Ekosistem Leuser Alami Ancama Serius

JAKARTA, BL- Para pemburu mengancam badak dan membunuh 10 ekor harimau di Kawasan Ekosistem Leuser. Komitmen Pemerintah Aceh terhadap pelestarian Leuser dianggap menurun

Bulan Agustus tahun lalu, 21 orang asal Vietnam ditangkap di Kawasan Ekosistem Leuser, Aceh. Mengaku turis, tetapi semua visa mereka sudah kedaluarsa sehingga seharusnya meninggalkan Indonesia. Yang mencurigakan mereka tertangkap di sekitar lokasi penemuan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Peristiwa itu diungkapkan oleh Dewan Pembina Yayasan Leuser Internasional-YLI, Sarwono Kusumaatmadja, dalam diskusi di Sekretariat SIEJ, Jakarta (16/1).

Ketua Dewan Direktur Yayasan Leuser Internasional Jamal M.Gawi membenarkan cerita itu dan menurut informasi yang diperolehnya, 15 orang telah dideportasi ke Vietnam dan sisanya sebanyak 6 orang masih ditahan oleh Polda Aceh untuk diproses lebih lanjut. Jamal mencurigai mereka termasuk dalam jaringan perdagangan cula badak Sumatera. " Vietnam dikenal sebagai tujuan utama perdagangan cula 
badak internasional,"katanya.

Sejak penemuan badak Sumatera di Leuser yang terekam kamera perangkap-camera trap sekitar Desember 2011, pemberitaan di luar negeri gencar. Ditambah pula beberapa studi menyataka bahwa terdapat sedikitnya 9 habitat badak di Leuser dengan jumlah populasi sekitar 80 ekor. "Batas kritis badak sekitar 100 ekor, jadi badak Sumatera di Leuser masih rentan terancam punah,"katanya.

Jamal juga mengungkapkan berdasarkan hasil studi, terungkap nilai cula badak asal Asia paling tinggi, karena dalam literatur pengobatan ala Cina, badak Asia dianggap api sedangkan badak Afrika dianggap air yang bernilai lebih rendah. "Satu kilogram cula badak Sumatera nilainya bisa mencapai Rp 500 juta," ungkap Doris Pandjaitan, Wakil Ketua YLI.

Mamalia lain yangn mendapat ancaman adalah harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Jamal mengungkapkan bahwa hasil investigasi YLI menemukan terjadinya pembunuhan terhadap 10 ekor harimau Sumatera sekitar dua bulan lalu. "Kulitnya dikirim ke Riau dan dari sana lalu diselundupkan ke luar negeri,"katanya.

Kawasan Ekosistem Leuser-KEL luasnya mencapai 2,6 juta hektare dan merupakan hutan hujan tropis Sumatera yang berkualitas paling bagus yang tersisa saat ini. Di dalam KEL terdapat empat mamalia besar yaitu gajah, harimau, badak dan orangutan, dan merupakan keistimewaan karena hampir tak ada ekosistem lain di kawasan Indonesia yang mempunyai hingga empat spesies mamalia kunci.

Namun, seperti diungkapkan Jamal, KEL menghadapi masalah yang sangat berat karena semangat kepala daerah yang baru terpilih di Aceh untuk melestarikan KEL menurun. Contohnya, pemerintah Aceh membubarkan Badan Pembina Kawasan Ekosistem Leuser-BP KEL pada November 2012 padahal lembaga ini dapat bekerjasama dengan YLI dan pihak lain untuk melindungi KEL. Langkah ini dapat mengancam keberlangsungan KEL dan seluruh potensi dan kekayaan alam yang ada di dalamnya. (IGG Maha Adi).
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment