Pemodelan Data Satelit Saat Covid-19, Bumi Lebih Bersih - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad



JAKARTA, BERITALINGKUNGAN.COM - Pasca-merebaknya Covid-19 di Wuhan, akhir Desember 2019, memaksa pemerintah Cina mengambil tindakan tegas. Cina menghentikan kegiatan sehari-hari, menutup pabrik dan pembangkit listrik hingga menghentikan operasional kendaraan umum.

Hal itu menyebabkan perubahan kualitas udara seiring pengurangan emisi nitrogen dioksida (NO2) di udara, seperti dipantau oleh Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) melalui Satelit Sentinel-5 yang didukung ESA (European Space Agency). Data menunjukkan perubahan kualitas udara pada bulan Desember 2019 hingga saat ini.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional - LAPAN sengaja menggunakan data dari CAMS ESA, karena tersedia secara global dan datanya beragam.

"Data CAMS mudah diakses juga", ujar Dr. M. Rokhis Khomarudin, Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN.


Perubahan kualitas udara dideteksi melalui Satelit Sentinel-5 di atas  wilayah China Bulan Desember 2019 dan Maret 2020 (sumber : ESA)

Data CAMS memperlihatkan terjadinya perubahan kualitas udara di Cina pada bulan Desember 2019 yang  sempat tinggi, berangsur-angsur menurun pada bulan Januari 2020, dan puncaknya pada Februari 2020. Kemudian setelah pandemi Covid-19 mereda, pada Maret 2020 terlihat peningkatan partikel-partikel halus di udara.

Rokhis Khomarudin menilai hal itu akibat mengeliatnya kembali kegiatan industri di Cina. Ketika selama ini diam, mereka mulai menggenjot lagi produksinya. "Masih dugaan saja,  tapi besar kemungkinan aktivitas manusia menjadi penyebab, lagi-lagi perlu penelitian lebih lanjut", ujarnya.

Setelah Cina, wabah Covid-19 juga menjangkiti benua Eropa. Apa yang terjadi di Cina juga terjadi di langit Eropa, terkait perubahan kualitas udara yang dipantau ESA melalui pemodelan dari data satelit.

ESA menggabungkan pengamatan satelit dengan permodelan komputer atmosfer yang terperinci. ESA menemukan adanya perubahan konsentrasi partikulat NO2 di udara pada bulan Maret 2019 dibanding bulan Maret 2020.

Sebagaimana disampaikan melalui https://www.eea.europa.eu/highlights/air-pollution-goes-down-as, baik di Spanyol, Perancis dan Itali pada bulan Maret 2020 terlihat penurunan konsentrasi partikulat di udara, dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2019.

Bagi Rokhis Khomarudin, hal itu akibat kebijakan penguncian wilayah (lockdown) sehingga lalu lintas menurun dratis. "Kita menduganya seperti itu", katanya.

Melalui pemodelan data satelit yang dikeluarkan oleh CAMS, LAPAN juga mengamati terjadinya penurunan partikel halus polutan udara di atas wilayah Indonesia bagian barat, disaat merebaknya wabah Covid-19.

"Kami melihatnya dari penampakan data satelit, dan tetap diperlukan analisa lebih mendalam. Skala yang terlihat juga merupakan skala global dan belum detail", ungkap Rokhis.

Secara umum LAPAN menemukan penurunan partikulat (PM10) pada Maret 2020 dibandingkan bulan yang sama di tahun sebelumnya. Diduga hal itu akibat oleh menurunnya aktifitas manusia, industri dan transportasi, yang tidak saja di wilayah Indonesia tetapi juga di negara-negara tetangga.

"Kesimpulan itu kita dasarkan atas informasi pada hasil ekstraksi data Sentinel tersebut, tetapi kita masih perlu teliti lebih lanjut", pinta Rokhis

Sehingga, menurut Rokhis, jika dilihat lebih rinci di Jambi, yang di tahun sebelumnya akibat kebakaran hutan, ditemukan partikulatnya lebih dari 300 µg/m3. Saat ini, berdasarkan data  CAMS turun menjadi 20 µg/m3.

"Hal yang sama juga terjadi di Jawa", kata Rokhis

Kendati demikian, Rokhis mengingatkan jika dugaan menurunnya aktifitas manusia, industri dan transportasi di wilayah Indonesia bagian barat perlu pembuktian lebih rinci.

"Ini masih merupakan dugaan awal, tetapi kita perlu pembuktian lebih detail", ujarnya,

Khusus untuk perwajahan Indonesia timur, Rokhis menyebut kualitas udara secara umum masih sangat baik. Semua terlihat jernih. Dan untuk informasi selengkapnya, silahkan klik link berikut: https://www.ventusky.com/?p=-5.0;123.2;5&l=pm25.

Sementara itu, terkait kemungkinan data satelit yang satu berbeda dengan satelit yang lain, menurut Rokhis sangat mungkin terjadi, khususnya terkait indeks udara bersih. Hanya saja, secara umum semua satelit  mencatat terjadinya penurunan drastis jumlah polutan akibat Covid-19.

"Seperti yang saya sebutkan tadi, penampakan satelit menunjukkan hal itu, tapi masih perlu analisa lebih detail", pintanya.

Sejauh ini, data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) merupakan salah satu dari 6 layanan yang membentuk Copernicus, program pengamatan lingkungan Bumi oleh Uni Eropa demi kepentingan warga Eropa. Data ini banyak digunakan oleh lembaga-lembaga di dunia yang melakukan pemantauan kualitas udara.

"Copernicus juga menawarkan layanan informasi berdasarkan pengamatan satelit Bumi, data dan pemodelan in situ (non-satelit)", ujar Rokhis.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, Bumi seakan sedang membersihkan dirinya dari aneka polutan yang kerap menyekapnya. Menurut Rokhis Khomarudin, ketika aktifitas manusia berkaitan langsung dengan lingkungan, maka secara tidak langsung, aktivitas tersebut, kini berkurang sangat signifikan dari sebelumnya.

"Dari sisi lingkungan, ini menjadi pembelajaran berharga. Tetapi dari sisi korban, kita tentu tak ingin ada korban manusia yang dikaitkan dengan pembersihan Bumi ini", pungkasnya. (Jekson Simanjuntak)
-->

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad