Puisi dari Aktivis Lingkungan untuk Tuan Hakim


JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM-  Pernyataan Ketua Hakim Pengadilan Negeri Sumatera Selatan, Parlas Nababan yang menyebut "bakar hutan itu tidak merusak lingkungan hidup, karena masih bisa ditanami lagi." kini jadi trending topik di social media dan whats App.

Argumentasi tersebut disampaikan Parlas saat memutus gugatan kasus pembakaran lahan dan hutan yang diajukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terus menuai kritik dari publik di social media.

Bahkan salah seorang aktivis lingkungan yang juga dosen Universitas Nasional, Jakarta, Dr Fachruddin Mangunjaya membuat puisi khusus untuk Hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang yang tidak mengabulkan gugatan perdata Pemerintah yang diwakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terhadap PT. Bumi Mekar Hijau (BMH).

Majelis hakim yang beranggotakan Parlas Nababan (ketua), Kartidjo (anggota), dan Eli Warti (anggota) membebaskan PT. BMH dari membayar ganti rugi materiil dan pemulihan lingkungan sebesar 7,6 Triliun sesuai gugatan yang diajukan Pemerintah (30/12/2015).

Berikut puisi dibuat Fachruddin Mangunjaya yang berjudul "Tidak Tahukan Engkau Yang Mulia"

TIDAK TAHUKAH ENGKAU YANG MULIA

Tuan Hakim yang mulia.
Tidak tahukah tuan..
Hutan itu dibakar
Ada sejuta isi didalamnya. Beratus juta tahun umurnya..
Hutan alam kita musnah...
Penanam hutan alam bukan pegawai dan petugas kehutanan, bukan pula Pepeng (pejabat dan pengusaha), bukan LSM bukan...
Penanamnya adalah burung burung penyebar biji, kelelewar, tupai, orang utan, angin...tidak untuk dibakar!
Itu adalah rumah mereka. Tempat bersarang...kembali pulang menemukan ketenangan. Menjumpai keceriaan.

Tidak tahukah tuan?
Hutan itu paru paru planet kita ini. Tempat kita semua mendapatkan oksigen termasuk Yang Mulia Tuan Hakim...anak anak..keponakan dan cucu cucu...kita

Tidak tahukah tuan...
Ketika hutan itu terbakar. Asapnya berbulan bulan menimpa manca negara?
Sesak nafas tiada tara
Bahkan banyak anak dan bayi, mati dan jadi korban pula.
Semua bangsa. Beku bicara.
Kerugian tiada tara..

TIdak tahukan tuan?
Bumi kita ini semakin panas saja
195 kepala negara bersepakat mengurangi gas rumah kaca.
Hutan terbakar itu dua puluh lima persen penyebabnya?
Bila tuan tidak adil bijaksana...kemana mau dijunjung martabat bangsa?

Tuanku yang Mulia
Batin hamba menangis...serupa dengan batin burung yang terbang tak kembali menemukan anaknya
Dua juta lahan telah sirna...tak ada lagi kicaunya.

Tidakkah bangsa ini bersyukur memiliki harta. Kekayaan hayati nomor satu di dunia..tapi kemudian musnah tidak berdaya..

Tuanku yang mulia.
Kalau jika engkau tak adil juga...
Kelak tuan ku mati juga. Disana ada penuntut satwa satwa.
Yang kehilangan habitatnya
Ada gajah bergading dua, harimau jawa dan sumatera, macan tutul dan ular kobra. Mereka menuntut keadilan yang ada.

Mudah mudahan tuan baca puisi hamba
Karena telah kering kalam
Menulis ilmiah tak juga dibaca
Mohon maaflah hamba bila tersilap kata

Cibinong, 3 Januari 2015

Dr.Fachruddin Mangunjaya -->
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: