Konvensi Minamata Serukan Penghapusan Tambalan Gigi Berbahan Merkuri - Beritalingkungan.com | Situs Berita Lingkungan | The First Environmental Website in Indonesia

Post Top Ad

Konvensi Minamata Serukan Penghapusan Tambalan Gigi Berbahan Merkuri

Konvensi Minamata Serukan Penghapusan Tambalan Gigi Berbahan Merkuri

Share This

JENEWA, BERITALINGKUNGAN.COM -  Aliansi Dunia untuk Kedokteran Gigi Bebas Merkuri menyambut baik momentum penghentian penggunaan amalgam gigi. Agenda itu menguat pada Konferensi keempat Para Pihak pada Konvensi Minamata tentang Merkuri (COP4) yang diadakan secara online 1-5 November 2021.

 

Konvensi Minamata mewajibkan Para Pihak untuk mengurangi penggunaan amalgam gigi, bahan pengisi yang mengandung 50% merkuri secara bertahap. Langkah selanjutnya mempersiapkan penghapusan total produk beracun tersebut.

 

Banyak negara telah menghapus penggunaan amalgam, setidaknya untuk anak-anak dan populasi rentan lainnya. Pada COP4, kawasan Afrika telah mengusulkan amandemen Konvensi Minamata yang secara umum akan menghapus penggunaan amalgam dalam empat langkah. 

 

Sementara itu, Uni Eropa (UE)  mengusulkan amandemen untuk mengakhiri penggunaan amalgam pada anak-anak, wanita hamil dan ibu menyusui, menyelaraskan dengan peraturan UE saat ini.

 

Sebelum pembahasan amalgam gigi pada bagian kedua COP4 dimulai, Sekretariat Konvensi Minamata maupun WHO telah menerbitkan dokumen tentang masalah tersebut.

 

Berdasarkan masukan dari Para Pihak dan pemangku kepentingan lainnya, Sekretariat menyiapkan catatan dengan informasi terkini tentang alternatif bebas merkuri untuk amalgam gigi. 

 

Dinyatakan bahwa tambalan gigi bebas merkuri memiliki sifat mekanik yang memuaskan dan membutuhkan preparasi kavitas yang lebih sedikit daripada komposit. Selain itu, tambalan tersebut sudah banyak digunakan dan ada perbedaan harga dalam merestorasi gigi yang dianggap lebih menguntungkan.

 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporannya Report of the Informal Global WHO Consultation with Policymakers in Dental Public Health (2021) menyimpulkan bahwa, pengurangan bahkan penghapusan penggunaan tambal gigi amalgam dapat direalisasikan, terutama karena alternatif bebas merkuri yang efektif, hemat biaya dan mudah digunakan.

 

Dalam survei yang dilakukan oleh WHO, 14% negara melaporkan bahwa mereka telah sepenuhnya menghapus penggunaan amalgam gigi. Khusus wilayah Eropa dan Amerika, sebanyak dua pertiga negara telah menghapus penggunaan amalgam gigi secara bertahap, atau diperkirakan pada tahun 2025 praktik tersebut akan hilang. 

 

Mempersiapkan penghapusan amalgam secara umum, WHO menambahkan semen ionomer kaca, alternatif bebas merkuri untuk amalgam, ke dalam Daftar Obat Esensial pada Oktober tahun ini.

 

"Kami mendesak semua pihak untuk mempertimbangkan informasi baru yang menegaskan bahwa alternatif tambal gigi bebas merkuri yang efektif, tersedia dengan harga terjangkau," ujar Dr Graeme Munro-Hall, Chief Dental Officer dari Aliansi Dunia untuk Kedokteran Gigi Bebas Merkuri.

 

Aliansi Dunia untuk Kedokteran Gigi Bebas Merkuri merupakan koalisi dari lebih 50 organisasi dari seluruh wilayah yang bekerja untuk mengakhiri penggunaan amalgam. Dr Munro-Hall menambahkan, “Kita harus mengikuti panduan sains dan menghapus amalgam.”

 

Senada dengan itu, Penasihat Senior dari Nexus3 Foundation Indonesia Yuyun Ismawati mengatakan, penghapusan penggunaan amalgam secara bertahap sangat penting bagi negara berkembang, seperti Indonesia yang tidak memiliki infrastruktur untuk mengumpulkan, mengangkut, dan menyimpan limbah merkuri tambal gigi amalgam.

 

“Pencemaran merkuri di lingkungan akan berkurang dan sumber daya kita akan digunakan untuk beralih ke tambal gigi alternatif bebas merkuri yang lebih efektif,” kata Yuyun.

 

Direktur Pusat Kesehatan Lingkungan Asia Siddika Sultana juga mengatakan hal serupa. Penggunaan tambalan gigi bebas merkuri sangat penting untuk kesehatan wanita dan anak-anak yang memang rentan terhadap efek neurotoksik merkuri dari amalgam. "Baik yang ditanamkan di gigi akan mencemari lingkungan mereka," ujarnya.

 

Siddika yang juga Direktur Eksekutif Lingkungan dan Organisasi Pembangunan Sosial-ESDO, Bangladesh, menambahkan, “Para pihak harus maju untuk memutuskan dan menghilangkan merkuri dari amalgam gigi dan produk lain yang disepakati dalam Konvensi Minamata“.

 

Sementara itu, Charles G. Brown, Presiden Aliansi Dunia untuk Kedokteran Gigi Bebas Merkuri, mengumumkan bahwa, "Aliansi Dunia untuk Kedokteran Gigi Bebas Merkuri akan terlibat langsung dengan Para Pihak dan pemangku kepentingan lainnya pada COP 4.2 mendatang yang akan berlangsung di Indonesia pada 21-25 Maret 2022." (Jekson Simanjuntak)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad