Pemerintah Konsel Tak Peduli Bencana?

Infrastruktur jalan di Konawe Selatan hingga kini banyak rusak berat , ironisnya tidak ada upaya pemerintah setempat untuk memperbaikinya. Tampak salah satu ruas jalan Kecamatan Laeya, tepatnya di Desa Anduna  yang mengalami kerusakan akibat longsor.   Foto: Yoshasrul/sultranews.com  

KONSEL, BL-Tiga pekan pasca bencana banjir melanda wilayah Kabupaten Konawe Selatan, belum ada tanda-tanda kepedulian ditunjukkan pemerintah setempat. Ini  dapat dilihat dari tidak jelasnya penanganan korban banjir hingga belum adanya upaya perbaikan infrastruktur yang rusak.

Para korban banjir di Kecamatan Laeya, Moramo, Moramo Utara, Kolono dan  Palangga, misalnya hingga dua pekan  silam urung mendapatkan bantuan makanan dari pemerintah kabupaten. Bahkan di Kecamatan Laeya baru tiga  hari lalu  bantuannya tersalur. "Ya, bantuan baru tiga hari lalu tersalur, dan menurut saya itu sangat lambat tindakan dari pemerintah,"kata seorang anggota TNI di Konawe Selatan. 

Tak jelasnya penanganan para korban banjir membuat sebagian warga bertanya-tanya  mengapa pemerintah kabupaten yang dipimpin Imran ini begitu tega membiar kondisi ini. "Pemerintah selalu berdalih pada urusan data, padahal korban sudah sangat membutuhkan bantuan,"kata Sabri, warga Konsel.     

Kesan tidak peduli memamng tengah dipertontonkan Pemerintah Konawe Selatan dan seolah menyerahkan seluruh penanganan perbaikan infrastruktur pada pemerintah provinsi dan pusat. Perbaikan infrastruktur jalan yang longsor yang terbentang dari  kecamatan Konda, Wolasi dan Laeya, misalnya, hingga kini kondisinya tidak berubah, jalan longsor tetap dibiarkan menganga, dan sangat membahayakan pengguna jalan.

Demikian pula sejumlah jembatan yang rusak diterjang air bah, tetap dibiarkan terbengkalai tanpa ada upaya perbaikan. Umumnya  warga bersama  pemerintah desa dan kecamatan melakukan inisitif sendiri membuat jalan alternatif super darurat . "Anda lihat saja sendiri, kondisi kerusakan masih seperti ini.  Ini karena hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah kabupaten dan provinsi. Jadi semua ini murni swadaya masyarakat  warga dibantu pemerintah desa dan kecamatan,"kata Mustari Renggaala, Camat Laeya. Ia pun berharap agar pemerintah segera turun tangan. Kondisi serba darurat memang membuat dilema, dimana warga pengguna jalan  terpaksa harus melintasi sungai selebar 200 meter ini.

Pemerintah seolah tak sadar  jika jalur jalan di wilayah itu  adalah jalur  utama yang menghubungkan sejumlah kabupaten dimana tahun ini akan dilalui para pemudik yang akan berlebaran di kampung halaman.  TIM  
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment