Gempa M 7 di Malut Tak Berakibat Tsunami, Ini Penjelasan BMKG - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad

Gempa M 7 di Malut Tak Berakibat Tsunami, Ini Penjelasan BMKG

Gempa M 7 di Malut Tak Berakibat Tsunami, Ini Penjelasan BMKG

Share This
Lanskap Danau Laguna, Pulau Maitara, dan Tidore dari Ternate (Foto: Shutter Stock)

TERNATE, BERITALINGKUNGAN.COM- Gempa bermagnitudo 7 mengguncang laut di sebelah barat Ternate, Maluku Utara. Syukurlah, gempa ini tidak menimbulkan tsunami. Bagaimana bisa gempa sebesar itu tak mengakibatkan tsunami?

Ternyata tsunami tak terjadi atau setidaknya gelombang dengan ukuran yang membahayakan tak teramati. Warga kepulauan sekitar pusat gempa aman dari ancaman gelombang berbahaya itu.

"Semalam, kami bersama camat dan kepala desa menyusuri sepanjang pantai. Tak ada kerusakan," kata Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Barat Zainal Tomagola kepada wartawan, Senin (8/7).

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ternate Mansur P Mahli juga melaporkan tak ada kerusakan akibat gempa itu. Memang warga di Halmahera Barat dan Ternate sempat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi setelah adanya peringatan tsunami, namun mereka telah kembali. Situasi di Bitung, Sulawesi Utara juga kondusif.

"Tidak ada tsunami," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono kepada wartawan, Senin (8/7).

BMKG menyatakan kedalaman pusat gempa berada pada kedalaman 49 km. Kabid Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menjelaskan, gempa dikategorikan dangkal bila pusatnya berada pada kedalaman 1-60 km. Gempa menengah berada pada kedalaman 60-300 km. Gempa dikategorikan dalam bila pusatnya berada pada kedalaman 300-600 km.

"Gempa di Ternate kemarin termasuk 'dalam' untuk kelas gempa dangkal," kata Daryono ketika dihubungi secara terpisah.

Inilah sebab kenapa gempa berkekuatan 7 malam tadi tidak menimbulkan tsunami. Pusat gempa tersebut terlalu dalam untuk mengakibatkan tsunami.

"Kalau relatif dalam, maka tidak bisa merobek dasar laut. Namun, bila kedalamannya 10 km, itu bisa menyebabkan deformasi yang memicu (bergeraknya) kolom air," kata Daryono.

Deformasi adalah perubahan bentuk atau wujud dari lempeng bumi. Deformasi lempeng bumi di dasar lautan dapat memicu bergeraknya kolom air dan menjadi tsunami, namun dengan catatan kedalaman pusat gempa cukup dangkal. Kekuatan gempa juga berpengaruh.

"Magnitudo gempa tadi malam memang cukup besar, tapi kedalaman gempanya 49 km, cukup dalam. Jadi karena dalam maka tidak membuat deformasi dasar laut yang memicu tsunami," kata Rahmat Triyono (DC/BL)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad