Embung Grigak, Akses Air Bagi Pertanian dan Masyarakat Gunungkidul - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad

Embung Grigak, Akses Air Bagi Pertanian dan Masyarakat Gunungkidul

Embung Grigak, Akses Air Bagi Pertanian dan Masyarakat Gunungkidul

Share This

 


GUNUNGKIDUL, BERITALINGKUNGAN.COM -- Program Air Untuk  Masyarakat (Community Water Program) sebagai upaya mempertahankan kelestarian air dan lingkungan telah berhasil membantu masyarakat mengatasi persoalan kekeringan. Community Water Program yang dijalankan di berbagai wilayah di Indonesia itu, juga berhasil mengembalikan keberadaan air tanah yang dibutuhkan oleh masyarakat.

 

Salah satu contoh Community Water Program adalah memanfaatkan embung tadah hujan untuk daerah kering di Indonesia. Hingga tahun 2021, sebanyak tujuh embung tadah hujan telah dibangun di beberapa tempat.

 

Inisiatif itu sejalan dengan program strategis pengembangan embung dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai infrastruktur penting dalam memenuhi kebutuhan air di sektor pertanian. 

 

Untuk itu, Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bersama Yayasan Obor Tani (YOT) menginisiasi pembangunan Embung Grigak, sebuah embung tadah hujan dengan lapisan geo-membran untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan Pantai Grigak. Embung tadah hujan seluas 1 hektare itu mulai dibangun pada Maret 2020 dan diresmikan pada bulan Mei lalu.

 

Embung Grigak yang terletak di Dukuh Karang, Kelurahan Girikato, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah tandus dengan kondisi tanah berupa perbukitan kapur. Untuk mendapatkan akses air, para petani biasanya menunggu musim hujan yang menyebabkan mereka kesulitan untuk bercocok tanam sepanjang tahun.

 

Director of Public Affairs, Communications and Sustainability of PT Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo menjelaskan, “Water stewardship dan pengelolaan air (water management) yang bertanggung jawab telah menjadi prioritas Coca-Cola sejak lama dan kami selalu berupaya untuk memberikan dampak positif yang lebih besar bagi masyarakat dan ekosistem lingkungan di masa depan." 

 

Selama bertahun-tahun, Coca-Cola telah menjalankan berbagai Community Water Program guna membantu meningkatkan akses terhadap air bersih, sanitasi dan air untuk pertanian bagi masyarakat. "Kami berharap dapat terus mengembangkan kerja sama ini dengan para mitra kami,” kata Triyono yang juga Ketua Pelaksana CCFI.

 

Embung Grigak terletak 30-40 meter dari bibir laut dan menghadap ke arah pantai. Pemandangan Embung Grigak yang sangat memukau menjadi peluang baru bagi daerah tersebut sebagai lokasi tujuan wisata. Harapannya, kegiatan tersebut akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi desa.

 

“Jika nantinya berdampak pada tumbuhnya pariwisata di dekat lokasi, tentunya menjadi nilai plus bagi para penduduk sekitar dalam meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan mereka, dan kami turut senang telah ikut berperan,” paparnya.

 

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani, Pratomo mengungkapkan, meskipun lapisan tanah bagian atasnya terlihat sangat kering, secara geografis Pantai Grigak merupakan kawasan yang subur dan kaya akan mineral esensial yang diperlukan oleh tanaman. 

 

"Dengan tanah karst atau tanah kapur yang memiliki tingkat keasaman (pH di atas 6), lahan di wilayah ini sangat bagus dimanfaatkan untuk tanaman,” terangnya.

 

Sementara itu, tokoh pendamping masyarakat Romo P. Wiryono Priyotamtama mengatakan,  berdasarkan hasil tes tanah, ditemukan bahwa tanah di kawasan Pantai Grigak cocok dimanfaatkan untuk penanaman tiga jenis tanaman buah, yaitu alpukat, kelengkeng dan mangga. Namun komoditas ini baru bisa berhasil tumbuh jika tersedia cukup air. 

 

Romo P. Wiryono menambahkan, "Hadirnya embung tadah hujan ini diharapkan bisa membantu pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian agar para petani dapat hidup dari tanahnya."

 

Sejak awal, tujuan pengadaan Embung Grigak adalah untuk mengairi lahan pertanian di musim kemarau, sekaligus sebagai wadah budidaya ikan. Potensi lainnya dari adanya embung tadah hujan, juga untuk menarik wisatawan. 

 

"Ketiga sumber pendapatan potensial itu dipercayakan pengelolaannya kepada perkumpulan Eco-Camp Mangun Karsa milik masyarakat yang kebanyakan petani," tandasnya. (Jekson Simanjuntak)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad