Merpati, Si Tukang Pos

Merpati. Foto-2 : Fahrul Amama/Burung Indonesia

Siapa yang tak kenal burung satu ini? Merpati, burung bertubuh gemuk ini dengan sangat mudah ditemukan di permukiman padat penduduk, taman kota, hingga pusat keramaian. Sifatnya yang paling menonjol adalah jinak dan bersahabat.

Nama merpati, ternyata sudah melegenda dalam mitologi Yunani sebagai binatang kesayangan Aprodite, dewi tercantiknya negeri para dewa. Kemana Aprodite pergi, merpati siap menemani. Merpati digambarkan sebagai burung yang tidak hanya setia pada tuannya tetapi juga pada pasangannya.

Kisah masyurnya adalah ketika Aphrodite membantu Hippomenes, pangeran dari kota Onkhestos, guna mendapatkan cinta Atalanta, putri Raja Iasus. Kala itu, Aphrodite memberikan apel emas kepada Hippomenes agar ia dapat menaklukkan Atalanta pada perlombaan lari. Dari mitologi ini, merpati sebagai simbol kesuciaan cinta, berkembang. Sedangkan apel, menjadi buah perlambang ungkapan cinta kepada seseorang.

Dalam kehidupan manusia moderen, merpati tidak hanya dikenal sebagai makhluk manis yang dekat manusia. Tetapi juga, sebagai burung tangguh yang dapat diandalkan. Dahulu, sebelum teknologi seperti telegram, fax, atau telepon ditemukan, tugas pembawa informasi diemban olehnya. Merpati dipilih karena kedigjayaannya dalam menyampaikan pesan yang cepat dan akurat.

Dinasti Mamluk Mesir (1250 M-1517 M) telah menggunakan merpati sebagai pengirim pesan rahasia ketika berperang melawan Mongol. Kala itu, menara pengawas yang didirikan Mamluk berhasil ditembus tentara Mongol sehingga pengiriman pesan melalui jalan darat terhalang. Akhirnya, merpati diserahkan tugas sebagai pembawa pesan karena dianggap paling aman sekaligus sebagai sistem komunikasi tercepat saat itu. Pada masa Mamluk ini, diperkirakan sebanyak 1.900 ekor merpati telah dilatih sebagai merpati pos.

Hingga disini, kehebatan merpati belum berakhir. Seorang pelukis terkenal abad ke-20, Pablo Picasso, mengabadikan merpati melalui guratan indahnya di atas kanvas. Lukisan legendaris yang kemudian dikenal sebagai "Dove of Peace" tersebut menjadi logo Kongres Perdamaian Dunia tahun 1949.  Guratan gambar merpati di atas kanvas tersebut dibuat Picasso setelah terinspirasi burung dari Melanesia, pemberian Henri Matisse, salah satu pelukis terkenal Perancis.


Di Indonesia, nama merpati telah diabadikan untuk nama sebuah maskapai penerbangan yang memiliki moto sebagai jembatan udara nusantara. Juga, gambar merpati mengelilingi dunia dengan kecepatan tinggi tampak menjadi logo sebuah badan usaha milik negara yang bergerak di bidang layanan pos.

Tersebar                      

 
Merpati yang kita kenal dalam keseharian adalah merpati batu (Columba livia), anggota keluarga Columbidae. Meski merpati satu kelompok dengan banyak jenis, namun kita sering menyebutnya merpati. Padahal, ada 318 jenis Columbidae di dunia yang hampir setengahnya adalah jenis-jenis merpati.

Kelompok merpati pun sangat beragam. Ada yang hanya dijumpai di pegunungan, hutan nan lebat, atau perkotaan. Warna bulunya juga beragam. Dari yang kombinasi hitam-putih, hijau, coklat, hingga metalik. Namun begitu, secara keseluruhan panggilannya tetaplah merpati. Populasi Rock Pigeon di seluruh dunia ini diperkirakan mencapai 260 juta individu dewasa. Persebarannya terbentang sejauh 17.400.000 kilometer persegi.

 


Salah satu hal unik dari merpati adalah kemampuan beradaptasinya dengan lingkungan baru. Kemampuan mengagumkan inilah yang menyebabkan tumbuhnya populasi feral, yaitu populasi yang dapat berkembang dengan baik di luar habitat dan persebaran aslinya. Populasi ini awalnya terbentuk akibat terlepasnya merpati batu yang statusnya sebagai peliharaan ke alam bebas. Selanjutnya, ia berkembang biak di tempat barunya dengan membentuk populasi lagi.

Namun, populasi feral ini sering diabaikan dengan alasan bahwa populasi ini bukan berasal dari jensi asli. Selain itu, sedikit banyaknya, populasi feral terbentuk karena ada campur tangan manusia.

Untuk Indonesia, merpati batu yang selalu kita lihat bukanlah jenis asli Indonesia. Keberadaannya yang disebut juga sebagai populasi feral sudah ada di lingkungan kita sejak dulu hingga saat ini. Namun begitu, agak sulit mengatakan bila populasi feral tersebut bukanlah jenis yang berkembang biak secara alami. Diperlukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui sejarah kehadirannya.

Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa merpati alias burung dara merupakan burung yang dapat beradaptasi dengan baik. Di kawasan perkotaan, ia tidak hanya bergantung pada biji-bijian atau juga invertebrata sebagai makanannya. Akan tetapi ia menyukai remahan roti, serpihan kue, jagung, atau kacang yang diberikan manusia. Di perkotaan juga, ia hidup damai dengan manusia. Itulah mengapa, merpati merupakan burung yang dekat di hati.* (Rahmadi)
Share on Google Plus

About Redaksi

    Blogger Comment
    Facebook Comment