Real Food : Menuju Kedaulatan Pangan

Foto : realfood.com
Oleh : Andy Hendraswanto*

Mungkin diantara kita masih awam mendengar istilah real food. Kalangan masyarakat Amerika dan Eropa yang menyadari akan pentingnya makanan yang aman, sehat, ramah lingkungan dan berpihak pada petani lokal menyebutnya sebagai real food.

Konsep real food ini pernah diungkapkan oleh Muhammad Ahkam Subroto,peneliti LIPI, dalam bukunya yang berjudul Real Food True Health.

Dalam konsepnya, real food merupakan pangan yang mengandung 10 kriteria umum, antara lain; 1. Mengandung nutrisi penting bagi metabolisme tubuh, 2. Tidak mengandung komponen yang berbahaya, toksik, atau yang tidak berguna bagi tubuh, 3. Dihasilkan secara organik, 4. Dihasilkan secara lokal,5. Dihasilkan secara berkelanjutan, 6. Terjangkau oleh kebanyakan konsumen, 7. Mudah diperoleh, 8. Mengalami proses pengolahan yang seminimal mungkin, 9. Ramah lingkungan, 10. Berpihak pada petani lokal.

Bisa saja kita mengalami kesulitan untuk menemukan jenis pangan yang memenuhi kriteria tersebut di pasar. Meskipun ada produk organik yang tersedia di pasar khususnya di minimarket modern atau hypermarket biasanya harga menjadi kendala utama karena rata-rata harga produk organik diatas harga pangan konvensional pada umumnya. Lantas, apakah masih ada potensi sumberdaya lokal yang dapat diolah menjadi pangan yang memenuhi kriteria real food diatas?

Rasa optimisme itu masih ada ketika Prof. Ristono (mantan dosen Universitas Mulawarman) menemukan singkong gajah yang memiliki produktifitas cukup tinggi dibandingkan singkong(Manihot utilissima) lainnya. Singkong gajah yang ditemukannya tersebut memiliki berat rata-rata 20 kg – 40 kg per batang dengan tekstur lembut dan rasa yang cukup enak (rasa mentega) sesuai preferensi konsumen. Budidaya singkong inipun tak berbeda dengan jenis singkong lainnya karena dapat menggunakan teknik pemeliharaan yang murah seperti penggunaan pupuk kandang dan pestisida hayati.

Meskipun dalam keadaan iklim yang cenderung mengalami anomali cuaca masih dapat tumbuh dengan baik. Hasil panen singkong gajah dapat memberikan penghasilan yang cukup baik bagi petani jika dibandingkan dengan budidaya singkong biasa atau budidaya padi sekalipun.

Sebagai simulasi saja dalam 1 ha dengan jarak tanam minimal 1 m x 1 m dapat ditanami 10.000 stek dengan hasil panen mencapai 200 ton. Jika harga minimal Rp. 1000/ kg maka petani akan mengantongi hasil kotor sebesar Rp. 200 juta dalam kurun waktu budidaya 10 – 12 bulan.

Potensi penghasilan tersebut merupakan berita baik bagi petani gurem Indonesia, yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahun, untuk memperbaiki tingkat kesejahteraannya. Melalui budidaya singkong gajah, konsumenpun mendapatkan pangan bergizi yang aman, sehat dan murah. Mengingat singkong sudah terbukti memiliki kandungan kalori, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi, lemak, vitamin C, vitamin B1 yang cukup untuk menunjang metabolisme tubuh kita.

Foto : myfunfoodiary.com
Kabar baik lainnya, Singkong gajah dapat diolah menjadi beras cerdas seperti yang ditemukan oleh DR. Ahmad Subagio, peneliti Universitas Jember. Singkong gajah dapat diolah menjadi tepung Mocaf (modified cassava flour) sebagai bahan baku beras cerdas. Tepung Mocaf merupakan hasil modifikasi sel singkong secara fermentasi.

Bentuk beras cerdas yang mirip beras konvensional dapat dijadikan alternatif pangan bagi konsumen mengingat kandungan gizinya yang lebih baik dan harga beli yang relatif lebih murah.
Dengan konsep cerdas-nya, beras cerdas dapat diolah dengan teknologi yang sederhana dalam arti mudah dioperasionalisasikan dengan biaya yang terjangkau oleh home industry maupun pengelola usaha lainnya. Beras cerdas juga terbukti dapat memberikan kontribusi positif bagi kesembuhan penderita diabetes millitus dimana dalam konsumsi selama 3 minggu kadar gula penderita dapat diturunkan hingga 24 %.

Konsep real food bukan hanya suatu mimpi tapi dapat direalisasikan. Real food yang berwujud beras cerdas dengan bahan baku singkong gajah dapat memberikan multiflier effect baik bagi petani/ petani gurem, konsumen, maupun lingkungan.

Bagi petani/ petani gurem yang nyata adalah harapan memperoleh peningkatan penghasilan yang signifikan dapat memperbaiki kualitas hidupnya serta memberikan semangat bagi kaum muda untuk kembali mencintai petani sebagai profesi yang terhormat.

Bagi konsumen, jelas tersedianya stock pangan pokok yang aman, sehat dan murah serta dapat diperoleh dengan mudah sehingga ketahanan pangan dapat terjaga secara kontinu tanpa bergantung dengan import. Bagi lingkungan, singkong gajah yang memiliki ketinggian 5 m dapat mengurangi gas rumah kaca melalui penyerapan co2 serta mampu menahan air diwaktu musim hujan tiba.

Selain itu, singkong gajah dapat dijadikan bioetanol sebagai sumber energi terbarukan yang dapat dikelola dan dimanfaatkan secara langsung oleh petani dan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian setapak demi setapak kedaulatan pangan melalui konsep real food tersebut dapat diwujudkan melalui kerjasama erat petani, peneliti, konsumen dan stakeholder lainnya.

Selamat Hari Pangan Sedunia.

*Penulis adalah kontributor Beritalingkungan.com.

Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment