Peluang dan Tantangan Bank Sampah

Oleh : Andy Hendras *

Setiap tahun, tepatnya setiap tgl 21 Februari kita memperingati Hari Peduli Sampah secara nasional. Betapa pentingnya pengelolaan sampah di negeri ini hingga pemerintah perlu menetapkan suatu hari istimewa untuk menangani sampah secara terpadu dengan melibatkan partisipasi semua elemen bangsa.

Seperti yang sudah kita lihat sehari-hari persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan keseriusan semua pihak untuk menanganinya.

Dari sekian banyak strategi dan metode untuk menangani sampah perkotaan yang terus bertambah ini, ada suatu strategi yang cukup cerdas dalam mengatasi sampah.

Ya, bank sampah solusinya. Ide inipun berawal dari keterbatasan pola penanganan sampah selama ini yang berbasis kumpul-angkut-buang yang bermuara ke TPA. Awalan tentu saja tidak berjalan mulus, sikap dingin dan terkesan cuek terhadap ide tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi penggagasnya kala itu di Yogyakarta. Namun, saat ini virus pendirian bank sampah semakin menjalar ke berbagai kota di Indonesia.

Bank sampah merupakan strategi pengelolaan sampah yang mengawinkan prinsip pemberdayaan lingkungan hidup dengan manfaat-manfaat ekonomis praktis. Dimana setiap nasabah bank sampah dapat memperoleh manfaat finansial dari setiap kilogram sampah yang disetor.

Terbukti dari Rapat Koordinasi Bank Sampah III yang berlangsung di Makasar pada September 2015 yang lalu, tercatat sudah berdiri 2.821 bank sampah yang tersebar di 129 kota. Kapasitas kelola sampahnya sudah mencapai 5.551 ton per bulan dengan melibatkan 175 ribu tenaga kerja di dalamnya. Dan yang lebih menggembirakan lagi total omset bank sampah di tahun lalu sudah mencapai angka Rp. 34 Milyar per bulannya.

Meskipun jumlah sampah plastik saja di negeri ini sudah melebihi angka 5,4 juta ton/ tahun (Antaranews, 2014) prestasi bank sampah dalam pengelolaan sampah sudah patut diacungi jempol.

Perlu terus pembenahan dan pengembangan bisnis bagi bank sampah agar tujuan pengurangan sampah plastik dan sampah B3 dapat menjadi fokus kegiatannya. Sebagaimana yang kita ketahui sampah plastik saat ini masih menjadi masalah yang perlu penanganan yang serius khususnya dari pihak produsen untuk terus melakukan inovasi agar produk dan kemasannya dapat didaur ulang.

Meski begitu, ada hal yang patut kita apreasiasi terhadap produsen yang secara sadar mengembangkan produk dan kemasan yang pro lingkungan. Seperti apa yang dilakukan Aqua, merek air mineral terbesar di negeri ini. Pada tahun 2012 yang lalu bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung untuk melakukan riset terhadap recycling rate produknya, hasilnya produk amdk tersebut 90 % bisa didaur ulang.

Hal ini diharapkan dapat menginspirasi produsen lainnya untuk melakukan riset serupa sehingga publik pun tahu berapa persen kemasan bisa didaur ulang. Tentu saja, pemerintah juga perlu mempertajam kebijakan strategis EPR yang dapat memberi insentif ekonomis kepada produsen lainnya.

Peluang seperti ini bisa dimanfaatkan oleh pengelola bank sampah untuk menjalin kerjasama regular dengan pihak produsen. Khususnya sampah plastik, atmosfer bisnisnya cukup baik. Dimana sudah berdiri asosiasi yang khusus bergerak di bidang daur ulang sampah plastik.

Kebutuhan biji plastik dalam negeripun masih terbuka lebar. Pengurus bank sampah perlu menyusun strategi komunikasi yang jitu agar semakin banyak masyarakat yang dengan sadar bergabung menjadi nasabahnya sehingga volume pengelolaan sampah plastik yang bisa ditangani semakin besar.

Selain itu, salah satu contoh sampah B3 yang bisa ditangani oleh bank sampah adalah oli bekas. Kebutuhan pelumas di negeri ini sudah mencapai level 800 juta liter/ tahun. Hal ini didorong dengan semakin banyaknya jumlah produksi kendaraan bermotor roda dua dan roda empat. Limbah pelumas berupa oli bekas jika tidak ditangani bisa menimbulkan pencemaran pada air tanah.

Karena itu, kita perlu apresiasi pada salah satu produsen pelumas swasta terbesar pemegang merek Evalube yang secara serius membangun kilang pemurnian oli bekas untuk dijadikan base oil (bahan dasar pelumas). Pemurnian oli bekas menjadi base oil ini tentu saja berdampak pada penghematan konsumsi minyak mentah dalam negeri. Peluang ini bisa dimanfaatkan oleh pengelola bank sampah untuk menampung oli bekas para nasabahnya.

Dan oli bekas itupun bisa dijual kepada pihak produsen tersebut apalagi jika pihak pengelola bank sampah bisa bekerjasama dengan produsen tersebut secara langsung dengan memanfaatkan program CSR-nya.

Inilah sekelumit tantangan dan peluang bagi bank sampah ke depan dalam mengelola sampah perkotaan. Agar tujuan lingkungan makin bersih yang sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada para nasabahnya. Selamat Hari Peduli Sampah Nasional, semoga Indonesia makin sehat.

*Penulis adalah kontributor Beritalingkungan.com

-->
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: