Bambu, Melentur Buluh Krisis Iklim Berlalu - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad

Bambu, Melentur Buluh Krisis Iklim Berlalu

Bambu, Melentur Buluh Krisis Iklim Berlalu

Share This

 oleh Jekson Simanjuntak


GIANYAR, BERITALINGKUNGAN.COM -- Direktur Eksekutif Yayasan Bambu Lestari Monica Tanuhandaru mengatakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

 

"Kita tahu bersama daerah itu mempunyai intensitas hujan yang rendah, sehingga harus dipikirkan jalan keluarnya," kata Monica saat menjadi pembicara terkait masa depan hutan di Pekan Diplomasi Iklim, Selasa, (12/10).

 

Menurutnya, dampak perubahan iklim di NTT begitu nyata. Apa yang dirasakan saat ini merupakan bukti dari meningkatnya frekuensi bencana alam terkait iklim seperti: banjir, kekeringan, badai, tanah longsor, gelombang pasang hingga kebakaran hutan dan lahan.

 

Monica TanuhandaruDirektur Eksekutif Yayasan Bambu Lestari. (sumber: Jekson Simanjuntak)

Pola-pola kearifan lokal untuk mengatasi dampak dari krisis iklim perlu dikembangkan. Hal itu merupakan pola adaptasi dan mitigasi yang dikembangkan secara turun-temurun, khususnya untuk mengatasi kekeringan, konservasi daerah tangkapan air dan pemenuhan kebutuhan air baku.

 

Salah satu upaya yang bertahan hingga sekarang adalah menanam bambu. Menurut Monica, dari sisi lingkungan, bambu terbukti efektif untuk mengembalikan lahan yang terdegradasi dan menyerap/ menghemat air. 

 

"Satu rumpun bisa menyerap 5.000 liter air saat musim hujan. Ini angka yang besar," katanya.

 

Bambu juga dikenal sebagai penyerapan karbon terbaik. Dalam satu hektar kawasan bambu bisa menyerap 50 ton CO2 per tahun. "Satu Kampung Bambu mampu menyerap 100 kiloton CO2 per tahun," terangnya.

 

Penggunaan bambu juga popuer sebagai bahan bangunan yang ramah lingkungan dan membantu menghindari emisi CO2. Satu meter kubik produk bambu rekayasa ternyata menyimpan 1,6 ton CO2 selama masa pakainya. 

 

"Karbon hanya disimpan dalam suatu produk sementara, oleh karena itu bambu yang dipanen harus dibuat menjadi produk yang lebih tahan lama," katanya.

 

Tak hanya itu, bambu juga mampu menstabilkan tanah, sehingga berfungsi sebagai pencegah longsor. Peranan ini menjadi penting mengingat bencana hidrometeorologi semakin sering terjadi di NTT.

 

Perempuan berperan penting dalam mencegah perubahan iklim. (sumber: Yayasan Bambu Lestari)

Peran Perempuan

Pada kesempatan itu, Monica Tanuhandaru menjelaskan tentang hadirnya 20 Desa Bambu di NTT. Secara perlahan mereka berhasil mengedukasi warga untuk menanam bambu sebagai solusi untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Ketika menyaksikan hasilnya, Monica dan teman-temannya terkejut, karena untuk mewujudkan hal itu dibutuhkan komitmen dan dana yang besar.

 

Di tahap awal, mereka membagikan 2,8 juta bibit bambu di 7 kabupaten di NTT dan 20 desa. "Dibutuhkan dana kurang lebih Rp9 miliar untuk memperluas pembibitan keluarga yang digerakkan oleh para wanita," terangnya.

 

Sebelum pandemi Covid-19 merebak, warga menikmati penghasilan dari sektor pariwisata. Kondisi itu berubah drastis saat ini. Kehadiran virus menjadikan warga sebagai korban dan secara tiba-tiba banyak yang jatuh miskin karena kehilangan pekerjaan.

 

"Beruntung kegiatan pembibitan bambu yang kami tawarkan menjadi solusi sekaligus memberi dampak terhadap jumlah bibit yang ditanam," ujarnya.

Produk polybag berbahan bambu menggantikan polybag plastik. (sumber: Yayasan Bambu Lestari)

Hal itu tak bisa dilepaskan dari peran para perempuan yang merupakan champion lokal di desa masing-masing. Menurut Monica, peranan para ibu dalam pemanfaatan bambu telah meningkatkan pendapatan keluarga hingga empat kali lipat.

 

"Memberdayakan perempuan merupakan bentuk inklusivitas gender dan terbukti mampu memanfaatkan sistem yang ada," paparnya. Termasuk mengaktifkan unit keluarga dan memanfaatkan sejumlah bakat dan sumber daya yang tersembunyi.

 

Saat melibatkan 210 perempuan dan menempatkan mereka sebagai peran kunci dalam sistem manajemen, maka target yang diinginkan dapat terwujud.

 

"Berdasarkan pengalaman bekerja dengan laki-laki dalam 5 tahun terakhir dibandingkan perempuan dalam 2 tahun terakhir, ternyata perempuan sangat efektif dalam mengembangkan pembibitan bambu," kata Monica.

 

Ia menambahkan, "Pelajaran berharga yang kami dapatkan, bekerjasama dengan perempuan di NTT diluar ekspektasi."

 

Contoh lainnya, ketika kelompok penenun di Desa Nginamanu, Kab. Ngada mampu memproduksi polybag berbahan bambu, sebagai pengganti polybag berbahan plastik.

 

"Setiap bulannya, perempuan disana mampu menghasilkan polybag berbahan serat alam sebanyak 1.000 - 3.000 dengan target total 5.000 hingga Desember 2021," katanya.

 

Arief Rabik bersama petani bambu. (sumber: Yayasan Bambu Lestari)

Lanskap, Mitigator Perubahan Iklim

Penasihat Senior Yayasan Bambu Lestari Arief Rabik mengatakan, secara global ditemukan 40 miliar ton karbon dioksida dilepas ke atmosfer setiap tahunnya. Hal itu salah satunya akibat deforestasi. 

 

Oleh karena itu, Arief mengingatkan bahwa kawasan hutan sangat penting bagi manusia sebagai fondasi sistem pendukung kehidupan. "Kita perlu memahami bahwa tanpa tanah yang subur, tanpa sistem air yang baik, tanpa udara yang sehat, kita tidak dapat bertahan dan berkembang di planet ini," terangnya.

 

Melalui Yayasan Bambu Lestari, Aref berusaha menghentikan hutan-hutan yang tersisa dari kepunahan, termasuk memulihkan lahan-lahan terdegradasi yang dahulunya adalah hutan.

 

"Kami ingin menciptakan apa yang disebut Restorasi Ekonomi, di mana orang-orang, terutama komunitas petani dapat secara aktif memulihkan lahan terdegradasi dan membuat ekonomi yang sangat baik bagi diri mereka, keluarga mereka, dan komunitasnya," paparnya.

 

Atas kesadaran itu, program 1000 Desa Bambu mereka luncurkan. Melalui koperasi yang dibentuk oleh para petani, Arief berharap bambu mendapatkan nilai tambah di tingkat desa sembari menciptakan hutan yang terintegrasi dengan sistem produksi.

 

"Ini adalah sistem holistik di mana kami mengambil lahan terdegradasi, kami memperkenalkan spesies asli dan menyisihkan area untuk tanaman pangan dan tanaman komersial dalam realitas agroforestri yang lebih besar," katanya.

 

Salah satu manfaat utama dari sistem wanatani (agroforestri), menurut Arief adalah menciptakan sistem hidrologi dari akar pendek, sedang dan dalam sebagai spons yang mampu menahan air di dalam tanah. "Sistem ini akan membantu hutan berkembang lebih baik," katanya.

 

Pengolahan bambu berbasis masyarakat mencegah dampak perubahan iklim. (sumber: Yayasan Bambu Lestari)

Berbasis Masyarakat

Dari sisi ekonomi, tanaman bambu dapat dibudidayakan dan dipanen secara berkelanjutan tanpa mengurangi peran ekologisnya. "Bambu juga bisa dibudidayakan bersama tanaman komersial dan tanaman pangan lainnya," terang Monica.

 

Saat ini, berbagai pemanfaatan bambu telah dilakukan secara masif. Sedikitnya, lebih dari 1.500 penggunaan komersial bambu telah diidentifikasi.

 

Oleh sebab itu, seiring dengan pemanfaatan bambu, telah terjadi peningkatan permintaan pasar global yang diperkirakan bernilai lebih dari USD 100 miliar. "Ini angka yang sangat besar," tegasnya.

 

Bersama Yayasan Bambu Lestari, Monica mengembangkan sistem wanatani. Caranya dengan melibatkan satu desa yang memiliki 210 rumah tangga dengan lahan minimal 200 hektar hutan bambu. 

 

Untuk mengembangkan konsep tersebut, saat ini sudah terbangun 7 koperasi dan 1 unit bengkel desa. "Bengkel berfungsi sebagai tempat untuk menghasilkan produk, dengan sistem kepemilikan bersama," ungkapnya. 

 

Melalui agroforestri, Monica memperkenalkan "sekolah lapangan" yakni mengajarkan masyarakat tentang pembibitan, pemindahahan bibit dan sistem budidaya bambu berkelanjutan.

 

Penduduk desa juga diajarkan Cocoon Nursery (pembibitan sistem kepompong), dimana bibit bambu dibesarkan hingga berumur 1 tahun. Setelah itu, bibit dipindahkan ke lokasi yang diinginkan.

 

Produk bambu berbentuk strip dan pellet yang dihasilkan masyarakat. (sumber: Yayasan Bambu Lestari)

Jika dihitung-hitung, Monica memperkirakan kegiatan desa bambu yang mereka prakarsai telah berhasil menjaga ketersediaan 35 juta liter air.

 

Saat berporduksi, warga mampu menghasilkan sebanyak 21 ton potongan (strip) bambu sebagai produk utama. Potongan tersebut merupakan bahan baku papan bambu atau multipleks berbahan bambu.

 

"lni adalah alternatif kayu yang berkelanjutan dan dapat memasok industri perkayuan dalam pembuatan furnitur, struktur, dan bangunan bertingkat," ujarnya

 

Lebih jauh Monica mengatakan, inti dari pendekatan wanatani ada dua hal, yakni: sistem budidaya/panen berkelanjutan HBL (Hutan Bambu Lestari) dan kegiatan pasca panen yang dikelola secara swadaya.

 

Kedua elemen tersebut memainkan peran penting untuk memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi kepada penduduk desa. "Contohnya saat panen, bambu hanya boleh ditebang setelah berumur 7 tahun dengan rumpun mencapai 30 batang," katanya.

 

Pola seperti itu bukanlah temuan baru, namun bagian dari kearifan lokal yang masih dipertahankan. Termasuk ketika memilih agar bambu diproses menjadi produk yang tahan lama, baik dalam bentuk strip maupun bambu laminasi. "Ini kaitannya untuk menyimpan karbon lebih lama," tegas Monica.

 

Selanjutnya, limbah yang dihasilkan dari proses tersebut akan dijadikan pelet. Pelet adalah produk sampingan yang menjadi sumber bioenergi untuk listrik dan bahan bakar untuk memasak.

 

"Ini bisa menjadi energi masa depan, alternatif energi ramah lingkungan," katanya.

 

Aneka jenis produk berasal tanaman bambu. (sumber: Yayasan Bambu Lestari)

Bagian Dari Budaya 

Dari sisi budaya, bambu telah terdokumentasi dengan baik di banyak tempat di Indonesia sebagai bagian dari sejarah. Salah satunya, relief di Borobudur yang menunjukkan bahwa bambu merupakan bagian integral dari peradaban sejak berabad-abad lalu.

 

Bambu juga merupakan elemen penting dalam ritual, cerita rakyat, karya seni, arsitektur,  hingga tradisi kuliner. "Bambu menjadi bagian dari kearifan lokal dan identitas budaya kita yang berharga," kata Monica.

 

Sebagai budaya, bambu telah digunakan untuk menghasilkan lebih banyak produk dibandingkan kayu, terutama melalui praktik pengelolaan berkelanjutan yang meningkatkan hasil tahunannya. 

 

"Berkat praktik semacam itu, dimungkinkan untuk menghasilkan produk bambu yang tahan lama," terang Monica.

 

Karena perannya yang sangat berharga, para ahli menyebut bambu sebagai materi yang ramah lingkungan. "Secara keseluruhan, bambu memiliki emisi CO2 negatif selama siklus hidupnya dalam material bambu padat," ucapnya.

 

Tak heran jika bambu digunakan sebagai bahan bangunan tahan gempa, material yang  bisa digunakan kembali serta mudah diganti. "Untuk satu Rumah Bambu Lestari misalnya, bambu mampu menyimpan 12,4 ton CO2," tandasnya.

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad