02.11.2009 07:46 WIB
Tahun 2010 Blok Cepu Harus Dikelola Pemerintah
Berakhirnya kontrak pengelolaan Blok Cepu di Jawa Tengah pada tahun 2010 mendatang, akan lebih baik jika pengelolaannya diserahkan pada pertamina. Alasannya, negara akan lebih diuntungkan dengan mengelola sendiri blok migas tersebut.
Carut marut pengelolaan Blok tersebut, bermula dari ketidaksiapan negara dalam mengelola sendiri blok yang disebut-sebut memiliki kandungan minyak 600 juta – 1,4 miliar barel dan gas bumi sekitar 1,7 – 2 Triliun kaki kubik. Selain itu, sistem bagi hasil yang diatas kertas cukup menguntungkan, yakni 45% untuk Pertamina, 45% untuk ExxonMobil dan 10% untuk badan usaha milik daerah dengan asumsi untuk harga minyak mentah sama atau di atas 45 dolar AS per barelnya, jadi pembenaran mengapa blok sumber minyak tersebut harus berganti tangan dalam hal pengelolaannya.
Akhirnya, beranjak dari ketidaktransparanan pihak Exxon selama ini, banyak kalangan menginginkan agar kontrak tersebut di kaji ulang. Beruntung, Dirut PT Pertamina (Persero) sebelumnya, Widya Purnama telah memutuskan tidak akan memperpanjang kerjasama dengan ExxonMobil atas blok yang dimiliki oleh Pertamina tersebut.
Pasalnya, keinginan pihak ExxonMobil bertemu dengan Pertamina dan Pemerintah dinilai banyak kalangan sangat meresahkan. Rencana mereka untuk memperpanjang kontrak pengelolaan Blok Cepu dianggap bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam UUD 1945, dimana semua kekayaan alam yang ada di Bumi Indonesia, harusnya dikelola oleh negara demi kesejahteraan rakyat.
Hal senada juga disampaikan oleh analis migas Dirgo Purbo beberapa waktu lalu (www.sinarharapan.co.id/berita/0408/30), berkaitan dengan rencana ExxonMobil yang ingin bertemu dengan Pertamina dan Pemerintah. "Pertamina harus stop kontrak dengan ExxonMobil. Jangan diperpanjang lagi. Seharusnya BUMN ini berani mengembangkan sendiri Blok Cepu tersebut karena sangat strategis bagi Indonesia," tegasnya.
Tahun 2010 diperkirakan konsumsi atau impor BBM Indonesia mencapai dua juta barel per hari, dua kali lebih banyak dibandingkan impor saat ini yang besarnya hanya 1 juta barel/hari. Mengelola sendiri blok migas itu dinilai strategis untuk mengimbangi konsumsi/impor BBM yang meningkat disamping memberikan pemasukan yang sangat signifikan bagi keuangan negara.
Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang ditangguk ExxonMobil, jika mereka sanggup memenuhi kebutuhan tersebut. Meski harga jual yang disepakati memang menguntungkan negara, tetap saja tak ada yang bisa menjamin berapa banyak minyak yang akan mereka salurkan ke tempat lain. “Pasalnya, tidak ada perusahaan yang mau investasi jika tidak untung. Selain itu, yang kerap dirisaukan adalah terkurasnya hasil bumi Indonesia, saat kontrak berakhir. Bukan tidak mungkin, kita tidak akan menghasilkan apa-apa, ketika mereka hengkang”, Lanjut Purbo.
Saat ini, Blok Cepu diperkirakan memiliki cadangan minyak mentah sekitar satu miliar barel. Dengan volume minyak sebesar itu akan sangat membantu memenuhi kebutuhan minyak nasional yang saat ini telah mencapai satu juta barel per hari. Apalagi tahun 2010 impor Indonesia diperkirakan
mencapai dua juta barel per hari.
Sebelumnya, ExxonMobil melalui Communication Manager and Public Affair Deva Rachman,dalam siaran persnya menyatakan, pihak perusahaan asal AS itu berencana bertemu dengan Pertamina dan Pemerintah. Tujuannya untuk mendiskusikan Blok Cepu menyusul pernyataan dari mantan Dirut PT Pertamina yang tidak akan memperpanjang kerjasama dengan ExxonMobil atas blok Cepu.
Pernyataan tersebut membuat pihak ExxonMobil gerah. Mereka masih mengharapkan Pertamina dan Pemerintah mau membuka pintu terkait dengan pembaruan kontrak kerjasama tersebut. Dengan alasan dapat menguntungkan kedua belah pihak, Pihak ExonMobil sedang membahas strategi ke depan yang akan diambil.
Agak jauh memang, jika mengharapkan pada kemampuan Pertamina dalam mengelola Blok Cepu. Pasalnya, kemampuan Pertamina dalam memproduksi minyak mentah hanya berkisar 300 -400 ribu barel per hari. Lebih kecil ketimbang kemampuan kontraktor migas seperti CALTEX atupun ExxonMobil yang sanggup menghisap minyak mentah dalam jumlah besar. Ketersediaan sumberdaya manusia dan teknologi disebut-sebut sebagai faktor pembatas.
Kebijakan Pertamina yang selama ini lebih banyak bermain di sektor hilir dengan marjin keuntungan yang kecil, ditengarai banyak kalangan merupakan salah satu kelemahan. Padahal sektor hulu juga perlu mendapat perhatian. Belum lagi, jika besaran minyak yang Exxon hasilkan tak serta merta bisa diketahui secara pastinya.
Karena itu, Pertamina sebagai BUMN harus berani bermain di sektor hulu dengan memproduksi minyak sebanyak-banyaknya. Untuk itulah pengelolaan Blok Cepu oleh pemerintah dalam hal ini, Pertamina menjadi perlu.
Upaya mengelola Blok Cepu secara mandiri juga dinilai tepat dengan status Pertamina
sebagai Persero yang mencari keuntungan (profit) sebesar-besarnya dan fokus
usaha di sektor hulu atau mencari cadangan minyak sebanyak-banyaknya.
(source photo: http://cepu.files.wordpress.com/2006/08/peta-cepu.jpg)




