Sarongge Kini Bertransisi Jadi Kampung Wisata

Pintu gerbang areal adopsi pohon Sahabat Green, lokasi Sarongge TNGP. Foto : Marwan Azis/BeritaLingkungan.com

CIANJUR, BL- Setelah melalui proses panjang, akhirnya petani yang selama ini berkebun di hutan Sarongge yang masuk area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) bersedia meninggalkan kawasan konservasi tersebut.

Direncanakan  sebanyak 155 kepala keluarga (KK) warga Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat,  sudah harus turun gunung pada akhir Agustus tahun ini.

Selanjutnya mereka akan menekuni berbagai profesi seperti peternak, perajin hingga menjadi pengelola ekowisata Kampung Sarongge yang kini namanya mulai mendunia. Termasuk menjadi petani, namun di luar areal konservasi TNGP.

Perubahan itu berawal dari sebuah program adopsi pohon yang dilakukan sejumlah jurnalis yang dikoordinir Tosca Santoso yang bekerja di Green Radio Jakarta sejak tahun 2008.  Program adopsi pohon ini bertujuan menghijaukan kembali lahan atau areal hutan Taman Gunung Gede Pangrango (TNGP) yang dirambah warga dan diubah menjadi lahan pertanian pasca Perhutani berhenti beroperasi di areal tersebut.

“Pendengar Green Radio di Jakarta, itu kan pendengarnya  warga Jakarta,  kalau banjir selalu menunduh itu kiriman dari Puncak,  saya pingin kita berubah, kalau nggak mau dapat kiriman banjir, kita harus sama-sama berbagi  di daerah hulu.  Kebetulan TNGP ada beberapa arealnya, ada ribuan hektar yang seharusnya hutan,  tapi terlanjur menjadi kebun sayur,”kata Dirut Utama Green Radio Santoso bercerita awal mula program adopsi pohon di Sarongge, dalam perpincangan di sela-sela Festival Sarongge.

Berdasarkan catatan Balai TNGP, lahan kritis akibat perambahan kini seluas 700 hektar. Dan khusus di sekitar Sarongge, Gunung Ciputri totalnya 38 hektar. Ke-38 hektar itu capaiannya hingga ketinggian lebih dari 800 meter dari permukaan laut  (mdpl).

Namun berkat program adopsi pohon Sahabat Green yang dilakukan Green Radio,  areal yang sebelumnya dimanfaatkan petani untuk nanam sayur, kini perlahan tapi pasti mulai menghijau  seiring dengan makin banyak pihak yang terlibat dalam program adopsi pohon. Pengelolaan pun mulai diambil alih pihak Balai TNGP.
Adopsi pohon. Foto : Marwan Azis/BL.

Selama 5 tahun program Adopsi pohon berlangsung, telah berhasil melakukan penanaman pohon sebanyak 23.000 batang pohon atau 38 hektar areal taman nasional telah berhasil ditanami dengan pohon hasil adopsi.

Dalam implementasinya warga dilibatkan  dalam program adopsi pohon tersebut mulai dari sebagai penyedia bibit hingga pemeliharaan termasuk menjadi pengelola site ekowisata camping ground Sarongge.

Tak berhenti sampai disitu, pihak Green Radio juga berupaya mencari pendapatan alternative untuk warga setempat dengan memberikan bantuan domba, kelinci hingga penguatan kapasitas dalam pengelolaan kampung wisata.

Menurut Tosca, hutan Sarongge yang merupakan bagian dari TNGP memiliki potensi hutan tropis  yang sangat luar biasa, dan menjadi habitat berbagai satwa endemik seperti macam tutul, elang jawa yang kini tersisa 600 ekor. “Kamera trek masih menemukan anak macam,”ungkapnya.

Mantan Sekjen Aliansi Jurnalis Independepen (AJI) Indonesia ini menekankan pentingnya upaya pemberdayaan atau penguatan ekonomi  masyarakat dimasa transisi dari petani sayur di hutan Sarronge menjadi peternak atau pengelola kampung wisata.”Karena tidak mungkin kita hanya minta petani nanam pohon, kalau dapurnya terbalik,”ujarnya.

Tosca mengaku terharu atas kesedian masyarakat untuk sukarela turun dari hutan. “ Itu mengharukan sekali, karena mereka terlibat perawatan hutan sambil mempertarukan nasibnya dan sebagian berhasil,”

Kampung Sarongge. Foto : Marwan Azis/BL
Bagi Tosca, proses transisi ini memiliki tantangan tersendiri.  “Sesuatu yang baru,  tentu perlu upaya untuk sama-sama meyakini.  Terutama untuk petani, kuncinya dapurnya jangan sampai nggak ngepul, karena itu cita-cita ideal bagus tapi harus berjalan dengan realitas yang ada. Karenanya  waktu saya ngajak turun berjalan agak natural, sampai 5 tahun,  baru bisa menemukan alternativenya,”tuturnya.

Namun dengan adanya komitmen dari Balai TNGP dan BPDAS lanjut Tosca, bisa dipercepat  karena petani dikasih honor petani selama beberapa bulan.  “Tapi sekarang saya masih cemas, karena walaupun ada pemberian subsidi dari pemerintah  dalam beberapa bulan, saya kira masih ada masyarakat yang tertinggal (di hutan), karena tidak bisa menyesuiakan peluang yang baru.  Buat saya ini tantangan jangka panjang, karena hutan nya juga disini belum sepenuhnya pulih, butuh puluhan tahun untuk kembali baik dan masyarakat bisa lebih bermartabat. Ini masih pekerjaan sangat awal,”tandasnya.

Untuk menjaga sumber pendapatan warga Sarongge, selain mereka diberikan bantuan ternak seperti domba dan kelinci, mereka juga diarahkan menjadi pengelola kampung wisata.

"Mudah-mudahan daerah ini yang tadinya masalah malah akan jadi percontohan. Pemerintah akan mengembangkan taman nasional di sini juga memberi kontribusi untuk masyarakat dengan wisata alam, artinya orang datang bisa menikmati alam,"kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang juga turut hadir dalam acara Festival Sarongge yang digelar di tepian hutan Desa Ciputri Kampung Sarongge. Festival Sarongge sendiri digelar selama tiga hari yaitu sejak  tanggal 29 juni hingga 1 juli 2013. Dalam sambutannya pada pembukaan festival Sarongge, Menhut  mengapresiasi upaya dan keberhasilan program  adopsi pohon yang digagas oleh Green Radio.

Hal senada juga disampaikan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Menurutnya, Sarongge sangat potensial untuk dikembangkan menjadi desa ekowisata yang menguntungkan bagi masyarakat setempat.

“Kampung Sarongge ini bisa trekking, birdwatching, dan wisata pendidikan, apalagi tempat ini tidak jauh dari Jakarta. Dari pengunjung wilayah sekitar ini aja sudah bagus. Masyarakat harus belajar mengelola homestay, ini sangat menguntungkan masyarakat setempat karena wisatawan akan tinggal dan makan bersama mereka,”jelasnya.

Menurut Mari, trend wisata belakangan ini mengalami peningkatan minat yang luar biasa seperti sepeda gunung, trekking.  “Yang paling penting dari ekowisata adalah mendapatkan pengalaman  yang berbeda, yg unik, menarik dan sehat,”tandasnya.(Marwan Azis).
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment