09.04.2010 21:11 WIB
Belajar Anti Global Warming Dari "Wak Kaji Kasan"
If you want small changes, then do it your behavior. If you want a big and fundamental change, do it your mindset. Carol S.Dweck, Ph.D 2006 .
Banyak pelajaran yang berharga saat saya “disekolahkan” Allah, pada sekolah alam dengan para aktifis EPW (Enivironment Parliament Watch). Teman-teman aktifis EPW selanjutnya meminta saya sebagai Coordinator Region Jawa. Dimana Indonesia dibagi menjadi lima region. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa-Papua-Bali.
Sayangnya potensi tersebut, gerakan yang pada mulanya difasilitasi Kementerian Lingkungan Hidup RI, ganti Menteri ganti kebijakan. Namun tulisan ini tidak memperpanjang tentang EPW yang melakukan advokasi pada tiga fungsi parlemen (DPR/DPRD) : controling, budgeting, dan lesgeslasi yang pro lingkungan itu. Tulisan ini justru belajar dari yang sederhana, bisa dilakukan oleh seluruh ummat manusia. Dari level rakyat jelata buta aksara, para bapak ibu dan yang muda gaul “minak jingga” (high class) hingga ilmuwan dunia.
Pelajaran itu terambil dari Pakde H.Ali Hasan bin H.Ichsan yang familiar didesa dipanggil Wak Kaji Hasan. Seorang petani desa, buta huruf, yang tidak sempat bersepatu sampai Allah memanggilnya. Begitu bersahaja dan sederhana, namun kesantunannya hingga sebagian pihak melihatnya sebagai seorang aulia. Kesalehannya justru bukan karena kesantikan atau karomah berupa yang mistik-mistik. Namun keistimewaannya, malah bisa sebagai spirit dan gerakan radikal revolusioner penuh kesantunan.
Diantaranya keberaniannya menempatkan manusia yang sangat tinggi tanpa strata. Tentang kesopanan beliau dalam berinteraksi dengan sesama. Kepada anak kecil yang setara cucunyapun, disamping berbahasa “kromo” (jawa:bahasa sopan level tinggi), saat naik sepeda, beliaupun turun dari sepeda karena menghormati anak itu. Subhaanallah, sebuah idola revolusi moral yang terus kami mengajak kampanyekan ini.
Jika menginginkan perubahan kecil, maka garaplah perilaku Anda. Jika menghendaki perubahan besar dan mendasar, garaplah mindset Anda. If you want small changes, then do it your behavior. If you want a big and fundamental change, do it your mindset. Carol S.Dweck, Ph.D 2006. Maka dari mindset, paradigma serta budaya itulah, sebenarnya “core” atau inti dari semua gerakan. Tidak terkecuali dengan permasalahan fital seluruh bangsa didunia milinium ini. Yakni global warming. Efek pemanasan global atau global warming yang berakibat pada climate change (perubahan iklim), sungguh menjadi hantu paling menakutkan bagi seluruh ummat manusia milinium ini. Padahal climate change sebenarnya berpulang pada gudang, gembok, dan kuncinya. Dan gudang, gembok, serta kuncinya itu ada pada manusia sebagai subyek kholifah bumi.
Gudang, gembok, dan kunci baik permasalahan maupun jawaban penyelesaiannya, kembali pada “mindset, paradigma dan budaya” manusia. Bapak Guru Moh.Abdullah Muchtar dalam memberikan instruksi kepada kami para santri beliau : “ganti kasetmu”, dalam setiap resep perubahan perilaku untuk “an akhrij qaumaka minadh dhuluumati ilan nuur”. Pengikut gerakan Rasul : “mengeluarkan kaum dari kegelapan (slum area) menuju kegemilangan dan cahaya terang benderang”. Gold, glory, gospel ! Menuju keemasan dan kejayaan seluruh ummat manusia dibawah Ridlo Allah SWT.
Pelajaran Komunikasi Dengan Flora dan Fauna
Satu paket kegiatan Pakde H. Ali Hasan yang diikuti oleh Guk Matasan, dapat kita ambil sebagai bimbingan dan petunjuk praktis, serta teladan perubahan mindset yang gemilang. Bisa diikuti oleh siapa saja secara sederhana tanpa biaya dan sekarang juga. Sebagai petani tradisional, Pakde H.Ali Hasan adalah pekerja keras dengan penampilan yang sangat bersahaja. Diantara kebersahajaan beliau seperti pada komunitasnya didesa, dari seluruh pakaian yang dipunyai, bajupun tidak lebih dari tiga pasang. Namun mutiara hikmah yang timbul dari “kaset” yang “diprint out” dalam akhlaq pribadinya sungguh luar biasa.
Disamping kesantunan penghormatan kepada manusia yang tanpa memandang strata apapun, termasuk usia, ternyata kepada flora dan fauna (binatang dan tumbuhan) juga memiliki perilaku yang masuk kategori “gila”. Sebuah perilaku “nyleneh” penuh hikmah, inspiratif, sufistik dan dentuman psikologi mindset yang menggetarkan sistem intervensi climate change. Hal ini jika diikuti dan dilakukan dari masing-masing pribadi kita seluruh manusia, sekarang juga.
Pelajaran itu berawal dari Guk Matasan yang diajak menyiram dan menyiang tanaman jagung disawah. Hampir seharian penuh kegiatan ini berlangsung. Saat mau pulang, perjalananpun telah dilakukan. Ditengah perjalanan yang sudah setengah jarak dari sawah kerumah, tiba-tiba Pakde H.Ali Hasan mengajak kembali kesawah. Guk Matasan sang pembantu itupun bertanya: kenapa kita kembali kesawah lagi Wak Kaji ? Sudah ikut aja aku. Jawab Pak H.Ali Hasan singkat. Setiba disawah, Pak H.Ali Hasan bertanya kepada Guk Matasan : “San, kamu masih mau jadi membantu aku atau tidak ? sebagai pembantu kontrak harian dan setiapun menjawab : “inggih, taksih Wak Kaji (jawa: ya masih Pak Haji). “Jadi begini San. Pak H.Ali Hasan meneruskan. “Sejak tadi, si rumput teki yang liar itu terus bilang kepadaku: Kok yang kamu sirami hanya jagungnya, aku kan juga haus dan panas ? apa beda jagung dengan aku”. Begitulah dialog sufistik pribadi, antara Pak H.Ali Hasan dengan si rerumput liar dipematang sawah itu.
Spontan Guk Matasan menimpali: terus maksud Wak Kaji mau apa ? pertanyaan dengan penuh kekhawatiran akan pekerjaan nyeleneh. Spontan Pak H.Ali Hasanpun menjawab: “ya, aku tidak akan pulang sebelum menyiram rerumput liar itu yang telah bicara menggugatku. Aku tidak berani dia menuntutku diakhirat. Apakah Matasan mau membantu aku, atau tidak, silahkan. Aku tetap akan menyirami rumput liar itu seperti aku menyiram tanaman jagung tadi”. Guk Matasan belum sempat bertanya karena terbengong atas peristiwa nyeleneh disiang bolong itu, serta merta Pak H.Ali Hasan turun ke kali ambil air, dan penyiraman kepada rumput liarpun dimulai oleh Pak H.Ali Hasan. Sebagai pembantu, akhirnya Guk Matasanpun mengikuti penyiraman kepada rumput liar itu dengan bergeleng-geleng kegelian dan ketaatan.
Kepada Fauna
Guk Matasan yang sudah geli (iki lho maksudnya apa ? Dalam fikirnya), sambil terus ngikut saja apa yang diajak oleh Wak Kaji, saat pulangpun dibuat terbengong-bengong lagi. Usai menyiram rumput liar yang saat itu belum mengerti maksudnya, ditengah perjalanan pulang kerumah dari sawah, tapi masih dibuat kejutan lagi. Yakni usai capek tak karuan karena perang psikologi dan menyiram rumput liar disawah, saat gontai pulang yang berharap segera sampai dirumah dan istirahat, ditengah jalanpun ada peristiwa “heroik psikologis lagi”. “San kita berhenti ! Begitulah Pakde H.Ali Hasan berujar kepada Guk Matasan. Kenapa ? Guk Matasan tanya menyela. Sambil duduk dipinggir jalan umum antara sawah dan keperkampungan desa, Pak Haji Ali Hasanpun berkata: “San burung didepan ditengah jalan yang kita akan lalui itu, masih belum usai makan ya ? MasyaAllah, kenapa toh Wak Kaji sampen itu. Kita ini kan mau pulang, kenapa kok menonton burung yang setiap hari banyak kita jumpai. Kan hal itu biasa kita temui didesa ini ? Lagi pula kita sudah capek, kan lebih baik istirahat dirumah ? begitulah Guk Matasan penuh beribu pertanyaan yang memang merasa diberi tembakan-tembakan psikologis.
Duduk menunggu antara Pak H.Ali Hasan dan Guk Matasan itupun, diteruskan hingga burung itu usai makan dan terbang bukan karena terganggu. “Sudah San, kita pulang, karena burung itu telah pergi tidak ada dijalan yang akan kita lalui”. Sambil berjalan, menuju pulang, Pak H.Ali Hasanpun curhat kepada Guk Matasan: “Begini San, kalau kita tadi lewat, kan burung itu terganggu dan kabur saat makan. Kasihan dia. Toh makannya burung hanya seberapa ? Sementara kita menunggu dia makan toh memakan waktu sejenak. Kasihan burung yang hanya butuh sedikit makan dari alam, sementara kita yang sudah banyak mengambil dari alam, berlaku arogan dan sewenang-wenang. Yakni mengganggu burung yang sedang makan di alam. Terlalu sadis, pongah dan congkaknya kita ? Begitulah Pak Ha.Ali Hasan mengajak bicara dari hati-kehati, penuh dengan nilai filosofi serta kedalaman nilai persahabatan alam, dan ikhlas tanpa ada pretensi serta mengalir alami. Subhaanallah !
Betapa efektif, agungnya dan sangat efisisennya, jika semua komponen bangsa manusia, mulai segenap institusi dunia yang ada, dan seluruh pribadi-pribadi, mau dan enjoi melakukan revolusi tanpa bosa-basi. Revolusi tanpa menggurui. Revolusi tanpa banyak teori. Revolusi tanpa menipu dan tidak memonopoli. Revolusi tanpa sepihak menghakimi. Revolusi manusiawi dan alami. Revolusi tanpa dusta. Revolusi tanpa sak wasangka. Revolusi tanpa menghina dan tidak membuat pihak lain tercela. Revolusi tanpa menumpahkan darah. Revolusi kasih seorang manusia. Revolusi berani mengaku salah, mengalah dan memberikan maaf kepada yang salah. Revolusi sabar dan berlaku rasional. Revolusi bersahabat dengan alam dan tetap mau menghormati diri manusia yang berbeda dengan binatang. Revolusi untuk kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa depan.
Dan yang utama, revolusi sabar nunggu janji Allah diakhirat penuh dengan kegemilangan serta kepuasan selamanya. Itulah letak keunggulan manusia yang bersahabat dengan flora dan fauna, namun ada demarkasih kasih atas kemuliaan manusia dengan binatang melata. Yakni sejarah kelanjutan hidup setelah mati didunia. Inilah spirit dan keunggulan super milinium development goal yang ada revisi dan solusinya. InsyaAllah pasti, dengan kesungguhan sekarang juga, secara riil dan sederhana, kita mulai anti global warming dengan modifikasi dan adopsi dari pelajaran dari Pak H. Ali tadi. Climate change dan global warming yang menjadi permasalahan ummat mansia milinium ini, dapat ditekan sekarang juga. Jangankan ilegal loging hutan, jangankan memburu binatang, jangankan menyakiti maratabat manusia lain. Kepada orang lain seusia cucunya aja, beliau “berbahasa”, kepada rumput liar aja beliau siraminya, kepada burung liar sedang makanpun beliau beri waktu sampai selesai.
Jangankan berboros energi dan dan berboros sumber daya tak terbarui, sebagai akibat dari global warming saat ini—baju yang dipunyai aja kurang dari memadai—sepatu aja belum pernah punya dan belum pernah memakai sampai Allah memanggilnya. Naik hajipun, masih era naik kapal laut enam bulan. Karena beliau belum pernah naik pesawat terbang, sehingga beliau sampai wafatpun tidak meninggalkan hutang polusi udara yang kita budayakan. Itulah pelajaran anti global warming yang bisa dilakukan sekarang juga secara sederhana. Bismillah ! (Gus Hafidh).




