Lingkungan Hidup Menuju Hipernormal - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad

Lingkungan Hidup Menuju Hipernormal

Lingkungan Hidup Menuju Hipernormal

Share This

Oleh : IGG Maha Adi
*

Ada amsal lama dari Protagoras yang mengatakan selalu ada  dua sisi dalam setiap pertanyaan (peristiwa) dan kebenarannya ada di antara itu. Ketika dunia melambat karena pandemi global Covid-19, emisi gas-gas rumah kaca menurun karena pembatasan sosial dan penutupan wilayah di berbagai negara. 

Analisis dalam situs berita Nature.com  awal 2021 menyimpulkan, terjadi penurunan emisi ini 6 persen  atau 2,3 miliar ton selama 2020 dibandingkan tahun sebelumnya. Polusi suara juga menurun karena lalu lintas manusia dan transportasi berkurang drastis, tetapi limbah rumah tangga dan medis diperkirakan meningkat tajam.  

Sekitar 122 ribu hektare hutan Indonesia kemungkinan akan selamat dari penebangan, bila pembatasan berlanjut sampai akhir tahun. Di beberapa kota dunia, hidupan liar bermunculan ketika manusia menarik diri. 

Harga minyak bumi jatuh dan konsumsi  dunia turun 9,3 juta barel/hari yang menjadi kabar baik untuk  atmosfer Bumi. Tesla Model 3 yang ramah lingkungan menjadi mobil terlaris bulan April 2020 di Inggris, dan satu-satunya perusahaan mobil yang penjualannya tumbuh positif (10%) pada bulan yang sama di Jerman.  Anomali Tesla ini bisa saja berpangkal pada kesadaran ekologis atau soal pengiriman inden belaka. 

Pertumbuhan Ekonomi

Semua pembatasan selama pandemi ini bersifat sementara karena kita akan segera memasuki era normalitas  baru (new normal), yang digambarkan terdiri atas perilaku-perilaku baru yang  dilembagakan agar menjadi kebiasaan. 

Normalitas ini mungkin datang lebih cepat dari perkiraan karena alasan pemulihan ekonomi. Bank Dunia, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 hanya 4,4 persen. Pemerintah harus bersiap mengakselerasi sektor bisnis untuk mengejar pertumbuhan.  

Ekonomi yang tumbuh artinya ada investasi yang memberi pekerjaan dan pendapatan, dan selanjutnya akan mendorong belanja. Ekonomi yang tumbuh juga identik dengan  kenaikan emisi. Saat krisis keuangan global tahun 2009 emisi karbon dioksida turun satu persen, namun tahun berikutnya naik lima persen ketika pemerintah di seluruh dunia meluncurkan stimulus ekonomi.

Dalam situasi pembatasan dan penutupan selama Pandemi Covid-19,  laju perekonomian melambat karena banyak perusahaan yang memberhentikan karyawan atau berhenti beroperasi. Industri hulu dan hilir keduanya turut mengalami kesulitan dan sektor jasa seperti pariwisata dan travel, transportasi, hiburan, pendidikan, begitu juga sektor retail terimbas paling besar.  

Akselerasi pemulihan ekonomi akan menjadi prioritas utama pemerintah, jika tidak ingin keresahan sosial membesar sehingga sebuah protes damai berskala lokal dapat berubah menjadi kerusuhan sosial berskala nasional seperti di Amerika Serikat.

Green Tape 

Bila industri berhasil digulirkan dalam skala luas, maka  ekonomi nasional tumbuh.   Dua cara agar mesin industri berputar kembali, yaitu memproses lebih banyak lagi bahan baku dan energi dengan konsekuensi meningkatkan jejak ekologis baik pada sisi uptake (serapan) dan effluent (limbah), atau cara kedua meningkatkan efisiensi dalam pemakaian bahan baku dan energi pada tingkat yang konstan.  

Ketika bahan mentah tersedia cukup seperti di Indonesia, maka para pengusaha akan memilih yang pertama.  Untuk mengurangi hambatan eksploitasi, biasanya kebijakan lingkungan menjadi korban pertama di dalam pemulihan ekonomi.  

Barry Bozeman (1993) menyebut fenomena ini cutting green tape yaitu keputusan untuk merelaksasi atau menghapuskan regulasi lingkungan yang dipersepsikan over-regulated sehingga menghambat laju perekonomian. 

Fenomena cutting green tape biasanya  didahului atau simultan dengan cutting red tape atau debirokratisasi.  Pemerintah Indonesia, misalnya, merelaksasi kewajiban melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) untuk mempercepat pembangunan industri. 

Kebijakan yang juga ditentang para aktivis lingkungan adalah keputusan menteri perdagangan menghapuskan syarat sertifikat Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) pada bulan Maret,   Undang-Undang Mineral dan Batubara yang disahkan Mei lalu, dan  RUU Cipta Kerja  sebagai beleid lintas sektor (omnibus law) yang tetap dibahas oleh DPR RI selama pandemi.   

Anggaran negara akan condong dialihkan dari sektor “non-essential” seperti lingkungan hidup ke sektor yang mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi secepat mungkin.  

Pemerintah mulai dengan kucuran dana besar kepada perbankan untuk mendanai proyek-proyek  infrastruktur yang banyak menyerap modal dan tenaga kerja. Sektor ini akan ikut menggerakkan industri beremisi tinggi seperti industri baja dan semen.  Di dalam situasi ekonomi yang terancam kolaps itu, isu lingkungan tidak akan efektif untuk seluruh spektrum politik.

Hipernormal

Tanda pertama dari situasi hipernomal terlihat dalam peningkatan konsumsi energi global sampai semester pertama 2021, yang notabene didominasi energi fosil. Menurut perkiraan International Energy Agency (IEA) sebuah lembaga kajian energi global  yang berbasis di Paris, permintaan energi fosil dunia akan naik 4,6% atau 0,5% lebih tinggi dibandingkan 2019. 

Tambahan ini akan berimplikasi langsung pada prediksi kenaikan emisi sebesar 1,5 Gigaton ke atmosfer Bumi. Semua proyeksi ini mengasumsikan sektor transportasi global belum sepenuhnya pulih ke situasi sebelum pandemi. Jika situasi normal tercapai, volume emisinya akan meningkat.

Kimiawan penerima Nobel Frederick Soddy  menulis Wealth, Virtual Wealth, and Debt (1933)  untuk menerangkan bahwa pertumbuhan dari sisi effluent dibatasi oleh kemampuan lingkungan di sekitarnya untuk memproses limbah yang berentropi tinggi. Bila batas ini terlampaui, maka terjadi proses produksi yang kita definisikan “tidak berkelanjutan.” Pendapatnya bertentangan dengan keyakinan populer saat itu, bahwa pertumbuhan  tidak kenal batas. Ternyata kita mengabaikan Soddy dengan terus mendorong batas daya dukung lingkungan selama situasi old normal (normalitas lama) sehingga banyak terjadi overshoot.  

Seluruh situasi dan kecenderungan yang ada mengarahkan lingkungan melompati new normal dan langsung memasuki  fase hipernormal, yaitu situasi dimana seluruh krisis lingkungan di masa normal terbawa berlanjut dan terjadi dalam ukuran lebih masif.***

*Penulis adalah editor Beritalingkungan.com

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad