Membatik Sekaligus Melestarikan Lingkungan

Batik khas Lombok, NTB. Foto : Marwan Azis/Beritalingkungan.com.
Oleh : Andy Hendraswanto*

Batik kini telah mendunia bak selebritis papan atas yang semakin moncer dan populer. 

Bukan semata pujian saja, batik semenjak diresmikan Unesco sebagai masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity pada 2 Oktober 2009 telah memberikan kontribusi devisa bagi negara. 

Hal itu tercermin dari dari meningkatnya nilai ekspor batik ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Jika tahun 2010 nilai ekspor batik hanya  mencapai USD 22,3 juta meningkat pesat menjadi USD 278 juta pada tahun 2012 yang lalu.

Ya, batik telah terbukti meningkatkan ekspor nonmigas negara. Sekitar 3 juta lebih orang hidup dalam usaha batik yang tersebar ke berbagai daerah dalam berbagai tipe usaha mulai dari skala pabrik hingga home industri. Ditunjang dengan semakin maraknya pemerintah daerah berkreasi dan berlomba menciptakan batik khas mereka masing-masing plus berbagai event nasional dan lokal yang mengiringinya. Seperti Gebyar Batik Nasional dan Pekan Batik Internasional telah menjadi ajang adu keindahan motif dan kualitas batik dari berbagai perajin batik nusantara. Belum lagi event lokal seperti Solo Batik Carnival yang selain mampu menghipnotis penonton juga turut membagi tetesan ekonomi dengan pedagang kaki lima. Inilah multiplier ekonomi batik.

Seiring dengan terjalinnya kemitraan strategis antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Perancis pada tahun 2011 telah mengisyaratkan adanya peluang pasar ke Eropa khususnya ke negeri fashion tersebut. Peluang ini muncul seiring dengan semakin banyaknya konsumen Eropa yang mengakui kualitas produk dari industri kreatif Indonesia. Hanya saja, perajin batik Indonesia harus berani mencoba membuat batik yang ramah lingkungan. Batik dengan warna alami sangat digemari masyarakat Eropa terutama pada saat memasuki musim semi hingga musim gugur. 

Batik khas Lombok, NTB. Foto : Marwan Azis/Beritalingkungan.com.
Terlebih batik dengan berbahan baku sutra alam akan meningkatkan harga jual di negeri yang terkenal dengan 4 musimnya itu. 

Tantangan lainnya bagi perajin batik adalah mencoba melakukan terobosan teknologi daur ulang produk fashion karena akan memberikan nilai tambah sekaligus turut aktif berpartisipasi dalam penyelamatan lingkungan global.

Di sisi lain,guna menghindari pemalsuan dan pembajakan motif batik Indonesia yang diekspor ke mancanegara, pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi secara kontinu akan pentingnya batikmark ,yang telah diluncurkan sejak 2007 lalu, sebagai identitas pembeda terhadap batik merk negara lain. 

Saat ini dari 50.000 perajin batik nusantara hanya sekitar 106 pelaku saja yang telah memperoleh sertifikasi Batikmark. Angka tersebut masih jauh dari harapan, mengingat peluang ekspor yang masih terbuka lebar bagi batik nasional serta tingkat kompetisi yang mulai sengit dengan datangnya serbuan batik dari negeri jiran dan China.

Selanjutnya,efisiensi produksi batik mesti dipikirkan oleh para perajin batik sebab masih banyak permintaan buyer yang belum mampu dipenuhi akibat panjangnya rentang waktu proses produksi batik khususnya batik tulis. 

Penemuan mesin batik kelowong yang memudahkan perajin batik untuk membuat pola dasar batik dengan sistem komputerisasi akan memperpendek waktu pembuatan pola yang selama ini masih dikerjakan secara manual. Terutama pembuatan pola dasar diatas kain sutra alam yang selama ini memakan waktu cukup lama dengan mesin tersebut masalah waktu dapat diatasi dengan cepat dan tepat. Selain itu, perajin dapat menciptakan motif batik yang semakin beragam.

Kendala yang masih dihadapi oleh perajin batik tulis adalah minimya persediaan bahan baku sutra alam yang perlu diantisipasi oleh pemerintah dengan memperluas lahan tanam murbei. Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai daerah penghasil benang dan sutra alam masih belum mampu memenuhi permintaan pasar. Dari potensi lahan sebesar 10.000 ha, hanya 2.524 ha yang telah ditanami murbei. Kedepannya potensi tersebut harus digarap secara maksimal agar dapat memenuhi permintaan kain sutra bagi perajin batik tulis di pulau Jawa. Mengingat pasar Eropa menggandrungi kain batik berbahan sutra alam plus warna alaminya.

Semoga roadmap batik nasional hingga 2025 dapat berjalan mulus meski akan ada pergantian kepemimpinan nasional pada tahun 2014. Siapapun yang menjabat nanti harus melanjutkan program besar tersebut demi kemajuan ekonomi dan kelestarian warisan budaya bangsa. Selamat Hari Batik Nasional.

*Penulis adalah kontributor Beritalingkungan.com.
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment