14.12.2009 06:38 WIB

WWF & Para “Penyelamat” Iklim

Bagikan Digg!
Oleh Siti Maemunah *

International Chamber of Commerce, salah satu yang paling berpengaruh mendorong perusahaan dalam perdagangan internasional dan deregulasi investasi. Lembaga ini pemain digdaya dalam skenario iklim global. Anggotanya termasuk Areva, ExxonMobil, Rio Tinto, Shell and Vattenfall.

Pesan untuk Copenhagen, yang diajukan pada “Bussines day” 11 Desember di COP 15 UNFCCC adalah bahwa bisnis bagian dari jawaban perubahan iklim. Bisnis harusnya menjadi prioritas utama para pemimpin dunia melalui pertumbuhan ekonomi dan perdagangan bebas. Di COP 15 Copenhagen, International Chamber of Commerce datang dengan 136 delegasi termasuk perwakilan Sasol – perusahaan batubara cair asal Afrika selatan dan Monsanto.

***

b. Para Pelobi Industri Bisnis
Corporate Europe Observatory menyediakan informasi siapa saja yang menjadi pelobi bisnis datang di COP 15 di http://www.corporateeurope.org/. Siapa saja mereka dan bagaimana sepak terjangnya. Ini dia.

1. Dewan Iklim Copenhagen (DIC) beranggotakan 30 anggota dewan, umumnya sektor bisnis, termasuk CEO Perusahaan Dong Energy, Duke Energy dan the Virgin Group. Bulan Mei 2009, Dewan ini menjadi tuan rumah resmi World Business Summit on Climate Change, yang diorganisasi UN Global Compact, the World Economic Forum, 3C, the Climate Group dan Pemerintah Denmark.

Pertemuan ini memberi peluang untuk mempengaruhi para perwakilan negara serta delegasi PBB. DKI mendorong pasar karbon global dan menginginkan pasar karbon global dengan kredit karbon untuk hutan. Skema ini memungkinkan mereka melakukan offset emisi dengan membayar pohon untuk tidak ditebang. Hal ini membuka jalan bagi industri perkebunan skala besar menjadi proyek konservasi hutan, yang beresiko mengancam kehidupan warga sekitar hutan serta keragaman hayatinya.


2. 3C – Combat Climate Change diinisiasi perusahaan raksasa energi Swedia - Vattenfall pada 2007 untuk membantu membentuk suatu kesepakatan iklim global. Vattenfall memimiliki 66 anggota perusahaan dari berbagai belahan dunia, termasuk para pencemar kakap seperti British Petroleum, Bayer, Gazprom, E.ON dan StatoilHydro. 3C dipimpin ketua eksekutif Vatenfall: Lars Josefsoon, yang juga penasihat Sekjen PBB Ban Ki Moon untuk isu energi dan perubahan iklim. 3C berhubungan erat dengan kelompok bisnis lainnya seperti Dewan Iklim Copenhagen dan Dewan Bisnis Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan (WBCSD) dan menjadi ketua penyelenggara World Business Summit on Climate Change bulan Mei 2009.

3C melobi untuk terbentuknya sebuah pasar karbon global dan mendorong jawaban teknologi seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage - CCS), energi nuklir dan generasi kedua bahan bakar berbasis tanaman (agrofuel) – “jawaban” yang menghadirkan peluang ekonomi besar untuk anggota-anggotanya.

3. The International Chamber of Commerce (ICC) atau Kamar dagang Internasional. Lembaga ini salah satu yang paling berpengaruh mendorong perusahaan dalam perdagangan internasional dan deregulasi investasi. Lembaga ini pemain digdaya dalam skenario iklim global. Anggotanya termasuk para pencemar utama dunia macam Areva, ExxonMobil, Rio Tinto, Shell and Vattenfall.

ICC mengklaim sebagai suara bisnis global dan memiliki akses pada para pemerintahan nasional dan badan internasional seperti PBB, G8 dan WTO. Satuan kerja ICC mengenai Perubahan Iklim, dipimpin oleh Nick Campbell, pelobi isu-isu kunci seputaran negosiasi iklim PBB. Campbell juga memimpin kelompok kerja perubahan iklim bagi asosiasi industri kimia Eropa (Cefic) dan BusinessEurope.

Pesan keseluruhan ICC untuk Copenhagen, yang akan diajukan pada “Bussines day” 11 Desember di COP 15 UNFCCC adalah bahwa bisnis bagian dari jawaban perubahan iklim. Bisnis harusnya menjadi prioritas utama para pemimpin seluruh dunia melalui pertumbuhan ekonomi dan perdagangan bebas. ICC menginginkan suatu kesepakatan global yang meliputi seluruh pelaku emisi besar dan putaran pasar karbon serta mekanisme berbasis pasar. Sekaligus pendanaan pemerintah untuk teknologi baru seperti CCS. Lembaga ini juga menginginkan perlindungan untuk hak kepemilikian intelektual (IPR), merintangi pengalihan teknologi yang amat diperlukan ke negara berkembang.

Di COP 15 Copenhagen, International Chamber of Commerce datang dengan 136 delegasi termasuk perwakilan Sasol – perusahaan batubara cair asal Afrika selatan dan Monsanto (15).

4. The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). Lembaga ini dipimpin Björn Stigson (juga salah satu anggota Dewan Iklim Copenhagen), WBCSD beranggotakan 200 perusahaan, termasuk Shell, Duke Energy, E.ON, BP dan Rio Tinto.

WBCSD merintis perusahaan-perusahaan re-branding untuk menjawab masalah perubahan iklim, sejak KTT Bumi di Rio de Janeiro, 1992. Sejak itu WBCSD mengembangkan upaya bagaimana para pebisnis “meregulasi diri sendiri” dan menentang standar sosial dan lingkungan yang mengikat secara hukum pada setiap pertemuan penting PBB untuk mematahkan solusi internasional efektif untuk menjawab masalah sosial dan lingkungan global. Sebelumnya, WBCSD telah memimpin keterlibatan perusahaan dalam pembicaraan iklim PBB, bekerja erat dengan ICC. Di Copenhagen, WBCSD mengorganisir satu hari pada 11 Desember untuk “Business Day” berjudul “Leading ACTION". WBCSD mengadvokasi pasar karbon global, kesepakatan sukarela untuk industri, agrofuel, energi nuklir dan CCS, yang mahal dan belum terbukti manfaatnya.

5. The World Economic Forum (WEF) – suatu forum internasional beranggotakan para pemimpin bisnis yang melobi lewat Inisiatif tentang Perubahan Iklim. Anggotanya termasuk BP, Shell dan Vattenfall, serta “para pakar” seperti Henry Derwent, CEO Asosiasi Perdagangan Emisi Internasional (IETA) serta Björn Stigson, Presiden World Business Council for Sustainable Development.

Maret lalu, mereka mengumumkan sebuah kelompok kerja untuk kemakmuran yang Berkarbon-Rendah guna mendorong “suatu pertumbuhan ekonomi tinggi berkarbon rendah”. Mereka mempublikasikan rencana “revolusi bersih” di Pertemuan Perubahan Iklim PBB September 2009, menyerukan penggunaan tenaga nuklir, CCS, skema offset melalui CDM, sebagai bagian penting dalam kesepakatan global yang baru.

WEF terlibat dalam mengorganisasi World Business Summit on Climate Change bulan Mei 2009 di Copenhagen.


6. The UN Global Compact. Dilahirkan sebagai bagian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), UN Global Compact mengklaim sebagai suatu “inisiatif sukarela korporasi dengan anggota terbesar di dunia”. Namun, sifat sukarelanya, rekam jejak mengerikan dari banyak anggotanya, serta jubah legitimasi yang didapat anggotanya karena ikatan mereka dengan PBB telah melahirkan istilah “bluewash”, untuk mengungkap propaganda dibalik program ini.

UN Global Compact kekurangan substansi dan secara umum tak terbukti meningkatkan tanggung jawab korporasi. Inisiatif mereka berjudul Caring for Climate Initiative, diluncurkan 2007, telah didukung 367 korporasi dan akan menyajikan serangkaian laporan pada Pertemuan Bisnis Dunia di Copenhagen. Pertemuan yang mengklaim komitmen sektor bisnis melakukan aksi, namun serupa Global Compact, pertemuan ini kekurangan komitmen dan mekanisme yang mengikat.

UN Global Compact menjadi tuan rumah acara-acara bisnis dengan Dewan Iklim Copenhagen selama COP15 untuk “bersama membawa para pemimpin penting” mendiskusikan aksi tentang iklim. Solusi yang diajukan diantaranya sebuah pasar karbon global dan agrofuel.


7. The Climate Group (CG), dibentuk tahun 2003, membawa pemerintahan dan perusahaan bersama bergabung, termasuk pencemar besar seperti British Petroleum dan Duke Energy. CEO dan pendirinya, Steve Howard memiliki kedekatan dengan perusahaan terdepan serta banyak pemerintahan. Tahun 2008, CG meluncurkan proyek “ Breaking the Climate Deadlock” bersama bekas Perdana Menteri Inggris Tony Blair untuk membuat suatu kesepakatan iklim internasional setelah 2012 yang mempromosikan CCS, energi nuklir dan biomassa sebagai teknologi penting bagi pembangunan ekonomi berkarbon rendah. Climate Group bekerja erat dengan kelompok pelobi bisnis lainnya, termasuk IETA yang telah mendapat nominasi Penghargaan “Angry Mermaid Award” karena usahanya mensabotase aksi iklim.

8. The International Air Transport Association (IATA) merupakan organisasi utama pelobi yang mewakili industri penerbangan internasional. Anggota utamanya adalah perusahaan penerbangan pengangkutan terdepan dunia seperti American Airlines, British Airways, Cathay Pacific, KLM, Lufthansa, Qantas dan United Airlines.

IATA memimpin lobi industri penerbangan dan mengkampanyekan melawan usaha memasukkan sektor penerbangan dalam Skenario Perdagangan Emisi EU (ETS),- salah satu mekanisme kunci Eropa untuk mengurangi emisi. Bulan Juni 2008, ketika negosiasi politik mencapai tahap kritisnya, IATA menghabiskan 80 ribu Euro untuk membuat iklan sehalaman penuh di koran International Herald Tribune. Mereka mendesak para politisi ‘menghentikan rencana menghukum perusahaan penerbangan dan para pelancong dengan ETS yang hanya akan melahirkan kasus-kasus hukum internasional.”

IATA menginginkan emisi yang dihasilkan perusahaan penerbangan diatur Organisasi Sipil Penerbangan Internasional (ICAO), mereka melakukan lobbi untuk itu. IATA tidak menginginkan penerbangan masuk dalam agenda COP15 dan berusaha menghindari diskusi apapun dengan mengumumkan tindakan sukarela untuk memotong emisi pada September 2009. Meskipun demikian, pemotongan yang diajukan amatlah jauh dari harapan.


9. International Emissions Trading Association (IETA) menggambarkan dirinya ssebagai sebuah “organisasi bisnis non profit” yang diciptakan untuk “membuat suatu kerangka perdagangan pengurangan emisi gas rumah kaca”. Dibentuk tahun 1999, IETA memiliki 168 perusahaan sebagai anggota, termasuk korporasi energi raksasa (BP, Shell, Vattenfall), bank, pengacara dan perusahaan perdagangan karbon. Kini, IETA telah menjadi suatu kelompok pusat pelobi dalam perundingan perubahan iklim PBB, bersama delegasi non pemerintah yang terakreditasi di COP 13 Bali maupun COP 14 Poznan.

IETA sangat siap melakukan lobi pembicaraan dalam perundingan COP 15 di Copenhagen dengan 66 kegiatan yang telah dijadwalkan. IETA mengamankan akses berharganya berupa kedekatan dengan para pembuat kebijakan melalui para staf dan anggotanya. Presiden IETA, Henry Derwent, sebelumnya memimpin isu perubahan iklim internasional di pemerintahan Inggris.

IETA datang ke Copenhagen dengan tujuan mendorong pasar global gas rumah kaca, suatu mekanisme yang memungkinkan perusahaan dan pemerintah membeli dan menjual hak mencemari. Kunci pasar ini adalah CDM, yang memungkinkan pemerintah dan industri di negara kaya mengklaim telah membuat pengurangan karbon lewat “pembangunan yang bersih” di dunia berkembang (offsetting). CDM telah dikritik karena terus memungkinkan negara kaya tidak mengurangi emisi domestiknya. Bukti kuat lainnya, beberapa proyek CDM menciptakan masalah sosial dan lingkungan yang serius di negara berkembang. Meski CDM gagal mengurangi emisi global, IETA terus mengklaim CDM berhasil.

10. Carbon Markets and Investors Association (CMIA) merupakan lembaga yang beranggotakan investor paling berpengaruh di pasar karbon. Mereka mendorog suatu pasar karbon yang kuat dan berpartisipasi dalam negosiasi internasional, juga debat kebijakan nasional.


11. Project Development Forum (PDF) diluncurkan bulan November 2008 oleh sekelompok korporasi yang khusus menghasilkan laba dengan menyiapkan proyek carbon offset dan lobby untuk membuat CDM “lebih efisien melalui dialog yang maju”.



12. International Petroleum Industry Environmental Conservation Association (IPIECA). Asosiasi yang menjadi saluran resmi industri minyak dan gas di PBB. Fokus kelompok kerja perubahan iklimnya adalah Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC) dan UNFCCC. Sementara ini, mereka mencari kesempatan untuk menampilkan gambaran industri yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Entah gambar yang mana, mengingat anggota mereka adalah pencemar dunia termasuk BP, Chevron, ConocoPhillips, ExxonMobil, Repsol dan Shell adalah pelaku polusi perubahan iklim terbesar dan telah melakukan lobi melawan tindakan efektif pencegahan polusi selama puluhan tahun.

13. Carbon Capture and Storage Association (CCS)Association. Asosiasi ini mewakili seluruh pemain penting dalam proyek CCS, termasuk perusahaan pengekstraksi bahan bakar fosil, energi, keuangan, serta manufaktur di tingkat internasional, termasuk Shell, BP, Vattenfall, Alstom dan ConocoPhillips.

CCS hampir tidak mungkin diterapkan secara penuh sebelum 2020 atau bahkan sebelum 2030. Industri CCS telah melobi Uni eropa melalui kelompok pebisnis Platform Zero Emission dan di Amerika Serikat dengan mempromosikan CCS sebagai jawaban perubahan iklim, dan merampok dana publik untuk pengembangannya. Tujuan utama mereka di Copenhagen adalah memasukkan CCS dalam CDM.(16)


14. BIO atau Biotechnology Industry Organization merupakan organsisasi payung pelobi untuk industri bioteknologi dengan lebih 1.200 anggota di seluruh dunia termasuk Syngenta, Monsanto, Dow and Tate & Lyle, serta kelompok pelobi bioteknologi lainnya seperti EuropaBio dan AfricaBio.


BIO mengklaim teknologi dapat membantu memecahkan perubahan iklim. BIO menginginkan akses pada pasar karbon sehingga anggotanya dapat mengambil keuntungan dari perdagangan karbon. Dokumen strategi BIO untuk Copenhagen yang bocor ke publik menunjukkan bagaimana akses mereka terhadap subsidi-iklim untuk produk bioteknologi, menangkis ancaman pada hak kepemilikan intelektual (termasuk meningkatkan biaya –transfer teknologi ke negara berkembang) dan menghilangkan pesan “salah” mengenai produk yang dimodifikasi gen-nya. Kegiatan BIO di COP 15 copenhagen menjadi delegasi yang melobi hak kepemilikan intelektual, modifikasi Gen serta pertanian.


15. Industri Kelapa Sawit: World Growth dan MPOC. Mengklaim dirinya sebagai “lembaga Swadaya Masyarakat”, World Growth yang dipimpin mantan diplomat asal Australia -Alan Oxley, meluncurkan kampanye tandingan melawan kampanye lingkungan yang menolak perluasan kelapa sawit.

Oxley bekerja untuk perusahaan raksasa kayu dan kelapa sawit Malaysia bernama Rimbunan Hijau. Pesan World Growth adalah “Industri kelapa sawit tidak menghancurkan keragaman hayati hutan negara-negara berkembang” dan “Industri kelapa sawit memiliki dampak positif terhadap reduksi gas rumah kaca. Dan kelapa sawit menyimpan karbon (carbon sink) yang efektif. Kinerjanya lebih unggul daripada spesies hutan lain yang sudah ada. ”Salah seorang pendiri World Growth adalah Henrik Rasmussen, putra mantan Perdana Menteri Denmark - Anders Fogh Rasmussen. Dua orang konsultan Humas Denmark berbasis di Brussels: Jens Thomsen dan Peter Munch-Madsen dari Impact, merupakan delegasi World Growth.

Kampanye World Growth amatlah mirip kampanye Dewan Kelapa Sawit Malaysia (MPOC) untuk mengajukan kelapa sawit sebagai upaya berkelanjutan. MPOC mempekerjakan perusahaan humas Gplus di Brussels untuk menangkis kriteria keberlanjutan agrofuels.


16. Croplife. Croplife merupakan asosiasi industri pestisida dan benih hasil modifikasi gen meliputi BASF, Bayer CropScience, Dow dan Monsanto. Mereka medorong tanaman pangan yang dimodifikasi gen-nya sebagai produk “ramah-iklim”.

Croplife melobi pembuatan regulasi iklim Amerika Serikat melalui kelompok Alpine. Mereka juga menggunakan platform Farmers First untuk mengklaim bekerja untuk kepentingan petani dan iklim (www.farmersfirst.org). Target Croplife untuk COP15 menghindari target nyata pengurangan emisi dari sektor perkebunan. Alih-alih, mereka bahkan menginginkan suatu sistem kredit karbon sukarela yag memungkinkan kredit offset melalui perkebunan skala besar.

17. International Biochar Initiative (IBI). Lembaga ini kendaraan utama pelobi biochar – arang untuk menyimpan karbon di tanah. IBI mewakili Biochar Engineering (US), Carbon Gold (UK), Crucible Carbon (Australia), Mantira Industries (US), Carbon Zero (Switzerland) dan Carbonscale (New Zealand). IBI mengklaim arang (yang diproduksi dengan membakar pohon) dapat berfungsi sebagai “soil improver” atau penyubur tanah, namun mendapat kritikan keras karena beresiko mendorong perluasan besar-besaran monokultur pohon.

IBI juga melobi Konvensi PBB untuk Memerangi Deforestasi (UNCCD) dan 14 pemerintahan, membujuk mereka untuk memasukkan biochar dalam CDM. IBI juga menginginkan biochar masuk dalam skenario perdagangan karbon seperti Skema Perdagangan Emisi Eropa.


18. World Nuclear Association (WNA). Asosiasi yang mewakili 180 perusahaan yang terlibat dalam industri nuklir termasuk Westinghouse, Areva, EoN, Vattenfall, Atomstroyexport, Mitsubishi, Deutsche Bank dan Ernst&Young.

Mereka menggunakan perubahan iklim sebagai kendaraan untuk memenangkan dukungan politik dan keuangan. Meksipun ditentang meluas oleh masyarakat, industri ini berharap membangun sekitar 400 hingga 700 reaktor baru selama 20 tahun ke depan. DI Copenhagen, WNA melobi agar pembangkit listrik nuklir berhak mendapat dukungan keuangan, termasuk melalui CDM.

19. The World Steel Association. Asosiasi ini mewakili 180 produsen baja, asosiasi regional dan nasional baja serta insitut penelitian baja. Markas mereka Brussels, ibukota Uni Eropa dan juga memiliki kantor di Beijing.


World steel menyatakan perubahan iklim merupakan isu terbesar yang dihadapi industri baja global di abad ke-21 dan mereka telah meluncurkan website tentang perubahan iklim. Worldsteel berargumentasi bahwa baja “amatlah penting dalam pertumbuhan ekonomi” dan tidak hannya bisa jadi jawaban, namun sektor ini juga perlu berkembang untuk memenuhi permintaan global.

Menurut IPCC, perusahaan baja bertanggung jawab untuk 6 hingga7 persen emisi gas rumah kaca global, Worldsteel mengutip angka ini sebesar 3 hingga 4 persen.

Worldsteel mendorong “pendekatan sektoral” untuk pengurangan emisi di Kopnehagen – dengan target yang ditetapkan industri bisa diterapkan oleh seluruh industri baja.

Baca lanjutannya: Siapa Pelobi Negara-negara Industri

Sumber Pustaka:
15. http://www.corporateeurope.org/climate-and-energy/blog/helen/2009/12/12/counting-lobbyists

* Penulis adalah aktivis lingkungan di Jatam dan CSF.