BNPB : Evaluasi Dilakukan dengan Perbanyak Rumah Singgah

KORBAN KABUT ASAP – Deva, seorang balita yang baru berusia empat tahun, terpaksa dilarikan oleh orangtuanya ke rumah singgah di Jalan Rajawai VI, Palangka Raya, Kalteng, bayi tersebut mengalami kesulitan pernapasan karena diduga menderita saluran pernapasan akut akibat kabut asap yang semakin pekat (20/10). Foto : Adi Wibobo/PalangkaPost.
 JAKARTA, BL- Operasi kemanusiaan bagi masyarakat yang terpapar asap pekat di Sumatera dan Kalimantan terus dilakukan. Penderita ISPA mencapai 505.527 jiwa sejak Juli hingga sekarang.


‎Hal tersebut disampaikan Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB‎) kepada Beritalingkungan.com. Diungkapkan, beberapa Pemda telah membangun rumah singgah atau tempat evakuasi di gedung-gedung Pemda, seperti Kota Pekanbaru, Palangkaraya, Bengkalis, Palembangan, Katingan dll. Beberapa NGO dan relawan juga mendirikan rumah singgah yang dilengkapi pembersih udara, pelayanan kesehatan, obat-obatan, tenaga medis.

Sebagian masyarakat berkunjung ke rumah singgah tersebut. Namun secara umum sebagian besar masyarakat belum bersedia berkunjung. Alasannya karena jauh, merasa tetap nyaman di rumahnya, harus tetap bekerja dan melakukan kegiatan rutin. Ini adalah salah satu ciri khas masyarakat kita yang memiliki keterikatan terhadap tempat tinggalnya (place attachment). Masyarakat enggan untuk dievakuasi ke tempat yang lebih jauh dengan berbagai alasan. Inginnya evakuasi di tempat yang dekat rumah. Tetap berdekatan dengan kerabat dan tetangganya. Sangat sosiologis hal ini. ‎

"Untuk itu penetapan lokasi evakuasi, diupayakan yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Evakuasi ke kota atau daerah lain merupakan pilihan terakhir. Tabung oksigen dan penyaring udara sedang diperbanyak."ujarnya.

Seraya menambahkan, TNI AL mengalokasikan  11 KRI termasuk 1 Kapal RS. KRI Banda Aceh, KRI Teluk Jakarta dan KRI Dr. Suharso sudah berada di Banjarmasin. Pelni juga menyiapkan 2 Kapal yg sewaktu-waktu dpt digerakkan. Penggunaan kapal ini untuk kondisi yang sifatnya ekstrem yaitu dievakuasi ke tempat lain atau ditempatkan di ruang-ruang di kapal.

"Saat ini masih dilakukan pendataan jumlah rumah singgah yang ada. BNPB mengirimkan 450 velbed dan tabung gas untuk mendukung rumah singgah."jelasnya. (Marwan)



-->
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: