Greenpeace soroti limbah elektronik produsen ponsel

Tumpukan sampah ponsel bekas yang akan di daur ulang di kota Guiyu, Cina. Sekitar 15.000 ton limbah setiap hari termasuk seperti hard drive, ponsel, layar komputer dan komputer dikirim dari seluruh dunia. Foto : REUTERS/Tyrone Siu
JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM- Greenpeace meliris hasil survei pengguna ponsel di 10 negara termasuk di Indonesia, yang menyoroti perilaku produsen ponsel memperkenalkan terlalu banyak model baru, yang bisa berimplikasi negatif pada lingkungan.

Sebanyak 58% responden di Indonesia mengatakan bahwa produsen ponsel harus bertanggungjawab menyediakan sarana untuk mendaur ulang ponsel mereka, sementara 97% responden berpendapat bahwa ponsel pintar baru harus mudah diperbaiki bila rusak.

“Ponsel pintar memberikan tekanan yang begitu besar bagi lingkungan kita mulai dari saat mereka diproduksi – seringkali menggunakan bahan kimia berbahaya -  hingga mereka dibuang di tempat-tempat pembuangan limbah elektronik,” kata Ahmad Ashov Birry, Juru Kampanye Detox  Greenpeace melalui keterangan tertulisnya.

“Sebanyak 77% responden di Indonesia setuju bahwa produsen memperkenalkan terlalu banyak model ponsel baru, banyak diantaranya didesain untuk bertahan hanya dalam beberapa tahun saja. Faktanya, menurut hasil survei, hampir semua pengguna berpendapat bahwa ponsel pintar baru perlu didesain untuk bertahan lama, mudah diperbaiki dan terbuat dari bagian-bagian yang dapat didaur ulang sepenuhnya.” tuturnya.

Diungkapkan, ponsel adalah produk elektronik ukuran kecil yang paling sering diganti. Sebuah laporan dari United Nations University pada tahun 2014 menunjukkan bahwa sebesar 3 juta metrik ton dari limbah elektronik merupakan barang elektronik ukuran kecil seperti ponsel pintar dan komputer personal.

Hal tersebut merepresentasikan sumber daya besar yang terbuang percuma dan sumber kontaminasi bahan kimia berbahaya.

Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa pada tahun 2014 jumlah limbah elektronik di Indonesia diperkirakan mencapai 745 ribu ton dan diperkirakan bahwa setiap warga Indonesia menghasilkan 3 kg limbah elektronik.

Beberapa temuan kunci dari survei di Indonesia:

·  Alasan utama responden untuk berganti ponsel adalah keinginan untuk mendapatkan gawai terbaru atau karena gawai sebelumnya tidak memberikan fungsi yang diharapkan.

·  Sementara sebanyak 61% responden membeli gawai baru untuk menggantikan gawai lama yang masih berfungsi, sebanyak 66% responden mengatakan bahwa mereka bisa lebih jarang berganti gawai.

·   Sebanyak 98% responden mengatakan bahwa penting bagi ponsel pintar model baru didesain untuk bertahan lama.

·   Sebanyak 96% responden mengatakan bahwa penting bagi ponsel pintar model baru tidak dibuat menggunakan bahan kimia berbahaya

·   Sebanyak 93% responden mengatakan bahwa penting bagi ponsel pintar model baru mempunyai bagian-bagian yang dapat ditingkatkan tanpa harus membeli model baru.

Greenpeace menyarankan agar pihak produsen ponsel tak hanya  inovatif dan juga ramah terhadap lingkungan saat memproduksi ponsel.

“Kami yakin bahwa inovasi sesungguhnya adalah pada saat gawai didesain untuk bertahan lama, mudah diperbaiki dan dapat didaur ulang. Ini adalah saatnya bagi para pemimpin teknologi untuk memikirkan bagaimana mereka bisa membuat produk elektronik yang tidak hanya inovatif, tapi juga ramah terhadap  planet tempat kita tinggal” tambahnya.

Menurut Asop, jika merek-merek teknologi ingin membawa konsumen ke masa depan, mereka harus bergerak ke arah produksi dengan daur tertutup (closed-loop) dan ekonomi melingkar (circular economy); yang dapat mendatangkan manfaat bagi keuntungan mereka, bagi masyarakat dan bagi bumi.

"Greenpeace melakukan survei tersebut sebagai bagian dari kampanye True Innovation, yang menantang sektor teknologi agar melakukan inovasi untuk melindungi lingkungan dan masa depan kita,"tandasnya (BL)
-->
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: