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Zara adalah salah satu merek fashion yang berasal dari Spanyol dan bermarkas di Arteixo, Gallicia.

Merek ternama lainnya yang ikut disebut-sebut dalam laporan itu adalah  Metersbonwe, Levi’s, C & A, Mango, Calvin Klein, Jack & Jones dan Marks & Spencer (M & S) juga juga menurut laporan Greenpeace, menggunakan bahan kimia beracun dalam produksi produk mereka. Laporan investigasi Greenpeace International ini berjudul "Benang Beracun – Merek Fashion Ternama Terjahit Dengannya" 

Ahmad Ashov, Juru Kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia mengungkapkan, pihaknya telah melakukan tes pada 141 buah pakaian dan memperlihatkan hubungan antara fasilitas manufaktur tekstil yang menggunakan bahan kimia berbahaya dan keberadaan bahan kimia dalam produk akhir.

Dari uji di laboratorium Greenpeace di Swiss,  ditemukan beberapa item produk yang mengandung zat NPEs, yang terurai menjadi bahan kimia yang menyebabkan gangguan hormon, dengan konsentrasi tertinggi - di atas 1.000 ppm - dalam produk pakaian dari Zara, Metersbonwe, Levi’s, C & A, Mango, Calvin Klein, Jack & Jones dan Marks & Spencer (M & S).

Bahan kimia lainnya yang diidentifikasi termasuk toksik phthalates dengan tingkat yang tinggi dalam empat produk, dan amina penyebab kanker dari penggunaan pewarna azo tertentu,  dalam dua produk Zara. Kehadiran jenis lain dari bahan kimia industri yang berpotensi berbahaya ditemukan di banyak pakaian yang diujicoba.

"Merek fashion ternama menjadikan kita semua korban mode dengan menjual pakaian yang mengandung bahan kimia berbahaya yang berkontribusi terhadap polusi air beracun di seluruh dunia, baik ketika proses produksi maupun saat pakaian tersebut dicuci," kata Yifang Li, Senior Toxics Campaigner Greenpeace untuk Asia Timur.

Dalam laporan tersebut, dinyatakan bahwa terdapat lima sampel yang dibeli di Indonesia, empat sampel diantaranya atau sebanyak 80% teridentifikasi mengandung NPEs dan dari delapan sampel yang pembuatannya berasal dari Indonesia, enam sampel diantaranya atau sebanyak 75% teridentifikasi mengandung NPEs.

 “Merek-merek yang diproduksi di Indonesia dan teridentifikasi mengandung NPEs yaitu Armani, Esprit, Gap, Mango, Mark & Spencer. Sedangkan, merek-merek yang dijual di Indonesia dan teridentifikasi mengandung NPEs yaitu Calvin Klein, Esprit, Gap, Levi’s, Mark & Spencer,”ungkap Ahmad Ashov.

Foto : Greenpeace.
Produk-produk yang diuji adalah produk yang terutama diproduksi di belahan bumi Selatan (Cina, Thailand, India, Indonesia) termasuk celana jeans, celana panjang, t-shirt, gaun dan pakaian dalam yang dirancang untuk pria, wanita dan anak-anak dan dibuat dari kedua jenis serat yaitu buatan dan alami. Bahan kimia berbahaya dimasukkan secara sengaja dalam material atau disisakan sebagai residu yang tidak diinginkan dari penggunaan mereka selama proses manufaktur.

Hilda  Meutia, Koordinator Water Patrol Indonesia mengungkapkan, beberapa produk Zara yang diuji, hasilnya positif mengandung zat yang akan terurai membentuk bahan kimia penyebab kanker atau gangguan hormon. 

Dalam kesempatan tersebut  Hilda juga menjelaskan proses penelitian yang dilakukan Greenpeace. “Penelitian ini mulai dilakukan bulan Maret 2012.  Kami belanja merek-merek terkenal dunia di distributor resmi di Jakarta tepatnya di pusat perbenjaan sekitar bundaran Hotel Indonesia. Setelah sampel terkumpul, proses berikutnya adalah dilakukan uji lab di laboratorium Greenpeace di Swiss,”ungkapnya.

“Semua laporan technical report mulai dari pengambilan sampel hingga uji lab bisa diakses di situs Greenpeace. Jadi sangat terbuka untuk dikritisi”tambahnya.

Ahmad Ashov menambahkan, penelitian tersebut belum mencapai pada level supplier tapi masih level produk. Menurut Ashov senjaga melakukan kampanye yang membidik perusahaan kelas dunia, karena industri  besar ini menjadi motor penggerak untuk mengubah wajah testil dunia yang ramah lingkungan.

Pada tahun 2011, Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia dalam industri garmen (hilir) dan menempati peringkat ke-11 dunia dalam industri tekstil (hulu).

Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pada 2010 ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia mencapai US$ 11,21 miliar, naik 21% dibanding 2009. Dari nilai itu, ekspor TPT Indonesia menguasai 1,67% pangsa pasar dunia, 4,55% pangsa pasar di Amerika Serikat, dan 1,28% pangsa pasar di Uni Eropa.

Lokasi industri TPT terkonsentrasi di Jawa Barat (57 persen), Jawa Tengah (14 persen), dan Jakarta (17 persen). Sisanya tersebar di Jawa Timur, Bali, Sumatera dan Yogyakarta. Daerah aliran sungai Citarum, yang mendukung terciptanya 20% total produksi industri Indonesia, merupakan sumber dari 60% produksi tekstil nasional.  “Berdasarkan data tersebut, diduga bahwa merek-merek ternama tersebut juga turut meracuni Sungai Citarum dan sungai-sungai lainnya di Indonesia dengan bahan kimia berbahaya,” kata Ahmad Ashov.

“Memang dampaknya tidak terasa sekarang, tapi efeknya jangka panjang, bahan kimia beracun  itu terus terakumulasi di alam, tak hanya berhenti di air, tapi juga akan masuk ke rantai makanan,”jelasnya.

Greenpeace menuntut merek fashion untuk berkomitmen terhadap ‘nol pembuangan’ terhadap semua bahan kimia berbahaya pada tahun 2020 – seperti yang sudah dilakukan oleh merek  H & M dan M & S - dan meminta pemasok mereka untuk mengungkapkan semua bahan kimia beracun yang dilepaskan dari fasilitas mereka kepada masyarakat di lokasi pencemaran air.

“Komitmen tersebut harus juga mencakup transparansi informasi mengenai bahan-bahan kimia beracun dan berbahaya yang merek-merek tersebut sekarang pergunakan dan buang selagi menuju nol pembuangan,”tambahnya. 

Sementara itu, perwakilan Zara di Indonesia dalam hal ini  PT Mitra Adiperkasa yang coba dihubungi Beritalingkungan.com  beberapa kali untuk konfirmasi, namun tidak bisa tersambung. (Marwan Azis).
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment