Sejarah Banjir Jakarta dan Solusinya


Oleh : Asep Kambali*

Banjir tempo dulu sampai di pusat Ibu Kota Jakarta. Foto : Istimewa.
Jakarta sejak lama berada 2,5 meter di bawah permukaan laut (lihat pintu air Sunda Kelapa).  Air buangan dari Ciliwung tidak dibuang ke Laut Jawa, tapi dialihkan via kali Pakin menuju danau Pluit. 

Hal itu dilakukan karena jika pintu air itu dibuka,  Pak SBY & kita gak bakalan bisa ngantor, karena kawasan Monas, Bundaran Hotel Indonesia, Sudirman, Kuningan dan sekitarnya bakal tenggelam.

Memperhatikan kenyataan demikian, banjir di Jakarta tidak lagi bisa kita hindari. Hanya orang yang  tidak mengerti sejarah  dan "sok jago" yang bilang bisa mengatasi banjir Jakarta. Oleh karena itu, banjir Jakarta seharusnya dikelola, untuk dimanfaatkan sepenuhnya bagi kesejahteraan bersama.

Banjir terbesar di Jakarta tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1918. Hampir seluruh Jakarta kerendem, kala itu wilayah Jakarta masih belum seluas sekarang. Salah satu yang paling parah adalah kawasan Jl. Sabang, Jakarta Pusat.

Desain tata kota Batavia tahun 1620 (nama sebelum Jakarta) dibuat oleh Simon Stevin menyerupai kota Amsterdam. Dimana sungai diluruskan & kanal-kanal dibuat agar banjir bisa direkayasa menjadi potensi kota.  Maka Batavia saat itu terkenal dengan sebutan Batavia Queen of The East.

Namun sayang seribu sayang, Pemerintah Perancis melalui Gubernur Jenderalnya di Batavia, Daendels, tahun 1808-1811 menghancurkan kota benteng/kastil Batavia itu, dan mengubur kanal-kanalnya menggunakan material tembok kota Batavia yang dihancurkannya itu.

Saat itu, Batavia dihantui penyakit kolera dari nyamuk mal-area (malaria). Dimana kanal-kanal jadi dangkal karena pengendapan. Kanal-kanal itu jadi sarang nyamuk malaria itu.

Daendels pun mendirikan kota baru di Lapangan Banteng, Weltevreden, menggunakan sebagian material tembok kota yang tersisa.                                              

Mengelola Banjir

Penulis : Asep Kambali.
Kini, Jakarta berjuang dengan banjir yang terus menerus melanda. Pemerintah kehabisan akal, seraya putus asa. Banjir di Jakarta seyogyanya jadi potensi, bukan musibah yang harus ditangisi.  Beberapa tips dan trik (gila dari saya) dalam mengelola banjir.

Pemerintah dan masyarakat seharusnya mendorong dan membangun kesadaran bersama bahwa banjir harus dihadapi dengan cara membuat rumah-rumah tinggi seperti tradisi orang Bugis, Makasar. Di mana rumah-rumah bertiang tinggi, sehingga ketika air pasang, rumah mereka tidak tenggelam.


Kemudian, buatlah desain Wisata Banjir, dengan menampilkan Museum Banjir, yang berisi segala hal ikhwal terkait banjir.  Sejarahnya, dokumentasi dan lain-lain.  Karena museum bisa jadi inspirasi jangka panjang bagi generasi berikutnya.

Bikin petualangan banjir pakai perahu karet, bikin wahana segala bentuk permainan di masa banjir, bikin perlombaan  kompetisi ketika banjir dan lain-lain. Kalau sudah demikian, banjir akan dinanti-nanti, diharapkan dan dinikmati bersama.

Mau maju???!! Jadilah "orang gila" yg mampu memandang kedepan dengan berpijak pada pemahaman sejarah bangsa! Selamat menghadapi banjir, semoga berhasil! ;).

*Penulis adalah Sejarawan Pendiri Indohistoria (Komunitashistoria.org).
Share on Google Plus

About Redaksi

    Blogger Comment
    Facebook Comment