.

.
.

Merayakan Kekayaan Lautan Indonesia Sembari Kampanye Lingkungan di Festival Laut

Cheff Adrian dan Putri Lingkungan Infonesia saat demo memasak..Foto : FbFirman Wahyu Pratama
JAKARTA, BL- Greenpeace Indonesia menyelenggarakan Festival Laut  di Taman Kridaloka Jakarta, guna meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya perikanan berkelanjutan demi masa depan dan kesehatan laut dunia. 

Afif Saputra, Penanggung Jawab Festival Laut, mengungkapkan festival ini diadakan untuk membawa isu-isu kelautan ke tengah masyarakat urban dan meningkatkan kesadaran bahwa laut merupakan bagian penting dari kehidupan, termasuk juga dalam kehidupan perkotaan. Terlebih lagi Kota Jakarta yang memiliki populasi lebih dari 10 juta jiwa berpotensi menjadi salah satu basis konsumen makanan laut terbesar di Indonesia. Oleh karena itu menjadi penting bagi masyarakat Jakarta untuk memilih sumber pangan laut dengan hati-hati.

Apalagi saat ini hampir 90% stok ikan di lautan dunia telah dikuras berlebihan akibat cara penangkapan ikan yang merusak dan tidak berkelanjutan. Cara penangkapan tersebut juga memicu kerusakan terumbu karang, bahkan bulan lalu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan 70% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi rusak.

“Persoalan laut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memilih dengan tepat sumber pangan dari lautan turut menentukan masa depan laut. Untuk itu masyarakat perlu memahami dari mana makanan laut yang kita konsumsi berasal, apakah berasal dari perikanan berbasis alat tangkap jaring menggunakan rumpon yang dapat menghancurkan stok ikan di laut, atau dari perikanan bertanggung jawab,” kata Afif melalui keterangan tertulisnya yang diterima Beritalingkungan.com.

Seraya menambahkan, nelayan kita mengenal berbagai cara tangkap ikan yang lebih bertanggung-jawab seperti misalnya huhate yang juga dikenal dengan nama pole and line yang terdiri dari bambu sebagai joran atau tongkat dan rangkaian tali pancing dan kail. Cara penangkapan huhate dapat dijumpai di Sulawasi Utara, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur. 

Sementara rumpon atau Fish Aggregating Devices (FADs) adalah objek terapung yang digunakan untuk menarik berbagai macam ikan, terkadang mencapai hingga 300 jenis, termasuk kelompok pelagis seperti tuna, marlin, dan mahi-mahi. Rumpon berbahaya karena penggunaan jaring di sekitarnya membuat penangkapan tidak selektif, mengangkut segala jenis ikan sehingga berpotensi mengganggu stok ikan di lautan.

Festival Laut yang digelar 19 September 2015 ini mengedepankan konsep edukasi bagi seluruh anggota keluarga, oleh sebab itu para pengisi acara juga begitu beragam. Putri Indonesia Lingkungan, Kak Seto, dan Winson The Story Teller Family akan berbagi panggung utama. Selain itu Chef Andrian juga akan menampilkan demo masak dengan menggunakan bahan yang ramah laut.Tak lupa juga, sederet band indie seperti White Shoes & The Couples Company, Stars & Rabbit, Abdul & The Coffee Theory, serta Brianna Simorangkir juga turut meramaikan Festival Laut. (Marwan)
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: